SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Kekuatan pertahanan Republik Indonesia (RI) bakal makin bertaring. Sejumlah alat utama sistem senjata modern bakal membuat efek penggentar TNI (deterrence effect) makin kuat.
Tak lama lagi, TNI akan dilengkapi kapal induk terbesar se-Asia Tenggara yakni ITS Geussepe Garibaldi, rudal balistik KHAN ITBM 600 buatan Turki, hingga jet tempur Rafale asal Prancis. Perpaduan kekuatan darat, laut, dan udara ini diyakini bikin benteng NKRI makin kokoh menghadapi beragam ancaman.
Pemerintah sudah memfinalisasi rencana pembelian kapal induk Giuseppe Garibaldi (C-551). Kapal dengan panjang 180,2 meter dan bobot penuh 13.850 ton ini, bakal jadi “monster laut” pertama di kawasan. Skema pembiayaan luar negeri senilai 450 juta dolar AS untuk TNI AL sudah disetujui Bappenas.
Meski berstatus bekas, kehadiran kapal induk diyakini akan meningkatkan daya gentar Indonesia di jalur-jalur maritim vital. Dengan platform ini, proyeksi kekuatan TNI bisa menjangkau pulau-pulau terpencil sekaligus menunjukkan eksistensi RI di kancah regional.
Dari lini darat, TNI AD kebagian rudal KHAN dari Turki. Batch pertama sudah parkir di Markas Yonarmed 18/Buritkang, Tenggarong, Kalimantan Timur. Rudal balistik ini punya jangkauan tembak hingga 280 km dengan navigasi gabungan GPS, GLONASS, dan sistem inersia.
Kadispenad Brigjen TNI Wahyu Yudhyana menegaskan, penempatan rudal di Kaltim sesuai konsep pertahanan rakyat semesta. “Artinya, kita bersahabat dengan semua negara, tapi kita juga harus siap mempertahankan NKRI kapan pun,” katanya.
Batch kedua rudal KHAN akan tiba awal 2026. Jumlahnya setara kekuatan satu batalyon. Baru setelah itu, sistem senjata ini resmi diserahterimakan ke TNI AD.
Sementara di udara, TNI AU akan diperkuat 42 jet tempur Rafale hasil kontrak 8,1 miliar dolar AS dengan Dassault Aviation. Unit pertama diprediksi tiba awal 2026, berbarengan dengan 6 pesawat angkut A400M dari Airbus.
Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang memastikan, pengadaan alutsista strategis ini, sudah melalui kajian panjang. “Apa pun platform-nya, pastinya terbaik demi menjamin kedaulatan wilayah dan keselamatan bangsa,” ujarnya.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan, modernisasi alutsista bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. “Peperangan sekarang sangat canggih. Kalau kita tidak mengikuti perkembangan, bagaimana bisa melindungi masyarakat?” tegas Agus saat membuka TNI Fair di Monas, Jakarta, Minggu (21/9/2025).
Agus menambahkan, alutsista modern juga berdampak ke ekonomi. “Kalau aman, rakyat bisa bekerja dengan tenang, investor juga mau datang,” tandasnya.
Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menyebut, pengadaan kapal induk, rudal KHAN, dan Rafale adalah langkah strategis. “Ini memperkuat daya tangkal sekaligus posisi Indonesia dalam dinamika keamanan kawasan,” katanya.
Menurut Dave, kapal induk jadi simbol kesiapsiagaan dan proyeksi kekuatan. Rudal KHAN memberi efek deteren signifikan, sementara Rafale fleksibel dipakai untuk berbagai misi. “Integrasi ketiganya akan memperkuat pertahanan nasional secara menyeluruh,” ujar politisi Golkar itu.
Namun, Dave mengingatkan pengadaan alutsista harus efisien, selaras dengan Doktrin Pertahanan Nasional, serta membawa manfaat transfer teknologi. “Jangan sampai jadi beban anggaran. SDM dan pemeliharaan juga harus siap,” tegasnya.
Pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies Khairul Fahmi berpendapat, pengadaan alutsista strategis seperti kapal induk, rudal balistik taktis KHAN, dan jet tempur Rafale menandai lompatan besar pembangunan pertahanan Indonesia. “Langkah ini menunjukkan Indonesia tidak lagi semata menyiapkan pertahanan pasif, melainkan mulai membangun efek tangkal (deterrence) yang lebih nyata terhadap potensi ancaman,” kata Fahmi.
Menurutnya, kapal induk yang akan dimiliki Indonesia harus multiperan. Selain untuk power projection dan pengamanan jalur perdagangan vital, juga untuk misi kemanusiaan serta penanggulangan bencana di negara kepulauan. “Tantangan utamanya adalah biaya operasional dan pemeliharaan yang tinggi, sehingga dibutuhkan strategi pengelolaan aset berkelanjutan agar kapal induk tidak sekadar menjadi simbol,” ujar dia.
Adapun rudal KHAN dinilai sebagai game changer bagi postur pertahanan darat. Dengan jangkauan ratusan kilometer, rudal ini memberi efek anti-access/area denial yang membuat pihak mana pun berpikir dua kali sebelum melanggar kedaulatan Indonesia.
Sementara Rafale, lanjut Fahmi, menghadirkan keunggulan bukan hanya dalam pertempuran udara jarak dekat, tetapi juga dalam misi serangan presisi, pengintaian, hingga operasi berbasis jaringan. “Kemampuan ini akan melipatgandakan daya kombatan udara kita,” katanya.
Meski begitu, Fahmi menekankan alutsista secanggih apapun tidak akan optimal tanpa kesiapan SDM, kemandirian logistik, sistem pemeliharaan jangka panjang, serta integrasi doktrin operasi. Dengan begitu, modernisasi ini akan memperkokoh kedaulatan dan meningkatkan daya tawar diplomasi. “Sekaligus mengamankan kepentingan nasional Indonesia di tengah kompetisi geopolitik yang makin keras,” pungkasnya. (rm)