SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Tidak banyak yang tahu, kalau kue Balok yang selama ini dikenal dari daerah Babakan, Kecamatan Cikedal, ternyata aslinya berasal dari Kecamatan Menes. Berada tak jauh dari perempatan Ciputri, di Jalan Raya Labuan – Pandeglang. Warung balok legendaris itu, diberi nama Warung Kue Balok Menes Ibu Sawati.
Lalu siapakah Ibu Sawati ? sang cucu yaitu Ibu Jum’iah, yang saat ini mengelola warung tersebut menceritakan bahwa neneknya semula tidak berjualan kue balok.
Namun, kondisi Indonesia saat itu yang berada dalam masa penjajahan Belanda, membuat harga bahan pangan melejit dan terjadi kesulitan pangan.
“Saat itu, rakyat di sini nggak kebeli beras, jadi kita makan singkong. Tapi kan bosen ya, soalnya singkongnya paling direbus. Karena, minyak goreng juga susah dan mahal, karena jarang yang bikin minyak kaletik (minyak kelapa),” tutur Jum’iah.
Menyiasati hal itu, neneknya yaitu Ibu Sawati tak hilang akal. Singkong rebus yang biasanya dimakan begitu saja, ditumbuk agak lama hingga menjadi adonan yang super lembut dan kalis, sehingga mudah dibentuk.
Untuk menumbuk singkong, digunakanlah alat bernama lisung atau lumpang. Karena, merupakan pekerjaan berat maka yang menumbuk singkong biasanya adalah lelaki.
Baca Juga: Sidak WP, DPRD Pandeglang Canangkan Revisi Perda Pajak Daerah
Agar lebih cepat lembut, ada minimal 2 orang yang menumbuk singkong dan satu orang lagi merapikan adonan, agar tetap berada di lubang lesung dan tidak berceceran.
Setelah singkong menjadi lembut, langkah selanjutnya adalah, membentuk adonan singkong tadi menjadi bentuk pipih memanjang.
Di bagian tengahnya, kemudian diisi dengan serundeng kelapa. Setelah itu, adonan dilipat dan dibentuk ulang seperti balok kayu pengganjal rel kereta api.
“Bentuk balok kayu itu, terinspirasi karena lokasi tempat berjualan Ibu Sawati di daerah Ciputri tersebut, letaknya tidak jauh dari eks Stasiun Menes. Bahkan, relnya pun hanya terletak di seberang warungnya saja,” tambahnya.
Sebagai informasi, serundeng yang menjadi isian dari kue Balok Menes adalah, serundeng yang secara umum sudah dipakai sebagai isian dari kue tradisional khas Pandeglang lainnya yaitu, kikiping atau lemper isi serundeng.
Proses pembuatan serundeng isian kue balok ini juga tidak mudah, karena si pembuat harus pandai memilih kelapa yang benar-benar pas usianya. Tujuannya, agar hasil serundengnya halus dan sedikit berminyak.
Baca Juga: UPT Puskesmas Bojong Pandeglang Bahas Kesehatan Masyarakat
Kelapa yang sudah dipilih itu, kemudian diparut dan ampas parutannya dicampur sedikit gula merah, garam, dan beberapa rempah agar lebih gurih.
Setelah itu, disangrai di atas wajan hingga parutan kelapa tersebut menjadi berubah warna menjadi kecoklatan. Proses itu belum selesai karena setelah keluar minyaknya, kemudian ditumbuk agar teksturnya menjadi lebih halus dan lebih enak, dan keluar sedikit minyak saat dimakan.
Agar semakin lezat, adonan singkong berbentuk balok dan sudah diisi dengan serundeng itu, kemudian dilumuri dengan minyak bawang merah. Sehingga, rasanya menjadi lebih gurih. Untuk memudahkan dimakan, adonan singkong berbentuk balok itu kemudian dipotong-potong sehingga mudah dimasukkan ke mulut.
Inovasi Ibu Sawati itu, disambut baik oleh masyarakat. Bahkan banyak diantara mereka yang meniru kue buatannya tersebut. Namun karena dikenal sebagai pionir pencipta Kue Balok, warungnya tetap ramai hingga saat ini bertahan hingga tiga generasi.
“Jadi ya setelah Ibu Ende (nenek) Sawati meninggal, warung kue balok diteruskan oleh ibu saya Zaenab. Setelah Ibu meninggal, usaha ini diteruskan oleh saya sampai sekarang,” tuturnya.
Dia berharap, kue balok Menes sebagai salah satu kue tradisional khas Pandeglang, tidak punah.
Soalnya, saat ini agak jarang anak muda yang membeli makanan ringan berbahan dasar singkong tersebut.
Para pelanggannya kebanyakan adalah orang dewasa, dan para turis yang penasaran dengan rasa kue Balok.
Selain itu, para perantau juga banyak yang membeli kue balok Ibu Sawati sebagai oleh-oleh.
Kata Jum’iah, kue buatannya tidak cepat basi walaupun dibawa ke tempat yang jauh seperti Jakarta, Bogor, Bandung bahkan pernah ada yang membawa sampai ke Riau.
Salah satu rahasianya adalah, menggunakan peralatan yang bersih saat menumbuk singkong, serta membentuk adonan di atas upih atau pelepah pinang yang sudah dikeringkan. Upih ini tidak bisa diganti dengan benda lainnya, karena zat dari upih itu dipercaya mengawetkan kue balok.
“Selain pakai upih atau pelepah pinang, saat membentuknya, di bungkusnya juga nggak boleh pakai plastik, tapi harus pakai daun pisang,” tandasnya.
Syabil, seorang pengunjung warung kue balok ibu Sawati mengaku, kagum dengan proses pembuatan kue tradisional tersebut yang mirip sekali dengan pembuatan kue mochi di Jepang, walaupun hasil akhirnya mirip sekali dengan kue getuk di Jawa Tengah.
“Seru banget, karena kalau ke warung ini kita bisa melihat proses penumbukan singkong di bagian belakang warung. Keren, seperti proses penumbukan adonan kue mochi di Jepang. Ada aba-abanya gitu, biar orang yang bertugas merapikan adonan tidak tertumbuk tangannya,” kata Syabil, sambil mengatakan kue balok rasanya sangat gurih, dan karena adonannya lembut maka mudah dinikmati oleh seluruh kalangan usia. (mardiana)
























