SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Puncak musim kemarau di Pulau Jawa mengalami pergeseran ke waktu yang lebih awal. Di saat yang sama, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi dilanda hujan lebat dan angin kencang selama pertengahan Juni ini.
Direktur Informasi Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, mengungkapkan bahwa perubahan waktu puncak musim kemarau ditemukan setelah pemutakhiran data yang dilakukan pada Mei 2025, menggantikan prediksi awal berbasis kondisi iklim Februari.
“Pergeseran ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, termasuk suplai uap air yang masih cukup tinggi ke wilayah Indonesia,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (10/6).
Berdasarkan pembaruan tersebut, awal musim kemarau di wilayah Jawa yang sebelumnya diprediksi terjadi pada dasarian III April hingga dasarian I Mei, kini bergeser menjadi dasarian III Mei hingga dasarian I Juni. Perubahan ini paling mencolok terjadi di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.
“Di Jawa, puncaknya justru diprediksi lebih awal dibanding rata-rata periode 30 tahun terakhir. Durasi musim kemarau juga cenderung lebih pendek, serupa dengan wilayah Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara,” lanjut Fachri.
Meskipun wilayah lain di luar Jawa sebagian besar akan tetap mengalami puncak kemarau sesuai pola normal, BMKG mengingatkan perlunya penyesuaian strategi mitigasi di sektor-sektor rentan seperti pertanian dan pengelolaan air.
“Ini penting untuk mengantisipasi potensi dampak kekeringan dan menjaga ketahanan pangan nasional,” tegas Fachri.
Namun, kondisi atmosfer yang dinamis membuat situasi cuaca di Indonesia tetap kompleks. Dalam prakiraan cuaca mingguan periode 10–16 Juni 2025, BMKG menyatakan bahwa sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami hujan lebat disertai petir dan angin kencang, meskipun sebagian wilayah telah memasuki awal musim kemarau.
Fenomena atmosfer aktif seperti gelombang Kelvin, gelombang Rossby ekuator, serta pengaruh bibit siklon tropis 92W dan sirkulasi siklonik, diperkirakan memicu terbentuknya awan konvektif di berbagai wilayah. “Kondisi ini, ditambah labilitas atmosfer lokal dan topografi wilayah, memperkuat kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, terutama pada siang hingga sore hari,” jelas BMKG dalam pernyataan resminya di laman www.bmkg.go.id.
Indeks Monsun Australia yang mulai menguat pada pekan kedua Juni juga menunjukkan aliran udara kering dari Australia mulai masuk ke wilayah selatan Indonesia. Hal ini mengindikasikan perluasan wilayah yang memasuki musim kemarau, meskipun hujan lokal tetap bisa terjadi akibat dinamika tropis yang belum stabil.
Dengan dinamika atmosfer yang belum stabil, BMKG meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang mungkin datang tiba-tiba. Peringatan ini ditujukan tidak hanya bagi sektor pertanian dan nelayan, tetapi juga untuk pemerintah daerah agar bersiap melakukan langkah mitigasi bencana cuaca.
“Cuaca di wilayah tropis sangat dinamis, dan dampaknya bisa cepat dirasakan masyarakat jika tidak diantisipasi dengan tepat,” tutup Fachri. (rmg/san)