SATELITNEWS.COM, LEBAK—Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Lebak angkat bicara mengenai dampak yang ditimbulkan dari peristiwa di SMA Negeri 1 Cimarga beberapa hari lalu, salah satunya terkait penerimaan karyawan di perusahaan.
Meski kasus dugaan kekerasan yang dilakukan Kepala SMA Negeri 1 Cimarga, Dini Fitria, terhadap seorang siswa berinisial ILP yang sempat berlanjut ke pelaporan kepolisian serta aksi mogok oleh 630 siswa telah selesai, hingga kini kejadian tersebut masih menjadi perbincangan publik, terutama di media sosial.
Salah satu yang ramai dibicarakan ialah aksi mogok sekolah oleh 630 siswa. Banyak warganet menyayangkan aksi tersebut. Mereka menilai tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh pelajar karena sekolah merupakan ruang pembentukan kedisiplinan.
Tak sedikit pula warganet yang menyerukan agar seluruh alumni SMAN 1 Cimarga dari angkatan yang terlibat diblacklist dari dunia kerja di Indonesia. Menurut Bendahara Apindo Lebak, Ace Sumiarsa Ali, kasus tersebut menjadi catatan tersendiri bagi para pengusaha di Lebak di tengah masih banyaknya hal yang perlu dievaluasi dari tenaga kerja lokal yang bekerja di perusahaan-perusahaan di wilayah itu.
“Dunia kerja merekrut karyawan yang berdedikasi tinggi. Kasus kemarin mungkin bisa mencerminkan karakter calon angkatan kerja. Perusahaan tentu tidak ingin mencari karyawan yang mudah membangkang,” ujar Ace, Senin (20/10).
Lebih lanjut, Ace menyinggung bahwa produktivitas tenaga kerja asal Lebak yang bekerja di wilayah sendiri masih perlu ditingkatkan. Ia berharap kasus SMAN 1 Cimarga dapat menjadi cambuk bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan angkatan kerja yang benar-benar sesuai kebutuhan industri.
Baca Juga: Apindo Lebak: Kenaikan UMK 10 Persen Bisa Picu Perusahaan Hengkang
“Kalau di luar daerah, tenaga kerja asal Lebak itu bagus. Tapi kalau bekerja di Lebak sendiri, memang perlu ditingkatkan lagi. Contohnya di industri alas kaki, standar satu karyawan harus bisa menghasilkan 80 pasang per hari, tapi saat ini baru bisa 30 sampai 40 pasang,” terangnya.
Menanggapi banyaknya warganet maupun pihak Human Resource Development (HRD) yang menyerukan agar alumni SMAN 1 Cimarga dari angkatan yang terlibat diblacklist, Ace memastikan bahwa tidak ada perusahaan di Kabupaten Lebak yang secara resmi mengeluarkan pernyataan tersebut.
Ia juga meminta agar keputusan penerimaan atau penolakan calon tenaga kerja alumni SMAN 1 Cimarga menjadi penilaian internal perusahaan semata, demi menjaga kondusivitas iklim industri di Kabupaten Lebak. “Tidak ada perusahaan yang membuat pernyataan resmi. Tapi silakan saja kalau itu menjadi bahan penilaian, asal tidak dijadikan konsumsi publik. Cukup perusahaan saja yang tahu,” katanya. (mulyana)

















