SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Sebuah akun anonim bernama DigitalGhostt di platform media sosial X mengklaim telah berhasil membobol dan menguasai data pribadi milik 4,6 juta warga Jawa Barat. Klaim tersebut mencuat lewat unggahan yang disertai nada mengejek sistem keamanan siber Indonesia.
“Hello Indonesian people (especially the people of West Java), could your personal data be in my possession? Where is the cyber defense? Is it asleep on a pile of money?” tulis akun itu dalam bahasa Inggris, dalam postingan tertanggal 10 Juli 2025.
Unggahan itu turut menampilkan tangkapan layar dari forum jual beli data di dark web, dengan penawaran bertuliskan “4.6 million data of West Java Indonesian citizens [DATABASE]”.
Tampak pula logo resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan tulisan Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah (Pemotda) dari Sekretariat Daerah Jabar. Deskripsi dalam unggahan menyebutkan data mencakup nama lengkap, alamat, NIK, email, dan pekerjaan.
Terkait pencatutan nama instansi, Kepala Biro Pemotda Jawa Barat Faiz Rahman membantah tudingan tersebut. “Tidak benar,” ujar Faiz.
Faiz Rahman mengungkapkan, pihaknya tidak memiliki peran dalam pengumpulan dan pengolahan data dari warga Jawa Barat. “Kami hanya ditempelkan (dicatut) di unggahan itu, karena dari Biro Pemotda Jawa Barat, itu tidak mengumpulkan, dan mengolah data identitas masyarakat,” kata Faiz.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menyampaikan bahwa dirinya baru mengetahui peristiwa tersebut. “Saya baru tahu tadi malam,” katanya. “Kami sudah sampaikan kepada Diskominfo untuk segera berkoordinasi dengan Cyber Crime Polda Jabar,” bebernya lagi.
Ia menegaskan pentingnya penyelidikan cepat guna mencegah meluasnya dampak kebocoran data ini. “Jangan sampai ada korban, terutama dari masyarakat Jawa Barat,” tegas Erwan.
Lebih lanjut, Erwan berharap semua pihak terkait dapat bergerak cepat. “Penyebabnya apa juga kami belum tau. Yang jelas kami minta Diskominfo dan cyber crime bisa bertindak dengan cepat. Senin akan kami tunggu hasilnya dari Diskominfo,” tandasnya.
Namun, pakar keamanan siber dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Rahardjo, menilai bahwa kemungkinan besar klaim DigitalGhostt bukan isapan jempol.
“Biasanya kalau yang kayak gini sih betul, ya. Tapi tetap perlu diverifikasi dulu,” kata Budi saat dikonfirmasi.
Meski otentisitas data belum dapat dipastikan, skala klaim kebocoran ini membuatnya berpotensi menjadi salah satu insiden kebocoran data terbesar di Indonesia, terutama di wilayah Jawa Barat.
DigitalGhostt dikenal sebagai anggota aktif dalam komunitas dark web, dengan reputasi tinggi dalam jual beli data hasil peretasan. Akun lain, @H4ckmanac, bahkan menyebut DigitalGhostt sebagai pelaku pembobolan 700 ribu data individu milik Kementerian Pertahanan (Kemenhan) sebelumnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Bandung menyatakan hingga kini belum ada indikasi data pribadi warganya terdampak. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung, Yayan A Brilyana, menegaskan bahwa sistem penyimpanan data di kota itu telah memenuhi standar keamanan internasional dan nasional.
“Kita sudah menggunakan standar ISO 27001, juga standar dari SPBE. Masih bisa terjaga datanya jika ada upaya pembobolan,” ujar Yayan, Minggu (27/7).
Namun, Yayan mengakui bahwa kemungkinan pembobolan tetap ada dan tidak bisa dikesampingkan. Jika insiden semacam itu terjadi, peringatan biasanya datang dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
“Kita tidak bisa mengklaim 100 persen aman. Tapi standar keamanan sudah kita terapkan, dan biasanya BSSN langsung memperingatkan kalau ada kebocoran,” tambahnya.
Yayan memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi soal kebocoran data yang diklaim oleh DigitalGhostt. Ia berharap peretasan ini tidak berdampak pada data pribadi warga Kota Bandung.
“Mudah-mudahan tidak berdampak. Karena justru banyak kasus, hacker-nya yang memperingatkan kita. Ada juga yang dari luar negeri yang memberi tahu soal kelemahan sistem kita,” pungkasnya. (rmg/san)