SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Kabupaten Pandeglang, selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah di Provinsi Banten yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Namun, ternyata Pandeglang juga memiliki area pesisir bahkan pulau pulau yang cantik.
Salah satunya adalah, Pulau Liwungan yang saat ini masuk ke wilayah Kecamatan Panimbang. Pulau tersebut, dikenal sebagai Pulau yang namanya diambil dari nama muda Raja Sunda yaitu Sang Haliwungan, yang kelak saat sudah ditasbihkan menjadi Raja Sunda namanya berubah menjadi Prabu Susuktunggal.
Dikutip dari buku Sundakala karangan Ayat Rohaedi, Prabu Susuktunggal adalah raja Sunda yang berkuasa sejak tahun 1382 hingga 1482 atau selama 100 tahun. Dia adalah salah satu putra dari Niskala Wastukancana atau lebih dikenal sebagai Prabu Resi Bhuwana Tunggaldewata Sang Mokteng Nusalarang.
Dari jalur ibu, Sang Haliwungan adalah keturunan dari Nay Ratna Sakarti,putri dari Resi Susuk Lampung.
Setelah dilantik jadi raja, Sang Haliwungan oleh ayahandanya diberikan daerah sebelah barat kerajaan Sunda, yang dikenal sebagai Sunda Pajajaran yang areanya meliputi bagian barat Provinsi Jawa Barat saat ini dan juga Provinsi Banten.
Pada masa pemerintahannya, Sang Haliwungan dikenal sebagai raja cemerlang karena giat melakukan berbagai pembangunan. Diantaranya menata memperbaiki berbagai fasilitas umum untuk rakyat di ibukota Pakwan Pajajaran (diduga saat ini berada di Kota Bogor), sehingga lebih indah.
Bahkan di masa jabatannya, dia juga mendirikan istana baru yang diberi nama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.
Baca Juga: 9 Rumah Warga Di Panimbang Pandeglang Rusak
Sementara, dari Wikipedia diketahui, selain membangun keraton yang indah, Sang Haliwungan alias Prabu Susuktunggal juga membuat Palangka Sriman Sriwacana. Itu adalah batu berukuran 200 x 160 x 20 cm tempat seorang calon raja dari trah kerajaan Sunda. Calon raja itu harus duduk di batu tersebut saat prosesi penobatannya menjadi raja Sunda.
Saat ini, Batu Palangka Sriman Sriwacana bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di kawasan Banten Lama karena batu tersebut diangkut oleh prajurit Kesultanan Banten paska menyerbu Pakwan Pajajaran dan menghancurkan istana Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati pada abad ke-15.
Baru tersebut diangkut ke Banten, agar tak ada raja Sunda yang bisa diibaratkan lagi karena tanpa duduk di batu tersebut prosesi penobatannya dianggap tidak sah.
Karena mengkilap, orang Serang Banten menyebut batu Palangka yang dibuat oleh Sang Haliwungan sebagai watu gigilang. Watu artinya batu , sedangkan gigilang berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata sriman.
Saeful Bahri, warga Panimbang yang ditanyai tentang sejarah nama Pulau Liwungan mengaku, tak bisa memastikan kebenarannya. Namun, di pulau indah seluas 23 hektare itu memang terdapat Makom Raja Sunda. Masyarakat setempat menyebutnya, sebagai Makom Prabu Siliwangi.
“Ada kok, seperti makam atau biasa disebut Makom di Pulau Liwungan. Tapi kami tak tahu pasti nama pemilik makamnya. Hanya tahunya Raja Sunda Prabu Siliwangi aja. Sesekali ada orang yang minta diantar ke Pulau Liwungan untuk berziarah ke makom itu,” terangnya.
Baca Juga: LIPP Banten: Pejabat Hasil Lelang Terbuka Pemkab Pandeglang Harus Berintegritas
Kata dia, untuk mencapai Pulau Liwungan bisa dari beberapa lokasi di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang. Salah satunya dari Kampung Nelayan Cipanon lalu menyewa perahu untuk menyeberang hingga ke Pulau Liwungan.
“Sebelum covid dan tsunami mah ramai. Sehari saja yang ke Liwungan itu bisa ratusan karena yang mengantar saja bisa bolak balik 10 kali dalam sehari. Kalau sekarang sepi,” terangnya, sambil mengatakan selain dari Cipanon, pulau tersebut juga bisa diakses dari beberapa dermaga pribadi di Desa Citeureup. (mardiana)
