SATELITNEWS.COM, LEBAK—Digitalisasi aktivitas belanja secara perlahan namun pasti menggerus eksistensi para pedagang pakaian yang berjualan secara langsung atau konvesional. Fenomena itu pun dirasakan oleh pedagang pakaian di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Lebak.
Para pedagang mengaku mengalami penurunan omzet secara signifikan sejak munculnya sistem belanja daring. Salah satunya dirasakan pedagang pakaian di kios Pasar Sampay, Kecamatan Warungunung, Husen.
Katanya, sejak munculnya platform belanja daring, tokonya sepi pembeli. Termasuk ketika menjelang tahun ajaran baru 2025-2026 seperti saat ini. Kondisi itu diperburuk oleh turunnya daya beli masyarakat. “Disebabkan oleh dua hal, yaitu rendahnya daya beli masyarakat secara langsung dan persaingan ketat daring,” kata Husen, Rabu (2/7/2025).
Perkembangan teknologi menghadirkan banyak aplikasi yang memudahkan masyarakat untuk berbelanja dari jarak jauh. Namun, di sisi lain ternyata hal ini berimbas pada menurunnya omzet pedagang di pasar tradisional Sampay seiring berkurangnya pengunjung.
Sejumlah toko penyedia seragam sekolah tidak merasakan adanya aktivitas jual beli yang ramai. Bahkan para pedagang lebih banyak hanya duduk-duduk santai di depan toko. Padahal biasanya setiap memasuki tahun ajaran baru, kata para pedagang para orang tua sudah ramai berdatangan untuk mencari perlengkapan sekolah untuk anak-anaknya. Namun tahun ini sangat jauh berbeda, bahkan sampai menjelang siang pun para pedagang tampak masih sepi pembeli meski tetap ada pembeli.
“Alhamdulillah ada saja yang beli, tapi enggak seperti tahun lalu, karena ini ada online sih pak kebanyakannya mah, seperti sepatu, seragam sekolah juga kebanyakan mereka beli online jadi saya kalah sama online,” tutur Husen.
Baca Juga: Pantau Pasar Tradisional, Harga Sembako Di Kabupaten Serang Dipastikan Stabil
Husen menyebut, penurunan daya beli masyarakat dan penjualan online berdampak begitu signifikan terhadap aktivitas perdagangan di tokonya. Bahkan penghasilannya menurun drastis hingga mencapai 70 persen. “Penurunannya parah pak, sampai 70 persen drastis banget, apalagi tuh waktu pas mau Lebaran nol pak, enggak ada yang beli,” ujarnya sedih.
Husen juga menyebutkan, akibat kondisi itu banyak toko yang berjualan tidak kuat bertahan alias tutup. “Toko juga banyak yang tutup, gimana ya orang enggak ada yang belanjanya, saya juga di sini paling tidur,” kata dia. “Harapan saya sih mau maju lagi seperti dulu, pembeli banyak yang datang, terutama harapan saya mah online itu ditutup jangan diadain lagi lah,” harap Husen.
Jika kebanyakan para orang tua membeli seragam secara daring, beda halnya dengan Ani. Warga Kecamatan Warunggunung ini membeli perlengkapan sekolah untuk anaknya yang akan masuk ke jenjang SMP. Dirinya secara langsung datang ke toko.
Menurutnya, membeli secara langsung bisa memilih bahkan bisa menawar harga sesuai yang diinginkan dan dikarenakan lebih nyaman dan aman jika dibandingkan berbelanja secara daring. “Saya lebih memilih beli pakaian sekolah di toko karena lebih nyaman aja, kalau di online kadang-kadang banyak yang gagal seperti ukurannya kurang, kalau di sini kan bisa sesuai ukuran, kalau ke toko kan bisa langsung bawa anaknya juga,” pungkasnya. (mulyana)




























