SATELITNEWS.COM, LEBAK – Perum Bulog Kantor Cabang Lebak-Pandeglang mencatat capaian positif dalam menyerap hasil panen petani. Hingga Juni 2026, jumlah gabah kering panen (GKP) yang berhasil dihimpun telah melewati angka 50 ribu ton.
Realisasi tersebut menjadi bukti masih kuatnya produksi padi di wilayah Lebak dan Pandeglang. Dua daerah itu dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan beras di wilayah Banten dan sekitarnya.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Lebak-Pandeglang, M. Syaukani Pinca mengatakan, capaian penyerapan gabah saat ini sudah melampaui target yang ditetapkan pemerintah melalui Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Banten. “Untuk penyerapan gabah di Lebak dan Pandeglang sampai hari ini sudah di atas 50.000 ton GKP. Secara Kanwil DKI Jakarta dan Banten juga sudah mencapai lebih dari 100 persen target,” katanya, Minggu (28/6/2026)
Tingginya hasil serapan membuat Bulog terus melakukan pengaturan penyimpanan agar seluruh gabah petani dapat tertampung dengan baik. Selain mengandalkan gudang utama, Bulog juga menambah kapasitas melalui kerja sama dengan gudang tambahan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses penyerapan tidak terhenti saat produksi petani meningkat. Bulog memastikan masih memiliki ruang penyimpanan untuk menerima tambahan gabah maupun beras.
“Kalau gudang induk penuh, kami sewa gudang tambahan. Sampai saat ini kapasitas masih tersedia dan siap menerima tambahan,” ujarnya. Gabah yang diserap Bulog berasal dari sejumlah kawasan pertanian produktif di Lebak dan Pandeglang. Beberapa wilayah yang menjadi pemasok di antaranya Kecamatan Cikesik, Panimbang, Sobang, Labuan, Pagelaran, Picung, Patia hingga Malingping.
Baca Juga: Cegah Kebocoran BOS, Inspektorat Siapkan Sistem Digital
Meski capaian telah melewati target, kegiatan penyerapan masih terus dilakukan. Setiap harinya Bulog rata-rata menerima sekitar 200 ton gabah kering panen dari para petani. Setelah melalui proses pengeringan serta penggilingan, jumlah tersebut menghasilkan kurang lebih 100 ton beras per hari yang selanjutnya masuk dalam Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Tingginya serapan gabah ini sekaligus menunjukkan produktivitas sektor pertanian di Lebak dan Pandeglang masih terjaga. Kehadiran Bulog sebagai pembeli hasil panen juga diharapkan mampu membantu menjaga kestabilan harga gabah di tingkat petani.
Di sisi lain, peningkatan volume gabah yang masuk menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan pascapanen. Ketersediaan gudang, proses menjaga kualitas, hingga distribusi beras harus terus diperhatikan agar hasil panen tetap memiliki mutu terbaik. Syaukani menilai gabah dari Lebak dan Pandeglang memiliki kualitas yang baik dibanding sejumlah wilayah lain. Bahkan, hasil panen dari dua kabupaten tersebut cukup diminati pasar luar daerah.
“Gabah Lebak dan Pandeglang kualitasnya sangat bagus. Banyak dicari pembeli dari Jakarta, Serang, Cilegon sampai Lampung. Ini termasuk gabah dengan kualitas unggulan,” pungkasnya. Bulog memastikan proses penyerapan akan terus berjalan sebagai upaya memperkuat cadangan pangan pemerintah sekaligus menjaga keberlangsungan hasil produksi petani lokal. (mulyana)
