SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Maraknya pedagang liar di pinggir Jalan Raya Cisoka membuat pedagang Pasar Tradisional Cisoka menjerit. Tidak adanya penertiban dari pihak terkait menyebabkan pengunjung pasar menurun drastis, hingga berdampak besar terhadap omzet pedagang.
Hendra, pedagang sayur mayur di Pasar Tradisional Cisoka, mengungkapkan pendapatannya kini turun hingga 60 persen per bulan. Ia menyebut sepinya pasar dipicu masih beroperasinya pasar penampungan dan pedagang liar di tepi jalan.
“Karena pasar penampungan yang ada di pinggir jalan masih buka. Maka Pasar Tradisional Cisoka masih terbilang sepi, pendapatan terus merosot,” ujar Hendra kepada Satelit News, Kamis (15/5).
Ia pun meminta Pemerintah Kabupaten Tangerang dan PD Pasar segera bertindak tegas terhadap pedagang liar yang masih bertahan di luar pasar. Padahal, banyak kios di dalam pasar yang belum terisi.
“Kan kesepakatannya setelah Pasar Cisoka dibangun, para pedagang di pasar penampungan pindah. Tapi justru masih bertahan dan makin banyak. Pemerintah Kabupaten dan PD Pasar harus bertindak tegas,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan Saribudi, pedagang ikan. Menurutnya, dagangannya sering kali tidak habis terjual karena minimnya pembeli.
Baca Juga: Sambut HUT ke-394 Kabupaten Tangerang, EcoSuLe Siap Tebar 10.000 Liter Eco Enzyme di Sungai
“Jualan ikan masih sepi aja, bahkan tidak pernah habis sampai busuk. Itu karena banyak masyarakat yang belanjanya di pinggir jalan dan di penampungan,” kata Saribudi.
Ia khawatir jika kondisi ini terus dibiarkan, Pasar Cisoka akan semakin ditinggalkan.
“Kalau terus dibiarkan ya lama-lama pedagang kabur ninggalin pasar,” lanjutnya.
Ketua Paguyuban Pasar Cisoka, Nana, mencatat sedikitnya 100 dari total 400 pedagang sudah gulung tikar. Ia menyebut para pembeli lebih nyaman berbelanja di pasar penampungan karena akses lebih mudah dan bebas biaya parkir.
“Yang utama kendalanya itu karena ada pasar penampungan. Karena para pembeli merasa nyaman belanja di sana, jadi tidak mau pindah ke dalam pasar,” jelasnya.
Padahal, menurut Nana, Pasar Cisoka sudah bagus dan bersih pascarevitalisasi serta cukup menampung seluruh pedagang. Sebaliknya, pedagang di pasar penampungan justru dibebani sewa Rp1,5 juta per bulan plus salar harian.
Baca Juga: Pelaku Pelecehan di Cipondoh Tak Kunjung Tertangkap, Keseriusan Polisi Dipertanyakan
Nana menambahkan, keluhan ini telah beberapa kali disampaikan ke Camat Cisoka. Namun, hingga kini belum ada tindakan tegas, dengan alasan lahan pasar penampungan merupakan milik pribadi.
“Pasar penampungan sempat ditutup oleh pemerintah, tapi dibongkar lagi. Camat Cisoka juga sudah mengetahui persoalan ini. Jawabannya, pasar itu masih kuat karena alasan tanah pribadi,” pungkasnya. (alfian/aditya)





















