SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Kasus keracunan massal akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bogor terus bertambah, dengan total 223 siswa terdampak. Pemerintah menanggung seluruh biaya pengobatan, sementara hasil uji laboratorium mengungkap adanya bakteri E. coli dan Salmonella dalam makanan yang dikonsumsi.
Deputi Bidang Sistem Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan para korban akan ditanggung negara. Pihaknya telah bekerja sama dengan puskesmas dan fasilitas kesehatan setempat untuk memastikan para siswa mendapatkan perawatan optimal tanpa beban biaya.
“Korban diberikan asuransi untuk membayar biaya kesehatannya dan kami bekerja sama dengan puskesmas menanggung seluruh biaya pengobatan itu,” ujar Tigor dalam keterangan tertulis, Selasa (13/5).
Lebih lanjut, BGN juga telah melakukan uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kasus keracunan ini dan memberikan teguran keras kepada Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Tak hanya itu, pelatihan ulang akan diberikan kepada seluruh pegawai SPPG, khususnya bagian penjamah makanan, untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
“Kalau ada indikasi bahan makanan tidak segar atau ditemukan kejanggalan dari pihak pemasok, kami tidak akan segan untuk memutus kerja sama dengan supplier tersebut,” tegas Tigor.
Di Bogor, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Nowo Retno mengatakan bahwa jumlah siswa yang mengalami keracunan mengalami peningkatan dari 210 menjadi 223 orang. Angka ini berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi dari 13 sekolah terdampak. Sejumlah 45 siswa dirawat inap, 49 lainnya menjalani rawat jalan, dan sisanya sebanyak 129 orang mengalami gejala ringan.
“Dinas Kesehatan terus berkoordinasi dengan sekolah-sekolah terdampak dan rumah sakit untuk memastikan penanganan dilakukan secara optimal,” ungkap Sri.
Sebagai langkah antisipasi, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) sejak Jumat (9/5). Keputusan ini diambil agar siswa yang terindikasi mengalami gejala keracunan dapat segera mengakses layanan kesehatan tanpa khawatir soal biaya.
Berdasarkan hasil uji sampel makanan yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Bogor, ditemukan bahwa dua jenis bakteri penyebab utama keracunan adalah Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella. Bakteri ini ditemukan pada menu telur ceplok berbumbu barbeque serta tumis toge dan tahu yang disajikan dalam paket MBG.
“Bakteri ini muncul dari ceplok telor yang dipakai bumbu barbeque. Kemudian ada juga tumis toge dan tahu yang terindikasi mengandung Salmonella,” kata Wali Kota Dedie Rachim dalam jumpa pers, Senin (12/5).
Ia menjelaskan bahwa uji laboratorium dilakukan terhadap sisa makanan yang dikonsumsi para siswa. Sampel yang diuji meliputi nasi, telur, tahu, toge, serta beberapa bahan lainnya yang tersisa setelah kejadian.
Kasus keracunan ini pertama kali mencuat pada Rabu (7/5), ketika 36 siswa Sekolah Bosowa Bina Insani mengalami gejala mual, muntah, dan diare setelah menyantap menu MBG. Seiring waktu, jumlah korban terus bertambah hingga akhirnya Pemkot Bogor menetapkan status KLB dan melibatkan lintas sektor dalam proses penanganan.
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi sistem penyediaan makanan bergizi gratis yang selama ini digadang sebagai upaya menekan angka kekurangan gizi dan stunting di kalangan pelajar. Tigor menegaskan bahwa ke depan, BGN akan lebih ketat dalam pengawasan kualitas bahan makanan serta memperbaiki mekanisme kontrol internal di setiap dapur penyedia MBG.
“Kami sedang menyusun standar operasional prosedur baru yang lebih ketat. Semua pihak terkait, mulai dari penyuplai hingga penjamah makanan, harus bekerja sesuai dengan protokol kesehatan pangan,” ujarnya. (rmg/san)