SATELITNEWS.COM, SERANG – Bila anda berkunjung ke Kawasan Banten Lama, ada salah satu objek wisata yang tak boleh dilewatkan. Terletak di dalam komplek Benteng Spellwijk objek wisata itu bernama Kerkoff atau kuburan orang Eropa.
Keberadaan kuburan bagi orang – orng Eropa di Kawasan Banten Lama, bermula dari berdirinya Kesultanan Banten. Saat itu, Banten sebagai kesultanan yang memiliki potensi rempah-rempah bernilai tinggi yaitu merica atau lada, rupanya menarik perhatian VOC.
Maka, demi menguasai merica dan Banten, VOC menghembuskan isu dan memanas-manasi hubungan kekeluargaan di keluarga Kesultanan Banten, yang ujungnya berakhir pada kudeta yang konon katanya dilakukan oleh putra dari Sultan Ageng Tirtayasa yaitu, Pangeran Ratu Abdul Nasr Abdul Kahhar atau kondang dengan sebutan Pangeran Haji di kalangan masyarakat Banten.
Siasat politik ini, tentu hanya bisa dilakukan bila Belanda dalam hal ini VOC berdomisili di Banten.
Dalam perjalanannya, ada banyak orang Eropa yang meninggal di Banten. Tak mungkin dibawa ke Eropa, untuk dikebumikan, akhirnya yang meninggal dimakamkan di Banten. Oleh Sultan, kalangan Eropa diberi lahan pemakaman di dekat Benteng Spellwijk yang kemudian diberi nama Kerkhoff.
Secara bahasa, Kerkhoff berasal dari gabungan dua kata dalam Bahasa Belanda yaitu kerk yang berarti gereja dan hoff adalah halaman.
Baca Juga: Penyempitan Sungai Sebabkan Banjir di Kawasan Banten Lama
Hal ini, disebabkan karena dulu, orang Belanda menguburkan sanak keluarganya di halaman gereja. Tapi lama-lama, arti kata ini berubah menjadi makam.
Diantara batu nisan di Kerkhoff, ada yang ukurannya paling besar. Itu milik seorang Komandan VOC bernama Hugo Pieter Faure yang lahir 27 Desember 1717 atau 1718,dan meninggal pada Minggu, 5 September 1763.
Tak banyak yang bisa dikorek tentang Hugo Pieter, karena tak banyak dokumen yang menceritakannya. Ia pertama kali, jadi petugas VOC pada 7 Oktober 1739 dan langsung ditugaskan ke Hindia Belanda tepatnya ke Batavia. Maka ia menumpang kapal Loverendaal, yang berlayar dari Belanda menuju Batavia melewati Tanjung Harapan. Kapal itu tiba di Sunda Kelapa Batavia, pada Jumat, 27 Mei 1740.
Setelah dari Batavia, Hugo tiba di Banten. Tak diketahui, bagaimana ia bekerja selama di Banten, karena yang ditemukan hanya catatan kematiannya pada Senin, 5 September 1763 atau sekira 8734 hari sejak ia bertugas di Asia.
Bila dihubungkan dengan data tentang wabah, kematian komandan muda Hugo, terjadi karena ada wabah penyakit pes atau sampar yang saat itu melanda sebagian besar Pulau Jawa termasuk Banten.
Selain Hugo Pieter, makam lainnya di area Kerkhoff merupakan makam Jacob Wits, pegawai pajak dan pembelian (Kopman en Fiscaal Deserbezeting) yang wafat 9 Maret 1769 dan makam Catharina Maria van Doorn.
Baca Juga: Gedung DPRD Banten Kini Mirip Kesultanan Kenari di Era Sultan Abul Mafakhir
Sayang, kini, dari sejumlah makam itu yang dipertahankan nisannya hanyalah yang terbesar saja. Sementara yang lainnya, sudah menghilang.
Sehingga tak banyak juga pengunjung Benteng Spellwijk yang ngeh bahwa makam – makam itu bukti keberadaan orang Eropa di tanah jawara. (mardiana)




























