INDONESIA tengah memasuki fase bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif melampaui usia nonproduktif. Data BPS (2021) menunjukkan proporsi penduduk usia 15–64 tahun telah meningkat dari 53,39% pada 1971 menjadi 70,72% pada 2020.
Di tengah kondisi ini, Generasi Z—lahir antara 1997 hingga 2012—menjadi aktor utama dalam tren gaya hidup dan konsumsi. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika yang dikutip Pierre (2023), Gen Z di Indonesia mencapai 74,93 juta jiwa atau sekitar 27,94% dari total penduduk.
Generasi ini dikenal sebagai pengguna layanan teknologi keuangan paling aktif, sejalan dengan kemampuan mereka beradaptasi dengan cepat terhadap aplikasi digital dan layanan online.
Perilaku keuangan merefleksikan bagaimana individu mengatur dana, menabung, dan berinvestasi. Anggitha (2021) menyebut bahwa perilaku keuangan menunjukkan tanggung jawab individu atas dana mereka, sementara Bencsik & Machova (2016) menyoroti bahwa Gen Z sangat mahir dalam memanfaatkan digital untuk pengambilan keputusan finansial.
Friyatmi (2022) menegaskan bahwa literasi dan perilaku keuangan yang sehat sangat penting agar generasi ini dapat menjaga kesejahteraan finansial lantaran mudahnya akses ke layanan keuangan digital.
Dalam konteks ini, prioritas keuangan Gen Z mulai bergeser: jika generasi sebelumnya menabung untuk pesta pernikahan besar, Gen Z kini sebagian besar memilih pengalaman traveling sebagai prioritas utama.
Data terbaru dari Asia Travel Market Tracker (2024) memperkuat kecenderungan Gen Z dalam memprioritaskan perjalanan dibanding pengeluaran lain.
Sebanyak 64,1% Gen Z Asia menyatakan niat kuat untuk bepergian dalam enam bulan ke depan, sementara hanya 14,5% yang tidak memiliki rencana perjalanan. Selain itu, 33,5% berencana melakukan minimal satu perjalanan, dan 27,5% bahkan berencana dua perjalanan dalam periode tersebut.
Faktor yang paling memengaruhi pilihan destinasi adalah keamanan (59%), biaya perjalanan yang terjangkau (58,1%), dan cuaca yang menyenangkan (56,3%), menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya mengejar prestise, tetapi sangat mempertimbangkan pengalaman yang nyaman dan rasional.
Berikut data infografis
Infografis ini menunjukkan bahwa Gen Z sangat mengandalkan rekomendasi sosial, di mana 59,2% mengambil informasi dari media sosial dan 58,1% dari keluarga atau teman, memperkuat fenomena bahwa keputusan perjalanan kini sangat dipengaruhi jejaring social digital.
Minat utama mereka pun bervariasi: 52,2% menyukai aktivitas budaya dan sejarah, 50,9% menyukai alam, dan 43,4% menyukai aktivitas urban.
Data tersebut semakin menegaskan bahwa traveling bagi Gen Z telah menjadi sarana eksplorasi identitas dan pertumbuhan diri.
Linimasa Gen Z yang dipenuhi konten traveling—“travel is healing”, “invest in memories”— memperkuat aspirasi perjalanan sebagai investasi pengalaman.
Berburu kuliner otentik, menemukan hidden gem, mengunjungi tempat wisata unik, adalah hal-hal yang dilakukan Gen Z saat travelling. Paket open trip dengan harga relatif terjangkau dan peluang bertemu orang baru juga dianggap lebih realistis, relevan, dan bernilai.
Traveling kini bukan sekadar liburan, melainkan bagian dari pembentukan identitas diri, membangun jaringan, dan memenuhi rasa ingin tahu yang tinggi.
Sementara, tren merubah konsep wedding dream menjadii lebih sederhana, salah satunya disebabkan oleh faktor ekonomi. Biaya pernikahan di kota besar terus meningkat, sementara pendapatan Gen Z tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup.
Keseimbangan finansial menjadi pertimbangan utama sehingga banyak pasangan muda memilih intimate wedding—resepsi sederhana, lebih terjangkau, namun bermakna—daripada pesta yang besar dan mahal.
Bagi generasi sebelumnya, pernikahan mewah sering dianggap simbol prestise, namun bagi Gen Z, kebahagiaan personal dan keseimbangan keuangan lebih diutamakan.
Pada bulan Desember 2024, viral pernikahan sederhana yang dibagikan melalui akun TikTok @cherry.here. Pengantin wanita ini membagikan momen pernikahannya yang hanya dihadiri orang-orang terdekat. Tidak ada pelaminan di acara pernikahannya. Mempelai berbaur dengan tamu dan menyapa satu per satu.
Pernikahan sederhana itu juga tidak memakai adat khusus dan tidak ada pergantian baju seperti pernikahan pada umumnya. Hiburan pun hanya lagu yang diputar melalui sound system. Bahkan busana pengantin wanita dibuat sendiri oleh sang ibu. Begitupun jas pengantin pria dibeli secara online agar murah dan praktis.
Pergeseran ini mencerminkan bahwa bagi Gen Z, makna personal menggantikan legitimasi sosial. Wedding Dream tidak lenyap, tetapi cara memaknainya berubah. Bukan sekadar pesta besar, tetapi ritual yang bermakna dan sesuai dengan nilai hidup dan kemampuan finansial.
Tentunya, menentukan konsep pernikahan tak bisa diputuskan satu pihak. Dengan kultur dan budaya Indonesia, sebagian orang tua masih menginginkan kemegahan acara pernikahan yang harus meriah karena dianggap sebagai acara sekali dalam seumur hidup.
Dalam konteks traveling, Gen Z menemukan lebih dari sekadar destinasi: mereka menemukan keunikan, mendapatkan pertemanan, kehangatan sosial, dan pengalaman yang tak bisa digantikan. Tujuan wisata yang mahal atau main stream mungkin bukan pilihan bagi Gen Z.
Riset terbaru menunjukkan bahwa keputusan jalan-jalan Gen Z Indonesia sangat dipengaruhi oleh orang-orang terdekat. Lebih dari 60% Gen Z mengandalkan rekomendasi teman atau keluarga sebelum memilih destinasi liburan (data: Travel Trends Report Indonesia 2023).
Jadi, kalau ada kerabat yang baru pulang dari sebuah tempat, mereka biasanya langsung tanya rekomendasi spot, makanan, hingga aktivitas terbaik di sana.
Selain itu, Gen Z juga rajin mengecek review traveler lain. Saat memilih hotel atau aktivitas wisata, mereka akan melihat rating bintang dan membaca ulasan dari orang yang sudah mencoba duluan—seolah review tersebut menjadi “kompas” utama sebelum memutuskan.
Jadi, pertanyaan “Traveling atau Wedding Dream?” bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan refleksi dari bagaimana Gen Z memaknai kebahagiaan, relasi, dan masa depan.
Pilihan tiap individu tentu berbeda, namun trennya sangat jelas: generasi ini menempatkan pengalaman bermakna, kebebasan finansial, dan keseimbangan hidup di atas simbol prestise.
Mereka memilih untuk membangun masa depan berdasarkan apa yang benar-benar memberi nilai dalam hidup mereka—bukan sekadar memenuhi ekspektasi sosial sebagaimana generasi-generasi sebelumnya. (*)
*(Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Surabaya)