SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Dua siswa putri yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) menjadi korban penculikan dan pencabulan di Kota Tangerang Selatan. Kedua korban mengalami peristiwa memilukan itu pada waktu yang berbeda.
Kasus itu diungkapkan Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Tangsel, Tri Purwanto, Rabu (5/9). Tri menjelaskan dalam dua kasus penculikan dan pencabulan itu masing-masing pelaku beraksi seorang diri. Modus mereka dengan membawa paksa korban ketika pulang sekolah. Kata Tri, kedua korban merupakan anak perempuan yang masih duduk di kelas dua dan tiga.
“Kejadian itu terpisah di awal Agustus dan akhir Agustus kemarin. Kejadian pertama di SDN wilayah Kedaung dan yang kedua di wilayah Jombang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (4/9).
Tri menuturkan, pelaku dalam melancarkan aksinya menggunakan sepeda motor. Dimana, pelaku mengatakan hal bohong kepada anak bahwa salah satu keluarnya mengalami kecelakaan. Sehingga, korban menurutinya.
“Awalnya si anak ini pulang sekolah, nah itu sudah ada orang (pelaku-red) yang nunggu di depan sekolahan dan menginfokan salah satu keluarganya ada yang kecelakaan. Makanya dia mau dianter, jadi itu hanya modus,” papar Tri.
Setelah itu, lanjut Tri, korban dibawa ke suatu tempat yang tidak diketahui korbannya. Saat itulah pelaku melakukan tindakan bejatnya tersebut, dengan mencabuli korbannya.
Baca Juga: Dua Padel di Tangsel Beroperasi tanpa Izin, Fraksi PSI Desak Satpol PP Tegas
“Jadi dijemput tapi balik lagi sekitar jam 21.00 WIB ke sekolah. Jadi ada kekerasan seksual, pelecehan. Saat itu ada korban yang dibius, dan ada yang tidak tahu. Ada yang dibius, tahu-tahu dia bangun dalam keadaan telanjang,” ungkap Tri.
Tri menduga, terduga pelaku membawa korbannya ke arah Pamulang.
“Ada salah satu (korban-red) yang tahu arahnya, cuma lokasinya gak tahu tepatnya. Ke arah Pamulang. Ketahuannya setelah anak bercerita,” jelas Tri.
Akibat kejadian tersebut, kedua anak perempuan itu mengalami trauma berat. Bahkan salah satu anak sampai saat ini belum sekolah kembali lantaran trauma. Akan tetapi, kata Tri, pihaknya terus memantau kondisi psikis anak.
“Anak ini yang satu belum sekolah lagi, yang satunya sudah bersekolah. Yang tidak sekolah itu kasus pertama. Kita juga udah konseling psikologi cuma kita belum tau hasilnya tadi baru BPA yang kedua,” ucapnya.
Tri menyampaikan bahwa kedua kasus itu masih bergulir di Mapolres Tangerang Selatan. Sembari proses hukum berjalan, penyembuhan terhadap korban terus difokuskan.
Baca Juga: Deretan Kios di Pondok Aren Terbakar, Kerugian Rp1,5 Miliar
“Pendampingan yang kita lakukan itu mulai dari BAP nya sudah selesai, yang pertama hasilnya juga kita sudah dapet, tinggal pemulihan saja buat si korban. Sampai nanti kembali sekolah lagi, perlu dukungan dari keluarga. Jjustru ini kita lagi nyari pelakunya itu. Pelakunya lengkap pakai masker topi menggunakan sepeda motor. Dua pelaku itu sendiri naik motor,” ungkap dia.
Tante salah korban, SH mengatakan, keponakannya tersebut diculik dan disekap di dalam ruko. Hal tersebut diketahui setelah korban berani bercerita.
“Yang menculik masih muda. Kata keponakan saya gitu. Dia dibawa ke daerah Cireundeu. Dibawa ke dalam ruko dan disekap,” ujar SH dikutip Rabu (4/9).
Berdasarkan ceritanya tersebut, lanjut SH, selain ponakannya ada anak-anak lainnya yang diduga menjadi korban perbuatan bejat pelaku. SH menyebut, kejadian tersebut membuat keponakannya trauma.
“Di dalam ruko itu ada tiga anak termasuk keponakan saya,” imbuhnya. (eko/rmn)
