SATELITNEWS.COM, LEBAK – Perjalanan itu seharusnya biasa saja. Hanya tiga jam perjalanan darat dari Medan menuju Aceh. Namun malam itu, awan menggantung gelap seperti membawa firasat buruk. Hujan yang semula rintik berubah menjadi badai yang menggila. Pohon-pohon tumbang menghalangi jalan, dan setiap kilometer terasa seperti langkah menuju ketidakpastian.
Ketika rombongan Rinda Rianti akhirnya melihat tulisan “Selamat Datang di Kota Langsa”, perasaan lega sempat menyelinap. Namun hanya dalam hitungan menit, rasa aman itu lenyap. Banjir sudah mengepung kota. Polres yang mereka jadikan tempat berteduh pun terendam air setinggi pinggang. Tak punya pilihan lain, mereka menghabiskan malam di jalanan, di tengah gelap dan dingin yang menusuk.
Keesokan paginya air bukannya surut—malah naik. Di Tugu Langsa ketinggian air sudah mencapai dada. Ketika mencoba putar arah kembali ke Medan, jalan pun tertutup banjir. Semua akses seolah menutup kesempatan untuk selamat.
Dengan sisa tenaga dan harapan, mereka berhenti di sebuah Masjid Darussalam, Tamiang. Air masih sebatas pinggang ketika mereka memilih bertahan di dalam mobil. Namun arus terus menguat. Seorang pria berteriak panik dan meminta mereka segera menyelamatkan diri. Tanpa sempat membawa barang apa pun, mereka berlari ke dalam masjid.
Tak lama setelahnya, bumi berguncang. Gempa mengguncang tiga kali. Dinding masjid bergetar. Dari jendela, mereka hanya bisa menyaksikan mobil mereka perlahan tenggelam, hingga akhirnya hilang ditelan air keruh. “Masjid Darussalam Tamiang adalah tempat kami bertahan hidup terakhir,” ucap Rinda dengan suara bergetar ketika ditemui di rumahnya, Kampung Lebak Saninten, Kecamatan Rangkasbitung, Senin (8/12/2025).
Selama tujuh hari, mereka terjebak. Tanpa listrik. Tanpa makanan. Tanpa air bersih. Tanpa bantuan. Hanya 21 orang berada di dalam masjid, saling memberi kekuatan.
Baca Juga: Selama 4 Hari, 20 Desa di Kabupaten Serang Dilanda Bencana Alam
Rinda bersama ibunya Tati Suryati, serta dua rekannya Noni Fauziah dan Aang Abdul Khalik, menyaksikan langsung betapa ganasnya alam. Mobil-mobil terseret arus. Pohon roboh menutup jalan, menjebak siapa pun yang mencoba kabur. Tati mengingat hari paling menakutkan itu dengan mata berkaca-kaca.
“Masjid itu punya tujuh anak tangga. Hari Rabu air sudah sampai tangga ketiga. Kamis malam sampai tangga keenam. Kalau hujan satu hari lagi, mungkin kami semua hanyut,” katanya perlahan.
Ketakutan perlahan berubah menjadi putus asa. Deru arus di luar terdengar seperti lautan yang mengamuk. Rumah-rumah hanyut satu per satu. Hingga mereka melihat sesuatu yang tak pernah sanggup dilupakan: “Ada jenazah yang tak bisa dikafani. Akhirnya digantung di pohon sawit di depan masjid,” cerita mereka.
Hari keenam, air mulai turun. Meski arus masih ganas, seorang warga yang memiliki ponsel satelit berada dua kilometer dari lokasi. Dengan langkah tertatih, Rinda meminta izin meminjam ponsel hanya 15 menit cukup untuk memberi kabar bahwa mereka masih hidup. Akhirnya, setelah tujuh hari bertahan tanpa kepastian, mereka berhasil dievakuasi. Mobil hilang, harta tak tersisa, namun mereka pulang membawa nyawa.
“Kami berterima kasih kepada Ibu Bupati Lebak, Ibu Belia (Ketua TP PKK Lebak-red), dan semua yang menjemput. Tanpa mereka, kami mungkin tidak ada di sini hari ini,” ujarnya.
Ihwal Kepulangan mereka dibenarkan Sekretaris BPBD Lebak, Febby Rizki Pratama. “Alhamdulillah, mereka bisa keluar dari lokasi bencana dan tiba di Jakarta dengan selamat pada Minggu, 7 Desember 2025 sore, dibantu anggota BPBD,” terangnya.
Baca Juga: Rumah dan Sekolah di Lebak Rusak Diterjang Puing Longsor
Febby mengakui proses evakuasi tak mudah. Jalur utama Aceh–Medan terputus, akses rusak, dan Bandara Sultan Iskandar Muda belum beroperasi normal. “Satu-satunya cara adalah lewat jalur darat, dan itu pun dengan sangat hati-hati. Syukurlah semuanya selamat,” katanya. Kini, empat warga Lebak itu telah kembali ke rumah, memeluk keluarga yang sempat mengira mereka tak akan pulang. (mulyana)
























