SATELITNEWS.COM, SERANG – Pemprov Banten memfokuskan lima daerah, sebagai kawasan pengembangan peternakan unggas, baik itu ayam buras, ayam pedaging, ayam petelur, dan itik lokal.
Tujuannya, selain meningkatkan produksi peternakan, juga sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat peternak di wilayah tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nano Heriyano mengatakan, ada beberapa wilayah di Banten yang menjadi lokus pengembangan peternakan. Masing-masing wilayah, kata dia, difokuskan untuk mengembangkan satu jenis ternak.
Kelima wilayah itu, kata dia, yakni Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, dan Kabupaten Pandeglang, serta Kota Serang. Adapun jenis ternak unggas yang dikembangkan yaitu untuk ayam buras, ayam pedaging, ayam petelur, dan itik lokal.
“Khusus untuk itik lokal, pengembangannya ada di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang bagian utara, dan Kota Serang,” katanya, Minggu (7/9/2025).
Nano mengatakan, sepanjang tahun 2025 ini, pihaknya mencatat semua populasi unggas di Banten, untuk ayam buras, populasinya sebanyak 1.987.295 ekor, ayam ras petelur sebanyak 20.410.044 ekor, ayam ras pedaging sebanyak 190.065.173 ekor, dan itik lokal sebanyak 1.660.022 ekor.
Baca Juga: DPRD Banten Pertanyakan Kekosongan Kepsek Hingga Plt Dirut RSUD
Selain itu, pihaknya juga sudah menyalurkan bantuan bagi peternak mandiri atau kemitraan terhadap 40 kelompok di beberapa wilayah di Banten. Bantuan itu, diharapkan bisa membantu para peternak dalam mengembangkan usahanya.
“Dinas pertanian pada tahun ini mengalokasikan bantuan ternak itik petelur sebanyak 40 kelompok, dimana bantuan perkelompok nya adalah 132 ekor terdiri dari 120 betina dan 12 jantan, bantuan lainnya adalah pakan ternak sebagai stimulan, hanya untuk satu bulan,” tambahnya.
Nano menerangkan, untuk mendapatkan bibit ternak yang baik dan sesuai dengan spesifikasinya, pihaknya melakukan bimbingan melalui Teknis dari Pengawas Bibit Ternak( wasbitnak) dan tim Medik Veternier, agar bantuan ternak yang dIibagikan kepada kelompok berkualitas baik.
“Untuk kelompok ternak yang layak mendapatkan bantuan makan akan mendapatkan bimbingan Teknis dari Pengawas Bibit Ternak( wasbitnak), Pengawas Mutu pakan (wastukan) dan Medik veteriner (petugas kesehatan ternak),” ujarnya.
Selain itu, kata dia, pihaknya juga melakukan pengawasan terhadap mutu pakan ternak melalui bimtek pembuatan pakan itik petelur, bagi peternak unggas, pembuatan green konsentrat, bagi peternak ruminansia, pemberian bibit hijauan pakan ternak, pengambilan sampel bahan pakan lokal utk diuji kandungannya di lab pakan.
“Hal tersebut dilakukan untuk mendukung optimalisasi bahan pakan lokal sebagai pakan ternak. Kita juga ajarkan tentang pembuatan silase sebagai teknologi sederhana pengawetan pakan tetnak,” ujarnya lagi.
Baca Juga: Pemprov Banten Janji Segera Isi Kekosongan Jabatan Kepsek
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid menambahkan, untuk menekan biaya pakan bagi peternak, karena hampir 80 persen modal peternak unggas habis untuk biaya pakan, pihaknya melakukan beberapa upaya agar para peternak tidak mengalami kerugian.
Upaya itu, kata dia, peternak menggunakan pakan lokal sisa industri seperti roti sisa dari pabrik roti, kepala udang dari industri pengolahan udang, mie kuning dari sisa produksi industri pengolahan mie instan. Kemudian, lanjutnya, peternak bekerja sama dengan supplyer pakan lokal.
“Untuk dukungan kesehatan ternak, kami menggunakan konsep utamanya mencegah lebih baik daripada mengobati, karena sekali penyakit menyebar di kandang, penanganan akan sangat sulit dan mahal,” ungkapnya.
“Ada beberapa hal dalam menjaga kesehatan unggas seperti biosekuriti atau serangkaian tindakan untuk mencegah masuk dan menyebarnya organisme penyakit, program vaksinasi, manajemen pakan dan air minum, manajemen kandang dan lingkungan,” umbuhnya. (adib)



















