SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Hujan deras mengguyur Kota Tangerang Selatan (Tangsel) selama dua hingga tiga jam pada suatu malam pekan lalu. Bagi sebagian warga, itu adalah malam penuh kecemasan. Air perlahan masuk ke rumah, genangan menutupi jalanan, dan aktivitas pun lumpuh. Namun bagi Ketua Fraksi PSI DPRD Tangsel, Alex Prabu, hujan deras itu justru menjadi “ujian alam” yang membuka mata semua pihak.
“Saya bersyukur ada hujan yang begitu lebat pada waktu itu, karena hujan ini menjadi ujian titik banjir di Tangsel apakah masih ada atau tidak. Ternyata dengan hujan 2 sampai 3 jam masih banyak titik yang harus segera diselesaikan pemerintah kota dalam hal ini Dinas SDABMBK,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (1/6).
Pendapat itu mungkin terdengar tak biasa. Namun bagi Alex, inilah realita yang harus dihadapi Pemerintah Kota Tangsel. Ujian dari langit itu telah mengungkap pekerjaan rumah (PR) besar yang belum terselesaikan. Kata dia, penanganan banjir yang menyeluruh dan tepat sasaran harus segera dilakukan.
“Jadi artinya pemerintah kota masih punya PR untuk menyelesaikan atau mengurangi titik banjir yang kemarin. DSDABMK harus melihat dari titik kemarin mana saja yang bisa segera ditanggulangi,” kata pria yang juga merupakan anggota Komisi I DPRD Tangsel itu.
Sejumlah proyek penanganan banjir telah dilakukan Pemerintah Kota Tangsel dalam dua tahun terakhir, mulai dari perbaikan drainase hingga pembangunan saluran baru. Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap proyek-proyek penanganan banjir yang telah dilakukan dalam dua tahun terakhir ini. Namun Alex menantang pemerintah untuk tidak hanya puas dengan laporan progres semata.
Menurut Alex, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (DSDABMBK) harus segera melakukan evaluasi teknis dan pemetaan terbaru terhadap titik-titik banjir. Data itu penting untuk menjadi dasar penyusunan blueprint penanganan banjir jangka panjang, yang tidak hanya responsif tetapi juga strategis.
Baca Juga: Jurnalis Asal Tangsel Hilang di Kawasan GAK, Ketua RT Berharap Ditemukan Selamat
Alex menegaskan, tanpa pemetaan yang komprehensif, penganggaran untuk penanganan banjir berisiko tidak tepat sasaran. Ia mendorong agar pemerintah mulai menyusun peta penanganan banjir untuk tahun-tahun mendatang, termasuk rencana penganggaran hingga 2026 atau bahkan 2027. Dengan begitu, Tangsel bisa benar-benar bergerak menuju status kota layak huni, bukan sekadar slogan kosong.
“Buatlah blueprint peta-peta mana yang harus ditangani sehingga bisa danggarkan pada 2026, 2027-an seterusnya untuk menuju kota layak huni,” jelasnya.
Terakhir, Alex menuturkan bahwa perencanaan yang matang akan membuat anggaran penanganan banjir benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama mereka yang selama ini terdampak banjir.
“Evaluasi menyeluruh apakah hasil pekerjaan penanganan banjir selama ini, sudah efektif atau belum. Kalo belum analisis tuh, sehingga ke depan program penanganan jauh lebih baik. Sehingga anggaran tepat sasaran dan memang betul-betul dirasakan masyarakat yang terdampak,” pungkasnya.
Sebagai informasi, beberapa bulan kebelakang, kota berjuluk anggrek mengalami serangkaian peristiwa banjir hingga berdampak bagi ribuan kepala keluarga. Yang terbaru terjadi pada, Kamis (29/5/2025) malam. Banjir yang terdampak terhadap 1.501 KK ini tersebar di 16 titik, dan disebabkan oleh curah hujan tinggi disertai meluapnya saluran drainase. (eko)























