SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 mencapai 5,12 persen secara tahunan (year on year/yoy). Konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,97 persen menjadi komponen utama yang menopang perekonomian nasional, berkontribusi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal II 2024 yang sebesar 5,05 persen, dan juga naik dari kuartal I 2025 yang tercatat 4,87 persen (yoy).
“Pertumbuhan triwulan II-2025 bila dibandingkan triwulan II-2024 secara year on year tumbuh 5,12 persen. Bila dibandingkan triwulan I-2025 secara quarter to quarter (qtq), tumbuh 4,04 persen,” ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud dalam konferensi pers secara daring, di Jakarta, Selasa (5/8).
PDB atas dasar harga berlaku pada kuartal II 2025 tercatat sebesar Rp5.947 triliun. Sementara itu, atas dasar harga konstan, nilainya mencapai Rp3.396,3 triliun. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, PDB harga berlaku mencapai Rp5.536,5 triliun dan PDB harga konstan sebesar Rp3.231,0 triliun.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 ini juga melampaui ekspektasi pasar. Adapun pada kuartal I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 4,87 persen secara tahunan namun mengalami kontraksi sebesar 0,98 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,97 persen secara tahunan pada kuartal II 2025. Komponen ini menyumbang 54,25 persen terhadap PDB dan memiliki andil sebesar 2,64 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi kuartal ini.
“Hal ini mengindikasikan masih kuatnya permintaan domestik,” kata Edy.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) turut memberikan kontribusi besar dengan pertumbuhan 6,99 persen (yoy). PMTB menyumbang 27,83 persen terhadap PDB dan berkontribusi sebesar 2,06 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Komponen lainnya yang mencatat pertumbuhan positif antara lain konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) yang tumbuh 7,82 persen, serta ekspor barang dan jasa yang meningkat 10,76 persen. Di sisi lain, impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDB juga tumbuh 11,65 persen. Satu-satunya komponen yang mencatat kontraksi adalah konsumsi pemerintah, yakni turun 0,33 persen secara tahunan.
BPS juga mencatat peningkatan signifikan dalam mobilitas wisata domestik. Pada Juni 2025, jumlah perjalanan wisata nusantara mencapai 105,12 juta perjalanan, meningkat 25,93 persen secara tahunan dibandingkan Juni 2024.
Sulawesi dan Jawa menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan II 2025. Ekonomi Sulawesi tercatat tumbuh sebesar 5,83 persen secara tahunan (yoy), sementara Jawa tumbuh 5,24 persen (yoy). Melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,12 persen pada periode yang sama.
Kontribusi wilayah Jawa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II 2025 mencapai 56,94 persen, sedangkan Sulawesi menyumbang 7,21 persen.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi ditopang oleh sektor industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan, sedangkan di Jawa pertumbuhan didorong oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, serta informasi dan komunikasi (infokom). DKI Jakarta menjadi provinsi dengan andil pertumbuhan tertinggi di Jawa, yakni sebesar 1,45 persen.
Wilayah Sumatera mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,96 persen, dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 22,20 persen. Sementara itu, wilayah Kalimantan tumbuh 4,95 persen dan berkontribusi 8,09 persen terhadap PDB. Adapun wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan 3,73 persen, dengan kontribusi 2,83 persen terhadap PDB. Wilayah Maluku dan Papua tumbuh 3,33 persen dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 2,73 persen. (rmg/san)