SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Pemandangan tak sedap tampak membentang di sepanjang median Jalan Raden Fatah, Ciledug, Kota Tangerang, Kamis (31/7/2025). Tumpukan kantong plastik berisi sampah rumah tangga hingga pasar terlihat menyesaki jalur dari perempatan Ciledug hingga pertigaan Jalan Ciptomangunkusumo sepanjang 2 kilometer.
Kondisi ini tak hanya merusak estetika kota, namun juga menimbulkan kekhawatiran soal kesehatan lingkungan dan potensi gangguan lalu lintas. Berdasarkan pantauan SatelitNews.Com, kantong-kantong plastik aneka warna itu berisi kulit buah, sayur-sayuran busuk, potongan daging, hingga sampah lain yang dikemas dalam karung dan keranjang kayu. Semuanya diletakkan begitu saja di tengah jalur hijau oleh warga sekitar.
Abdul (52), seorang pedagang yang berjualan tak jauh dari lokasi, mengaku fenomena ini sudah berlangsung cukup lama. Ia tak menampik bahwa petugas kebersihan cukup rutin mengangkut sampah, bahkan hingga tiga kali dalam sehari.
Namun, ia tetap berharap ada solusi yang lebih sistematis. “Pagi itu sudah mulai dari pasar. Nanti sore ada yang mengangkut, malam ada juga. Jadi enggak pernah terlalu lama. Tapi kalau bisa, ya, ada tempat khusus supaya enggak menumpuk di jalan,” katanya.
Senada dengan itu, Yani (41), warga yang tiap hari melintas untuk bekerja, menilai kondisi tersebut merusak citra kawasan. “Median jalan jadi kumuh, baunya juga kadang menyengat. Harusnya ada tempat sampah resmi atau pengawasan lebih ketat. Masa iya kota sebesar ini enggak bisa atur soal sampah?” ujar Yani.
Lebih memprihatinkan lagi, pemandangan serupa juga ditemukan di sekitar Jembatan Raden Fatah, hanya 300 meter dari pertigaan Jalan Ciptomangunkusumo. Di titik ini, sampah bahkan telah meluber ke badan jalan, menciptakan risiko keselamatan bagi pengendara.
Baca Juga: Rp 150 Miliar untuk PSEL Mandiri, DPRD Kota Tangerang Beri Dukungan
Ironisnya, tepat di atas tumpukan sampah, terpasang spanduk larangan membuang sampah sepanjang tiga meter. Imbauan itu tampaknya tak mempan, sebab aksi buang sampah sembarangan tetap marak dilakukan warga baik oleh pedagang maupun pengendara motor yang hanya melintas. Gunawan (69), warga setempat, mengungkap bahwa praktik buang sampah liar kerap dilakukan diam-diam pada malam hari.
“Bukan cuma pedagang, yang lewat naik motor juga banyak yang berhenti lalu buang sampah. Biasanya mulai ramai jam 5 sore sampai dini hari. Sampahnya macam-macam, sisa makan, buah busuk, kadang bawa karung gede juga,” katanya.
Menanggapi persoalan ini, Kecamatan Ciledug mulai menggandeng komunitas peduli lingkungan untuk turut serta dalam pengawasan dan edukasi warga. Menurut Kasi Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Ciledug, Agung Wibisono, langkah ini penting mengingat keterbatasan petugas kebersihan di lapangan.
“Kita sudah kerja sama dengan komunitas peduli lingkungan, anak-anak muda juga. Mereka bantu saya di lapangan, terutama dalam hal pengawasan dan komunikasi ke warga,” jelas Agung saat dikonfirmasi, Kamis (31/7). Komunitas ini aktif menyebarkan informasi di media sosial lokal, sebagai bentuk tekanan moral agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Mereka sering masukin info ke grup-grup lokal. Jadi ada efek malu juga buat yang buang sampah sembarangan. Ini jadi cara baru untuk edukasi warga,” tambahnya. Namun upaya ini masih menemui tantangan besar.
Menurut Agung, sebagian warga masih kerap “kucing-kucingan” dengan petugas. Meski sudah ada penindakan, termasuk penyitaan KTP, namun sampah tetap kembali menumpuk hanya dalam hitungan jam. “Kita tindak di sini, muncul di sana. Kita tongkrongin, eh pindah tempat. Saya sudah tahan berapa KTP, tapi tetap saja muncul lagi. Ini masalah kebiasaan yang harus diubah dari akar,” ujarnya.
Baca Juga: DLH Lebak Dorong Bank Sampah untuk Tekan Open Dumping
Fenomena penumpukan sampah di median jalan Raden Fatah dan sekitarnya menjadi gambaran nyata belum optimalnya sistem pengelolaan sampah di wilayah padat seperti Ciledug. Tanpa fasilitas tempat pembuangan sementara yang representatif dan kesadaran kolektif warga, upaya pemerintah akan terus seperti memadamkan api dengan tangan kosong.
Warga berharap agar Pemerintah Kota Tangerang tak sekadar mengandalkan pengangkutan rutin, tetapi segera menyusun strategi jangka panjang. Agung mengungkapkan persoalan ini tak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah.
Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar wajah Kota Tangerang tidak terus-menerus dicoreng oleh tumpukan sampah yang seolah menjadi ‘pemandangan biasa’. “Kalau semua pihak peduli, ini bukan masalah besar. Tapi selama masih ada yang buang diam-diam dan menganggap ini hal biasa, ya akan terus seperti ini,” tutupnya. (mg01)
























