SATELITNEWS.COM, LEBAK—Perayaan Hari Santri Nasional (HSN) tingkat Kabupaten Lebak diselenggarakan secara semarak. Sejumlah rangkaian digelar diantaranya karnaval dan murak liwet di Alun-Alun Rangkasbitung. Bupati Lebak Moch Hasbi Asyidiki Jayabaya berpesan bahwa santri harus menjadi bagian solusi bukan hanya sekadar penonton.
Pesan Hasbi tidak terlepas pengembangan zaman yang kian hari kian modern khususnya dalam bidang teknologi. Oleh karena, Hasbi berharap para santri di Bumi Multatuli memiliki talenta baik bidang keilmuan agama maupun untuk diimplementasikan dalam sebuah pekerjaan.
“Jadilah santri yang berilmu, berakhlak, berdaya. Rawat tradisi pesantren dan pelukan inovasi zaman. Bawalah semangat pesantren ke ruang publik, dunia kerja dan ranah internasional. Tunjukan bahwa santri mampu menjadi bagian dari solusi, bukan sekedar penonton,” tegas Hasbi, Kamis (23/10/2025).
Hasbi menambahkan, di Hari Santri Nasional, memiliki tema mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban dunia. Tema tersebut menurut Hasbi mencerminkan tekad para santri sebagai penjaga kemerdekaan sekaligus penggerak kemajuan. “Saya harap para santri khususnya di Kabupaten Lebak untuk terus menimba ilmu, menguasai teknologi, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren,” tutur Hasbi.
Gempuran teknologi masa kini rupanya tak membuat nilai santri sebagai pembangun peradaban dan moral menjadi hilang. Di Kabupaten Lebak, santri bahkan didorong untuk memanfaatkan sebagai sarana dakwah dan penghasil cuan. Pengurus Pondok Pesantren La Tahzan, Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, Ubaidillah menyebut bahwa santri di tempatnya mengajar sudah hafal betul dengan teknologi maupun aplikasi turunanya, mulai dari Tiktok hingga YouTube dan sebagainya.
Namun, dirinya mendorong agar pengaplikasian teknologi oleh santrinya dapat bermanfaat. Selain sebagai pengurus ponpes, Ubaidillah bahkan juga memiliki usaha yang bergerak di bidang desain. “Bagaimana posisi santri sekarang? harus menjadi penyeimbang. Gak boleh ketinggalan teknologi. Justru kalau bisa kita susupi teknologi itu dengan dakwah kita,” kata Ubaidillah.
Di sisi lain, Ubaidilah sendiri menyebut proses pembelajaran santri-santrinya di era teknologi saat ini harus bisa mendorong agar santri bukan sekadar penjaga masa lalu, melainkan arsitek moral masa depan. Kata dia, pembelajaran santri di ponpesnya tetap menggunakan metode dan kultur ponpes-ponpes salafi di Indonesia.
Dalam hal ini Ubaidillah menegaskan, teknologi tidak merubah wajah pesantren namun proses mengaji di pesantrenlah yang menyeimbangkan kehidupan santri dengan teknologi dan pembelajaran nilai Islami. “Pesantren ini malah solusi. Di pesantren setiap aspek kehidupan santri itu sudah terjadwal, bahkan dari bangun hingga tidur lagi,” tandasnya.(mulyana)