SATELITNEWS.COM, LEBAK—Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bukan akhir dari segalanya. Sebab jika mau berusaha dan memiliki tekad serta semangat yang kuat siapa pun dapat berpeluang untuk sukses.
Seperti yang dialami Jupri (54), seorang mantan buruh pabrik warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Ia justru sukses membuka usaha mabel di samping rumah dengan omzet belasan juta rupiah perbulan usai di-PHK.
Meski sempat terpuruk usai di PHK dari perusahaan tempatnya bekerja pada 2022, namun ujian itu tak membuatnya patah arang dalam mencari jalan lain untuk mencari nafkah demi menghidupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Di tempat berukuran 3×4 meter yang berada tepat di samping rumahnya itu, hampir setiap hari suara mesin serut dan gergaji terdengar menderu saat ia memotong bahan kayu untuk dijadikan berbagi peralatan rumah tangga seperti kursi, meja, lemari, rak hingga yang lainnya.
“Jadi istilahnya mungkin kalau dikatakan sebuah keterpaksaan ya keterpaksaan mungkin ya. Sebab, saat itu awalnya sempat bingung juga harus ngapain saya ini, karena umur sudah tua nah saya inisiatif bahwa saya sedikit punya kemampuan dalam bidang perajin kayu,”tuturnya, saat di temui di kediaman nya, Minggu (4/5/2025).
Jupri mengungkapkan, sebelumnya ia tidak pernah mengira akan kehilangan pekerjaan di tempat dirinya bekerja, namun pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia kala itu membuat perusahaannya kolaps, hingga akhirnya pria berjenggot tebal itu terpaksa harus menelan pil pahit, lantaran karirnya di industri percetakan harus pupus hingga berakhir dengan pemecatan.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Bekali Ahli Waris dengan Pelatihan Wirausaha
“Dulu saya karyawan di sebuah pabrik percetakan di wilayah Cikande-Serang Banten, cuma karena efek Covid-19 pada waktu itu kalau nggak salah tahun 2022, perusahaan terkena dampak Covid-19 sehingga harus mem PHK kan sebagian karyawan nya termasuk saya yang kena PHK waktu itu,” ungkapnya.
Dengan tekad dan ketekunannya, Jupri kini berhasil mengembangkan bisnis mebelnya hingga berpenghasilan mencapai belasan juta rupiah dalam satu bulan. Meskipun pemasaranny masih menggunakan media tradisional yakni melalui mulut ke mulut.
“Pemasarannya itu ya kadang- kadang saya kalau punya rekanan yang kira-kira di situ ada diperlukan suatu dari kayu ya saya tawarkan. Alhamdulillah juga banyak yang mau. Alhamdulillah dari mulut ke mulut ya karena memang sistem megang HP agak kurang lihai, ditambah di medsos juga kurang bisa, makanya dari mulut ke mulut aja pak,” tuturnya.
Jupri mengatakan, untuk harga jual satuannya bervariasi, mulai dari harga Rp 200 ribu hingga Rp 1.500.000. sementara untuk bahan kayunya terhadap membeli atau hanya sekadar jual jasa (bahan material dari calon pembeli).
“Harganya jual sendiri bervariasi pak, dari yang termurah itu di kisaran Rp 200 ribu, seperti kursi, kemudian meja ya kurang lebih harganya sama, ya dari harga yang terkecil Rp 200 ribuan sampai harga yang tertinggi misalnya lemari itu sekitar 1 juta 100 ribu rupiah,”tuturnya.
Dirinya menambahkan, meski penghasilan nya tidak sebanding pada saat dirinya bekerja di pabrik, tetapi dirinya mengaku bersyukur lantaran masih bisa menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Baca Juga: MERIAH!! Ribuan Siswa SMK Pustek Serpong Banjiri ‘Pustek Fest 2026’
“Kalau dari sisi penghasilan bulanan kalau jadi karyawan itu kan gaji tetap kita. Sedangkan usaha ini yang namanya dari sisi penghasilan kadang ada kadang engga, jadi dari sisi penghasilan memang lebih banyak kerja di pabrik, tapi dari sisi ketenangan waktu terus terang ini jauh lebih baik,”tandasnya.(mulyana)
























