SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Tabuhan genderang bertalu-talu diiringi sorak sorai penonton memecah suasana Jumat (29/5/2025) pagi. Di atas air yang tenang, deretan perahu panjang bermotif naga bergerak serempak, mendayung cepat bagaikan irama jantung kota yang berdenyut kencang oleh semangat warisan leluhur.
Inilah Festival Peh Cun, tradisi turun-temurun masyarakat Cina Benteng yang tak hanya menyambung sejarah, tapi juga membangun harmoni budaya di tengah kota yang terus tumbuh.
Setiap tahun, tepat pada tanggal 5 bulan ke-5 dalam penanggalan Imlek—biasanya jatuh pada akhir Mei atau awal Juni—kawasan Sukajadi, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, disulap menjadi panggung budaya yang semarak.
Festival ini dikenal dengan nama Peh Cun, singkatan dari istilah Hokkian Pe Leng Cun atau Pe Liong Cun yang berarti “mendayung perahu naga”. Tradisi ini diyakini telah berlangsung lebih dari 2300 tahun, bermula dari zaman Dinasti Zhou di Tiongkok.
Sejarah Peh Cun berakar pada kisah heroik Qu Yuan (Koet Guan / Khut Peng), seorang penyair dan negarawan patriotik dari Kerajaan Chu yang hidup pada 340–278 SM. Dalam legenda, Qu Yuan yang kecewa karena pengkhianatan di istana memutuskan mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Bek Lo.
Rakyat yang mencintainya pun berbondong-bondong mendayung perahu untuk mencarinya sambil menaburkan nasi agar ikan tidak memakan jasadnya. Dari situlah lahir tradisi mendayung perahu naga dan menyajikan bakcang sebagai simbol penghormatan dan solidaritas.
Baca Juga: Aktivis Peduli Sungai di Tangerang Tolak Wacana Rusun di Atas Sungai, Sebut Ide Konyol
Kini, semangat itu hidup kembali di aliran Sungai Cisadane. Menurut tokoh masyarakat Tionghoa Tangerang, Thomas Sugiarto, Peh Cun sudah dirayakan di Kota Tangerang sejak tahun 1910, setelah sebelumnya berpindah dari Jakarta karena kondisi sungai di ibu kota yang semakin dangkal. Cisadane, dengan lebar dan kedalamannya, dianggap cocok untuk menggelar lomba perahu dan berbagai ritual air lainnya.
“Tempat ini bukan hanya memiliki sejarah panjang, tapi juga menyimpan makna spiritual. Sungai adalah simbol penghubung dunia manusia dan alam, serta menjadi saksi bisu perjalanan budaya Cina Benteng sejak zaman kolonial,” ujar Thomas saat ditemui di Vihara Koet Goan Bio, salah satu pusat kegiatan festival.
Salah satu peninggalan budaya yang paling sakral dalam festival ini adalah perahu Petjoen—perahu papak tua yang usianya sudah lebih dari satu abad. Menurut catatan lisan yang dijaga turun-temurun, perahu ini pertama kali ditemukan oleh nenek moyang Thomas di aliran Sungai Cisadane, dalam kondisi terdampar dan rusak.
“Perahu itu ditemukan oleh nenek buyut saya, lalu disimpan bersama benda-benda keramat lainnya di tempat ibadah Lim Tian Tiang, di Jalan Imam Bonjol 55,” kata Thomas.
Pada tahun 1912, pengurus vihara tertua di Tangerang, Boen Tek Bio, membuat replika perahu papak berwarna merah sebagai bentuk penghormatan terhadap perahu asli yang sudah rapuh.
Meskipun mengalami beberapa perbaikan, bentuk dan struktur dasar perahu ini tidak pernah diubah. Hanya ornamen kepala dan ekor naga dari lempengan besi yang ditambahkan untuk memperkuat karakter simboliknya.
Baca Juga: Air Sungai Cisadane Hitam, BPBD Kota Tangerang Minta Warga Waspada
Perahu ini tidak sekadar artefak. Setiap tahun, perahu Petjoen dimandikan dalam sebuah ritual spiritual yang dilaksanakan tepat pukul 00.00 WIB pada puncak festival. Masyarakat percaya, pemandian ini adalah bentuk penyucian dan penghormatan terhadap leluhur.
“Perahu ini bukan benda mati. Ia saksi sejarah dan penjaga budaya. Dengan merawatnya, kami merawat jiwa komunitas kami sendiri,” ucap Thomas dengan penuh keyakinan.
