SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperuntukkan bagi siswa di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali diberikan setelah sempat libur pada awal Ramadan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tangsel melibatkan UMKM untuk menggarap menu selama Ramadan.
Kepala SPPG Tangsel Nindy Sabrina menjelaskan pihaknya melibatkan UMKM dalam menyiapkan menu selama Ramadan.
Dimana, menu yang didominasi oleh makanan kemasan. Bahkan, pihaknya juga berkerjasama dengan salah satu UMKM yang memproduksi kue kukis berbahan dasar daun kelor.
“Kalau misalnya yang kayak telur-telur tetap kita pakai UMKM. Kita banyak supplier baru kan, kayak roti, tapi tetap di sekitar sini-sini aja. Kalau yang basah sama, cuman kalau ada yang roti-roti, kayak kukis-kukis, kita kan pakai kukis daun kelor juga, kita juga pakai UMKM,” jelasnya.
“Di luar biasanya mereka mungkin bikinnya kukis coklat, kukis kacang, cuman kita mau menekankan kebutuhan kalsium anak-anak jadi kita request, minta kukis tepungnya pakai daun kelor,” sambungnya.
Nindy menyampaikan, menu yang diberikan tetap bervariatif agar siswa tidak merasa bosan. Menu itu diantaranya susu UHT, buah jeruk, kurma, roti sosis keju, roti selai, pisang, telur puyuh, dan sereal.
Setidaknya, lanjut Nindy, saat ini terdata sekitar 2.889 siswa yang dinaungi program MBG dari dapur badan gizi nasional (BGN) di Jalan Promoter, Kecamatan Serpong Utara yang tersebar pada sepuluh sekolah.
Nindi mengungkapkan ada perubahan menu MBG selama Ramadan. Selain itu distribusi makanan pun dilakukan menggunakan kantong yang harus dikembalikan setelah dibawa pulang. Sehingga, pada hari selanjutnya siswa dapat menukarnya dengan kantong baru berisi makanan.
“Jadi kalau sistem di kami itu, ada dua totebag yang kita sediakan. Jadi hari pertama kita kasih makanan, yang ada isinya makanan. Di hari kedua, mereka mengembalikan totebag yang sebelumnya, nanti kita kasih yang baru lagi, gitu terus nanti kita review lagi,” ucapnya.
Sejauh ini, kata dia, para siswa cukup tertib mengikuti aturan yang ada untuk mengembalikannya. Kantong tidak sekali pakai dipilih guna mengurangi penggunaan plastik.
Kata Nindy, jika sebelumnya harus dilakukan pendataan soal anak yang alergi makanan yang dimasak. Kini pihaknya tidak perlu mendata di tiap sekolah.
“Kalau ini gak ada, jadi kalau misalnya ada alergi, berarti item tertentu itu gak usah dimakan. Karena kan cukup terpisah ya, beda kalau kayak di ompreng kan jadi satu tuh,” bebernya. (eko)