SATELITNEWS.COM, LEBAK – Suara koin yang berjatuhan dari celengan plastik milik anak menjadi pemandangan yang tak pernah dibayangkan Eny (35).
Uang receh yang selama ini dikumpulkan dari pemberian saudara dan kerabat terpaksa dibongkar. Bukan untuk membeli mainan atau jajanan, melainkan demi memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat, perempuan asal Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak itu harus melakukan berbagai cara agar dua anaknya tetap bisa bersekolah pada tahun ajaran baru.
Warung sembako kecil yang menjadi tumpuan nafkah keluarga sudah tak lagi seramai beberapa tahun lalu. Penurunan daya beli masyarakat membuat omzet terus merosot. Barang dagangan yang dulu cepat habis kini lebih lama tersimpan di rak karena pembeli semakin sedikit.
“Sekarang memang terasa sekali perbedaannya. Dulu masih banyak warga yang belanja kebutuhan sehari-hari, tapi sekarang lebih sepi. Barang juga tidak sebanyak dulu karena perputaran uangnya lambat,” ujar Eny, Jumat (26/6/2026).
Kondisi itu semakin terasa menjelang masuk sekolah. Anak sulungnya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP sekaligus masuk pondok pesantren. Sementara anak keduanya baru akan duduk di bangku Sekolah Dasar.
Baca Juga: Biaya Sekolah Menghimpit, Wabup Lebak Minta Warga Atur Prioritas
Seragam, tas, buku, alat tulis hingga kebutuhan lain harus segera dipenuhi dalam waktu bersamaan.
Di sisi lain, Eny juga masih mengurus anak bungsunya yang baru berusia lima bulan. Penghasilan dari warung tidak lagi cukup untuk menutupi seluruh kebutuhan rumah tangga yang terus bertambah.
Dalam keadaan serba terbatas itu, ia akhirnya membuka celengan milik anak yang selama ini disimpan sebagai tabungan kecil dari uang pemberian keluarga.
“Biasanya kalau anak dapat uang dari keluarga atau saudara, saya simpan di celengan. Tapi sekarang terpaksa dibuka untuk membantu beli perlengkapan sekolah,” katanya lirih.
Bagi Eny, pendidikan tetap menjadi prioritas, meski harus mengorbankan tabungan kecil milik anak-anaknya. Ia tidak ingin kesulitan ekonomi membuat mereka kehilangan kesempatan belajar.
“Saya sebagai orang tua hanya ingin anak-anak tetap sekolah. Jangan sampai nanti mereka besar merasa kecewa karena dulu tidak bisa sekolah gara-gara keadaan,” ungkapnya.
Baca Juga: Hari Pertama Sekolah, Murid SD di Lebak Berangkat Subuh Demi “Berebut” Bangku Depan
Kesulitan ekonomi juga dirasakan dari penghasilan sang suami yang bekerja sebagai buruh harian lepas. Pendapatan yang tidak menentu membuat keluarga harus pandai mengatur setiap rupiah yang diperoleh.
Di saat bersamaan, suaminya juga masih menjalani kuliah sehingga ada kebutuhan pendidikan lain yang harus dipenuhi.
“Suami kerja buruh harian, penghasilannya tidak tetap. Dia juga masih kuliah, ada kebutuhan untuk ujian. Tapi alhamdulillah selalu ada jalan,” tuturnya.
Meski kondisi semakin sulit, Eny tetap membuka warungnya setiap hari dengan harapan pembeli kembali berdatangan.
Baginya, warung sederhana itu bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi menjadi satu-satunya harapan agar anak-anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Kisah Eny mencerminkan kenyataan yang dihadapi banyak keluarga di pedesaan. Melemahnya daya beli masyarakat bukan hanya berdampak pada pelaku usaha kecil, tetapi juga memaksa orang tua mencari berbagai cara agar kebutuhan dasar keluarga, terutama biaya pendidikan anak, tetap terpenuhi.
Bagi Eny, harapannya sederhana. Warung kembali ramai, ekonomi keluarga membaik, dan anak-anaknya tetap bisa mengejar cita-cita tanpa harus terhalang oleh keadaan. (mulyana)
