SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Seorang anak laki-laki berinisial N (15), yang kerap terlihat berjualan risol di kawasan Griya Pamulang Extension, Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh ibunya. Dugaan ini mencuat setelah seorang warga bernama Abizar mengunggah video dan kronologi kondisi mengenaskan N di media sosial.
Kisah memilukan ini berawal saat Noval mendatangi rumah Abizar pada Jumat (13/6/2025) sekitar pukul 13.00 WIB. Dalam kondisi tertatih-tatih, bocah yang diperkirakan berusia 11 hingga 13 tahun itu menunjukkan luka di kedua kakinya.
“Dia kondisi datang kayak sakit, tertatih tatih, terus awalnya dia dateng bukan mau minta minum, obat luka, dia tunjukin, susah payah sampai lutut. Saya lihat di betis ada luka koreng tapi bulat kayak rokok, ada tiga,” ujarnya saat dimintai keterangan, Selasa (17/6).
Saat itu, Abizar memberikan perban dan obat luka seadanya. N pun sempat meminta beras. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa hubungannya dengan sang ibu sudah “putus”. Namun, tak lama kemudian, sosok perempuan yang diakui sebagai ibu tirinya justru muncul dan menunjukkan perilaku tak biasa.
“Dia datang dan seperti yang terlihat di video yang saya unggah, langsung bilang, ‘jangan dikasih makan anak saya’. Saya kaget, harusnya bilang terima kasih, tapi ini malah begitu, cuma setelah saya masuk rumah jadi kepikiran terus ya udahlah nggak bisa dibiarin sama orang tua akhirnya saya posting biar viral,” ungkapnya.
Abizar pun beberapa kali sempat menanyakan soal munculnya luka-luka yang dialami N. Tetapi, N terdiam seribu bahasa tanpa memberikan jawaban berbanding terbalik jika diajak bicara soal topik yang berbeda. Abizar memang mengenalnya lantaran hampir setiap hari berjualan.
“Dia gak cerita saya udah tanya berkali-kali tapi diam aja. Memang gitu, ngomong gak jelas, kalau gak gitu, dia diam aja,” katanya.
Kata Abizar, bocah tersebut diketahui sering berjualan risol keliling. Risol yang dijajakan dibuat oleh ibunya, dan N yang bertugas menjual. Namun menurut keterangan warga, makanan tersebut sudah tidak layak konsumsi karena diduga disimpan terlalu lama. Beberapa warga bahkan enggan membeli atau memakan risol itu karena rasanya sudah tidak enak.
“Sebenernya N ini sudah bertahun-tahun sudah jualan risol. Ibunya masak dia yang jual, cuma karena risol mungkin sudah berhari-hari gak laku, jadi gak enak, jadi kalau orang beli gak laku. Saya dikasih juga gak mau, pas saya makan rasanya gak enak, jadi saya kasih uang aja, kebetulan karena sering ngobrol sama saya, jadi suka minta minum, minta makan,” paparnya.
Abizar yang telah tinggal di lingkungan tersebut selama lebih dari 10 tahun, mengaku mengenal N sejak sekitar 3 tahun lalu. Setelah postingan itu viral di sejumah media sosial, beberapa netizen pun memberikan komentarnya sesuai dengan narasi yang dibangun oleh Abizar lantaran pernah melihat yang bersangkutan. Banyak juga netizen memberikan kalimat geram sembari mentag akun @kpai.official.
Abizar juga menyebutkan, pasca unggahan diakun @jabodetabek24info itu viral, pihak kepolisian dan Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan setempat menghubungi Abizar akan lokasi tinggal anak tersebut. N pun sudah tidak terlihat berjualan sejak pertemuan terakhirnya.
Setelah mendapatkan perhatian publik, akhirnya diketahui bahwa N tinggal di wilayah Kecamatan Ciputat. Hal tersebut pun dibenarkan oleh Kapolsek Ciputat Timur, Kompol Bambang Askar Sodiq. Kata dia, pihaknya bersama dengan UPTD Perlindungan Anak dan Perempuan Tangsel telah mendatangi tempat tinggal N pada, Senin (16/6).
“Menidaklanjuti kejadian viral di instagram tentang dugaan tindak pidana penganiayaan atau kekerasan terhadap anak, Tim Opsnal Reskrim Polsek Ciputat Timur mendatangi rumah korban dan bertemu dengan ibu dan kakak korban, selanjutnya petugas memberikan imbauan dan menasehati kepada ibu korban untuk tidak melakukan kekerasan atau penganiayaan terhadap anak dan mencukupi kebutuhannya,” bebernya.
Setelah mendatangi tempat tinggal N, akhirnya diketahui bahwa seorang wanita yang dinarasikan dalam medsos sebagai ibu rupanya ibu kandung N berinisial LH (46). Pihak kepolisian dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak pun memberikan pemahaman kepada LH dan kakak N yaitu MD. LH memang keras dan sering meledak-ledak memarahi anaknya.
“Keterangan dari LH benar ibu korban mengakui melakukan kekerasan terhadap korban,” katanya. (eko)