Festival Peh Cun tahun 2025 digelar sejak 27 hingga 31 Mei. Sepanjang lima hari itu, kawasan Vihara Koet Goan Bio dipenuhi oleh bazar UMKM, pertunjukan seni, hingga ritual spiritual yang melibatkan warga lintas etnis dan usia.
Berikut jadwal kegiatan utama:
27–31 Mei : Bazar UMKM menampilkan produk lokal dari pengrajin, kuliner khas Tionghoa, dan kerajinan budaya Betawi.
28 Mei : Atraksi Liong dan Barongsai, tarian naga dan singa yang melambangkan keberuntungan dan pengusiran roh jahat.
29 Mei : Pertunjukan Gambang Kromong, perpaduan alat musik Tionghoa dan Betawi, menggambarkan akulturasi budaya yang harmonis.
30 Mei, pukul 00.00 WIB : Ritual pemandian perahu Petjoen, inti dari festival yang penuh simbolisme.
31 Mei : Tarian Lenong sebagai penutup, seni panggung tradisional yang mengundang gelak tawa dan refleksi sosial.
Festival ini tidak hanya jadi ajang nostalgia, tetapi juga sarana edukasi lintas generasi. “Saya datang bersama keluarga, dan ini pertama kalinya melihat ritual Petjoen secara langsung. Acaranya sangat unik dan membuat saya lebih mengenal budaya Tionghoa,” ujar Rico Wijaya, pengunjung asal Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang.
Identitas “Cina Benteng” sendiri memiliki sejarah panjang di Tangerang. Nama ini muncul karena komunitas Tionghoa di daerah ini dahulu tinggal di sekitar Benteng VOC Batavia, sehingga disebut “Orang Cina Benteng”. Mereka telah berabad-abad berbaur dengan masyarakat lokal, khususnya Betawi dan Sunda, serta mempertahankan tradisi leluhur sambil beradaptasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
Festival Peh Cun adalah cermin dari akulturasi tersebut. Dalam satu panggung yang sama, kita bisa menyaksikan budaya Tionghoa, Betawi, hingga modernitas perkotaan saling berpadu tanpa kehilangan jati diri.
“Ini bukan hanya milik etnis Tionghoa, tapi sudah jadi milik kita semua sebagai warga Tangerang. Festival ini memperlihatkan bahwa keberagaman bisa jadi kekuatan,” kata Fitri Handayani, guru sekolah dasar yang membawa murid-muridnya menyaksikan acara.
Kehadiran komunitas lintas agama dan etnis dalam setiap festival menunjukkan semangat inklusivitas yang kuat. Bahkan, ritual-ritual yang dilakukan tetap terbuka dan disaksikan publik, tanpa eksklusivitas berlebihan.
Meski penuh semangat, pelestarian tradisi seperti Peh Cun juga menghadapi tantangan. Urbanisasi cepat, komersialisasi budaya, hingga minimnya dokumentasi sejarah menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan.
“Kami berharap dukungan lebih dari pemerintah kota maupun pusat untuk menjadikan Peh Cun sebagai warisan budaya tak benda yang dilindungi. Ini bisa jadi potensi wisata budaya yang besar sekaligus sarana pendidikan karakter,” ujar Thomas.
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi penggiat budaya. Anak-anak muda Cina Benteng kini banyak yang hidup di luar kota, bekerja atau sekolah, sehingga keterlibatan mereka dalam festival menurun.
“Makanya kami libatkan anak muda di kepanitiaan, media sosial, hingga pertunjukan seni, supaya mereka merasa terlibat dan punya tanggung jawab,” tambahnya.
Di tengah modernisasi, tradisi Peh Cun berdiri seperti arus tenang Sungai Cisadane: mengalir namun tak pernah putus. Setiap kayuhan dayung, setiap alunan musik, dan setiap lilin yang dinyalakan adalah bentuk perlawanan terhadap lupa. Sebuah pengingat bahwa identitas tidak hanya dibentuk oleh masa kini, tetapi juga diwariskan dari masa lalu yang dijaga bersama.
Festival Peh Cun di Tangerang bukan sekadar ritual budaya, tetapi bentuk nyata dari hidupnya sejarah dalam denyut kota. Ia bukan nostalgia, melainkan komitmen. Komitmen untuk terus mendayung—seperti naga di atas air—menuju masa depan yang tetap berakar pada nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, dan kebanggaan akan jati diri. (mg01)
























