SATELITNEWS.COM, LEBAK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terdapat 857 kasus demam berdarah dengue (DBD), dengan dua di antaranya meninggal dunia. Pemerintah daerah terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan pola hidup bersih dan sehat guna menekan penyebaran penyakit tersebut.
Dari 43 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang ada, Puskesmas Rangkasbitung mencatat kasus terbanyak dengan 107 pasien, disusul Puskesmas Malingping (74 kasus) dan Puskesmas Maja (50 kasus). Sementara itu, Puskesmas Cirinten menjadi satu-satunya wilayah yang nihil kasus DBD.
Tingginya angka tersebut tak lepas dari rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, seperti mengubur sampah, menguras bak mandi, dan menutup tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Lebak, Endang Komarudin, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, mengingat curah hujan diperkirakan terus meningkat hingga Desember 2025, sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Kasus DBD yang tercatat melalui Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS) mencapai 857 kasus, dan dua pasien di antaranya meninggal dunia,” ujar Endang kepada wartawan, Rabu (5/11/2025).
Menurutnya, meningkatnya curah hujan berpotensi mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, yang biasanya bertelur di genangan air pada barang bekas seperti kaleng, ember, bak mandi, dan pot bunga. “Populasi nyamuk ini cepat berkembang di genangan air. Karena itu, masyarakat perlu rajin melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” jelasnya.
Baca Juga: Cegah Hantavirus, Dinkes Lebak: Tutup Akses Tikus
Endang mengimbau warga untuk mengaktifkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) serta melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M: Menguras, Menutup, dan Mengubur barang-barang bekas. Ia menambahkan, penaburan abate pada tempat penampungan air juga dinilai efektif mencegah DBD. “Gerakan PSN plus 3M terbukti efektif dan murah dalam memutus mata rantai penularan DBD. Kami juga mengajak warga menjaga kebersihan lingkungan serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” tambahnya.
Masyarakat juga diminta segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam lebih dari tiga hari disertai bintik merah pada kulit, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Salah satu warga Kecamatan Cibadak, Nurhayati, menceritakan pengalaman anaknya yang sempat terserang DBD. Ia langsung membawa anaknya ke RSUD Adjidarmo Rangkasbitung setelah demam tinggi tak kunjung reda selama empat hari. “Ternyata trombosit anak saya turun dan dinyatakan positif DBD. Setelah kejadian itu, saya jadi lebih sadar pentingnya menjaga kebersihan, apalagi saat musim hujan,” ungkapnya.
Nurhayati menambahkan, dirinya kini berkomitmen menjaga pola hidup sehat agar keluarganya terhindar dari ancaman penyakit serupa. “Katanya kalau kena DBD dua kali bisa berbahaya bagi jiwa. Jadi mulai sekarang, saya lebih rajin menjaga lingkungan supaya nyamuk tidak bersarang,” tutupnya. (mulyana)
























