SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung marah besar alias mengamuk, terkait terjadinya kebocoran dalam sistem informasi Bank DKI yang sempat menyebabkan gangguan layanan bank milik Pemda Jakarta itu. Dia mengambil tindakan berupa pencopotan direksi dan pergantian orang di internal Bank DKI, hingga melaporkan kasus ini ke bareskrim.
Pramono mencurigai adanya unsur kesengajaan dalam insiden ini, dan mengindikasikan kemungkinan keterlibatan pihak internal. Karenanya, salah satu instruksi Pramono adalah memerintahkan pergantian seluruh personel yang memiliki akses ke sistem informasi bank.
“Semua yang punya password dan komputer di departemen itu saya minta diganti. Orang-orang baru akan dipilih langsung oleh Direktur Utama saat ini,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Jakarta, Rabu (9/4).
“Ini bukan kejadian pertama. Sudah tiga kali terjadi. Masalahnya berulang karena sistem IT tidak dikelola dengan baik,” katanya lagi.
Pramono juga telah mencopot Direktur Teknologi dan Operasional Bank DKI, Amirul Wicaksono, dari jabatannya sebagai bentuk penegakan disiplin. “Direktur IT diberhentikan karena ini kejadian ketiga. Jabatan itu sementara dirangkap oleh Direktur Umum, mulai berlaku kemarin,” tegasnya.
Tak hanya itu, Pramono juga telah memutuskan untuk melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri. “Terus terang ada kebocoran. Jumlah angkanya yang tahu direksi Bank DKI,” kata dia.
Dalam upaya pemulihan dan pencegahan kejadian serupa, Pramono menyatakan bahwa pihaknya telah menunjuk lembaga audit internasional independen untuk melakukan pelacakan dan pengawasan menyeluruh terhadap sistem Bank DKI.
“Kami sudah meminta kepada lembaga independen yang internasional. Nanti biar disebutkan oleh Direksi Bank DKI untuk melakukan audit, tracing, monitoring ke mana saja (dana mengalir),” ujarnya.
Ia juga menekankan agar seluruh jajaran Pemprov DKI tidak ikut campur dalam penanganan kasus ini. “Tidak boleh ada satu pun dari internal pemerintah daerah ikut cawe-cawe. Saya ingin masyarakat yakin bahwa kami melayani mereka dengan jujur dan transparan,” jelasnya.
Pramono menegaskan kejadian ini harus menjadi yang terakhir. Apalagi, dia berharap Bank DKI bisa segaera melangkah ke pasar saham. “Saya targetkan Bank DKI IPO. Kalau bisa diselesaikan dalam enam bulan,” tambahnya.
Meski terjadi gangguan, Pramono menegaskan bahwa tidak ada dampak langsung kepada nasabah. “Gangguan hanya terjadi pada rekening Bank DKI yang ada di Bank BNI. Tidak ada gangguan untuk rekening nasabah umum,” katanya.
Pramono menjelaskan bahwa dana yang terdampak dalam gangguan ini merupakan dana deposito atau dana cadangan milik Bank DKI, bukan berasal dari anggaran bantuan sosial. “Dana yang terdampak adalah dana deposito atau cadangan yang dimiliki oleh Bank DKI,” jelasnya.
Namun, ia mengakui ada hambatan dalam pencairan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP). Ia telah mengambil tindakan dengan memanggil Kepala Dinas Pendidikan serta menghubungi Dirut Bank DKI untuk mempercepat proses pencairan. “Saya minta minggu ini KJP sudah cair. Ini penting untuk keluarga yang bergantung pada dana tersebut demi pendidikan anak-anak mereka,” ujarnya.
Direktur Utama Bank DKI, Agus Haryoto Widodo, dalam pernyataan resminya menjelaskan bahwa gangguan pada 29 Maret 2025 terjadi akibat sistem keamanan internal yang secara otomatis mengaktifkan fitur pemulihan selama libur Lebaran.
Menurutnya, sistem pengamanan tersebut memang dirancang untuk melindungi stabilitas layanan dan transaksi nasabah. Namun, efeknya menyebabkan pembatasan sementara pada layanan lintas jaringan seperti ATM bersama, transfer antarbank, dan pembayaran QRIS.
Ia menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Selain itu, menegaskan bahwa Bank DKI berkomitmen menyelesaikan seluruh permasalahan yang muncul dengan cepat dan transparan.
“Sejak awal gangguan, tim teknis dan operasional langsung bergerak selama 24 jam penuh untuk pemulihan dan menjaga layanan utama tetap berjalan,” kata Agus.
Saat ini, Bank DKI mengoperasikan lebih dari 750 mesin ATM di lokasi strategis, mulai dari kantor kelurahan, kecamatan, stasiun, terminal, hingga pusat perbelanjaan di Jakarta dan sekitarnya. Jaringan ATM ini juga tersebar di beberapa kota besar lainnya seperti Bandung, Semarang, Solo, Sidoarjo, Gresik, dan Lampung. (rmg/san)