SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis, ombak setinggi empat meter diprediksi terjadi di Selat Sunda hingga 7 Desember 2025 mendatang. Hal itu terjadi, seiring dengan cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa hari di semua wilayah Provinsi Banten, termasuk di Kabupaten Pandeglang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang, Riza Kurniawan mengatakan, dengan adanya informasi atau peringatan dari BMKG itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait.
“Kami sudah koordinasi dengan BPBD Provinsi Banten juga,” kata Riza, Senin (13/10/2025).
Katanya, pihaknya juga sudah mengimbau kepada masyarakat khususnya masyarakat pesisir agar meningkatkan kewaspadaan dan lebih berhati-hati, saat berada di kawasan pesisir pantai.
Selian itu tambahnya, para nelayan juga diimbau agar tidak melaut terlebih dahulu ditengah gelombang ombak yang masih mengkhawatirkan.
Kepala BPBD Provinsi Banten Nana Suryana mengatakan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan semua instansi terkait, guna mengantisipasi kecelakaan laut akibat ombak tinggi disepanjang Selat Sunda.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Mulai Melanda, KSB Banten Sebut 3 Kabupaten Terdampak Paling Besar
“Kita sudah sampaikan imbauan kepada semua pihak, untuk waspada. Kita juga sudah koordinasikan dengan BPBD kabupaten/kota terkait hal itu, agar pencegahan bisa dilakukan dengan cepat,” ungkapnya.
Menurut Nana, ombak setinggi empat meter itu berpotensi menyebabkan kecelakaan laut. Oleh karena itu, dia meminta kepada nelayan tradisional agar bisa lebih waspada dan hati-hati, karena selama beberapa waktu ombak di perairan Selat Sunda cukup tinggi.
“Kalau bisa jangan dulu melaut ketika ombak tinggi, karena bisa menyebabkan kecelakaan. Kalaupun melaut, jangan sampai mengabaikan alat keselamatan dan segera menyampaikan melalui sambungan radio, apabila cuaca semakin buruk, agar bisa dilakukan penyelamatan,” tukasnya.
Nana mengaku, pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan menyiagakan personel dan alat keselamatan seperti perahu karet dan lainnya, untuk penanganan bencana di laut. Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan tim penanganan kebencanaan lainnya, apabila situasi semakin sulit.
“Kita sudah koordinasikan dengan semuanya. Kita harapkan, masyarakat juga tidak memaksakan untuk pergi ke laut ketika ombak besar terjadi, karena bisa mengancam keselamatan,” tuturnya.
Pengusaha ikan di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Cahyadi mengaku, sejak beberapa waktu lalu tidak ada aktivitas perdagangan ikan, karena cuaca ekstrem. Namun, saat ini sebagian nelayan sudah mulai pergi ke laut untuk mencari ikan.
Baca Juga: Cuaca Membaik, Banjir di Pandeglang Berangsur Surut, Aktivitas Masyarakat Kembali Normal
“Sudah beberapa hari enggak ada aktivitas jual beli, tapi tadi ada beberapa perahu yang melaut untuk mencari ikan. Walaupun cuacanya sedang kurang baik,” akunya.
Cahyadi mengatakan, pada saat normal dirinya bisa mendapatkan omset hingga puluhan juta rupiah, dalam satu hari. Akan tetapi, saat ini dirinya tidak bisa berbicara banyak, karena belum ada nelayan yang menjual hasil tangkapannya.
“Biasanya, selalu ramai setiap harinya. Ini mah sudah berapa hari ya, ada semingguan lebih sepi terus. Enggak tahu nih besok, karena kan sekarang nelayannya udah ada yang pergi ke laut,” ucapnya.
Taryudi, seorang nelayan asal Kecamatan Labuan mengaku, khawatir dengan peringatan yang disampaikan BMKG tersebut. Namun, dirinya memaksakan diri untuk pergi menangkap ikan ke laut lepas, karena kebutuhan ekonomi dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Takut juga kalau sampai ombaknya setinggi itu. Tetapi ya Bismillah sajalah, mudah-mudahan enggak terjadi apa-apa dan bisa kembali ke darat dengan selamat. Kalau enggak mencari ikan, mau dapat uang darimana lagi,” imbuhnya. (adib/mardiana)
























