SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan bahwa 53 warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di wilayah Kamchatka Peninsula, Rusia, dalam kondisi aman dan tidak terdampak gempa berkekuatan magnitudo 8,8 yang mengguncang daerah tersebut pada Rabu pagi (30/7/2025).
“Berdasarkan komunikasi KBRI Moskow dengan para WNI, hingga saat ini tidak ada yang terdampak gempa,” ujar Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, dalam keterangan resmi.
KBRI Moskow bersama perwakilan RI lainnya seperti KBRI Tokyo, KJRI Osaka, dan KJRI Los Angeles terus berkoordinasi dengan warga negara Indonesia yang berada di kawasan terdampak untuk memastikan keselamatan mereka, termasuk antisipasi terhadap potensi gempa susulan dan tsunami. “Perwakilan RI telah mengimbau WNI agar meningkatkan kewaspadaan dan menjauhi pantai,” imbuh Judha.
Gempa terjadi pada pukul 08.25 waktu setempat, dengan pusat berada sekitar 136 kilometer tenggara Petropavlovsk-Kamchatsky di kedalaman 18–19 kilometer. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat magnitudo 8,0, sementara lembaga Rusia dan Jepang semula mencatat 8,7, kemudian direvisi menjadi 8,8.
Gubernur Kamchatka, Vladimir Solodov, menyebut gempa tersebut sebagai yang paling kuat dalam beberapa dekade terakhir. “Gempa bumi hari ini sangat serius dan terkuat dalam beberapa dekade terakhir,” ujarnya lewat video yang diunggah via Telegram, dikutip Reuters.
Gelombang tsunami setinggi 3 hingga 4 meter dilaporkan menerjang kota pelabuhan Severo-Kurilsk. Tiga gelombang besar menyebabkan kerusakan infrastruktur pelabuhan dan menyeret kapal-kapal yang sedang bersandar. Warga dievakuasi ke daerah perbukitan.
Sebanyak 30 gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 4,5 hingga 6,2 tercatat di wilayah Kamchatka setelah gempa utama berkekuatan 8,8 mengguncang kawasan Rusia tersebut. Para ahli menyebut aktivitas ini sebagai bagian dari “rentetan pelepasan energi tektonik” di kawasan Cincin Api Pasifik yang memang dikenal rawan gempa dan letusan vulkanik.
Menurut Kementerian Kesehatan regional, beberapa orang mencari bantuan medis, dan jumlah panggilan ke tim ambulans meningkat. Sebuah tembok runtuh di sebuah taman kanak-kanak di Petropavlovsk-Kamchatsky tanpa korban jiwa. Sebuah kantor pusat regional telah dikerahkan untuk mengoordinasikan tindakan departemen dan layanan.
Tsunami juga melebar ke Jepang. Otoritas Jepang melaporkan bahwa gelombang tsunami setinggi 30 sentimeter pertama kali tercatat di kota pesisir Hokkaido, disusul gelombang 50 sentimeter di Pelabuhan Ishinomaki, Prefektur Miyagi. Gelombang tertinggi setinggi 1,3 meter menghantam Pelabuhan Kuji di Prefektur Iwate, Jepang utara, pada pukul 13.52 waktu setempat.
Selain itu, tercatat gelombang setinggi 40 hingga 80 sentimeter di 16 lokasi lain sepanjang pesisir Pasifik Jepang. Beberapa di antaranya adalah Pelabuhan Hanasaki (Nemuro), Kushiro, Tokachi, dan Kota Erimo di bagian tenggara Hokkaido. Demikian pula daerah pesisir di wilayah Tohoku dan Kanto.
Kantor berita NHK melaporkan bahwa gelombang tsunami menggulung Pelabuhan Ishinomaki setinggi 70 sentimeter dan Nemuro Hanasaki setinggi 80 sentimeter. Wilayah-wilayah tersebut diminta tetap siaga karena gelombang lanjutan yang lebih besar masih mungkin terjadi.
Pemerintah Jepang mengimbau lebih dari 1,9 juta warga untuk segera mengungsi ke lokasi lebih tinggi. Mayoritas warga terdampak berasal dari Prefektur Hokkaido, Kanagawa, dan Wakayama, sebagaimana dilaporkan CNN.
JMA memperkirakan potensi gelombang lanjutan bisa berlangsung hingga Kamis (31/7), sebagaimana juga disampaikan dalam laporan Al Jazeera.
Di Amerika Serikat, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) mengonfirmasi bahwa tsunami telah mencapai pantai utara Pulau Oahu, Hawaii, dengan ketinggian sekitar 1,2 meter. Manajemen Darurat Oahu menyatakan bahwa seluruh wilayah pantai Hawaii berisiko terdampak, dan gelombang bisa datang secara berurutan dalam interval 5 hingga 15 menit. Selain banjir, arus kuat dan puing-puing yang terbawa air turut memperparah ancaman.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia turut mengeluarkan peringatan dini tsunami. Terdapat 10 wilayah pesisir Indonesia bagian timur yang berstatus waspada akibat potensi dampak dari tsunami tersebut, meskipun dengan tinggi gelombang yang diperkirakan di bawah 0,5 meter. Berikut daftar wilayah yang berpotensi terdampak: Talaud (ETA 14.52 WITA), Kota Gorontalo (ETA 16.39 WITA), Halmahera Utara (ETA 16.04 WIT), Manokwari (ETA 16.08 WIT), Raja Ampat (ETA 16.18 WIT), Biak Numfor (ETA 16.21 WIT), Supiori (ETA 16.21 WIT), Sorong Utara (ETA 16.24 WIT), Jayapura (ETA 16.30 WIT), dan Sarmi (ETA 16.30 WIT).
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tetapi perlu menjauhi garis pantai hingga situasi benar-benar aman. (rmg/san)