SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi para siswa belum merata di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Hingga saat ini setidaknya baru ada enam dapur yang tersebar di lima kecamatan untuk menyajikan makanan setiap harinya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Deden Deni mengklaim bahwa pihaknya tengah mencari lahan yang nantinya dipersiapkan untuk membangun dapur serupa.
“Sudah 6 dapur, di Serpong ada 2 dapur. Lalu Ciputat Timur, Pemulang, Ciputat, Pondok Aren. Tinggal Setu dan Serpong Utara. Setu dan Serpong Utara kami sedang mencari lahan untuk pendirian dapur,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (20/4).
Deden menuturkan, walaupun kewenangannya masih di bawah Badan Gizi Nasional (BGN), pihaknya memiliki tanggungjawab untuk melakukan pemetaan mulai dari lokasi dapur hingga penerimaan manfaatnya yakni siswa yang dekat dengan ketentuan.
“Kami juga sambil memberikan data juga, misalnya potensi-potensi lahan yang dimungkinkan dibangun dapur umum, itu juga kami sampaikan ke BGN. Selain kan ada mekanisme lain yang bisa dengan pihak ketiga,” jelasnya.
Ketika ditanya soal pemerataan pendirian dapur MBG untuk tahun ini, Deden mengaku belum bisa memastikannya. Apalagi, lanjut dia, belum diketahui pasti kapan semua siswa di Tangsel bisa merasakan program besutan Presiden Prabowo Subianto ini.
Baca Juga: Antisipasi Polemik SPMB 2026/2027, Dindikbud Tangsel Komitmen Transparan, dan Akuntabel
“Ini kan semuanya di BGN kewenangannya. Kita koordinasi memberikan informasi data penerimaan manfaat. Yang jelas setiap saat kami koordinasi untuk peningkatan penerimaan manfaat makan bergizi gratis,” katanya.
Deden menjelaskan, idealnya untuk setiap dapur menangani sekitar 3.000 sampai 3.500 siswa. Sehingga, lanjut dia, setidaknya dibutuhkan 70 lebih dapur MBG di kota berjuluk anggrek.
“Kalau idealnya satu dapur kapasitas 3.000 jadi kurang lebih butuh sekitar 70 dapur, itu belum kita hitung dengan yang SMA. Kalau kita hitung sesuai dengan kewenangam TK, PAUD, SD, SMP itu kurang lebih 300 ribu siswa. Jadi seiring lakukan kita sudah ada dapur-dapur yang nambah kapasitas,” paparnya.
“(Idealnya) ya tergantung sebaran sekolah. hitungannya itu saja mungkin ada satu dapur minimal 3.000 atau 3.500 tinggal di bagi saja per sekolah. Harapan kami minimal per kecamatan sudah ada pelayanan makan bergizi gratis,” sambungnya.
Deden menyebut, pemetaan lokasi dapur tidak hanya menyoal wilayah itu belum mendapatkan manfaat program ini, tetapi penentuan lokasi juga merujuk pada wilayah yang padat sehingga jumlah siswanya jauh lebih banyak.
“Ya yang padat tentu kan di beberapa kecamatan kayak di Pamulang, Ciputat, Pondok Aren. Kami sudah memberikan informasi ini, pemetaan sampai di kecamatan A ada beberapa sekolah sampai ke titik kelurahannya. Jadi untuk memudahkan di mana ideal titik dapur untuk melayani itu sudah kami sampaikan datanya,” ungkapnya.
Baca Juga: Pengawasan MBG Diperketat, Baru 15 SPPG di Tangsel Punya SLHS
Deden menambahkan, program yang sudah berjalan sejak Senin (6/1/2025) ini diklaim tidak ada kendala, baik secara kualitas makanan maupun pendistribusian di lapangan.
“Alhamdulillah sejauh ini tidak ada masalah, tidak ada komplain. Artinya secara keseluruhan lancar, tidak ada masalah. Kita tinggal mendorong penambahan dapur supaya lebih merata penerimaan manfaatnya. Karena jumlah siswa yang kurang lebih 300 sekian ribu itu,” pungkas Deden. (eko)
