SATELITNEWS.COM, JAKARTA — Skala kerusakan infrastruktur dan jumlah korban jiwa akibat rangkaian bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus bertambah. Sedikitnya terdapat 1.666 titik kerusakan infrastruktur, dan 950 orang meninggal serta 274 orang masih hilang hingga Senin (8/12/2025).
Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Diana Kusumastuti menyampaikan, angka 1.666 titik kerusakan infrastruktur itu berdasarkan pendataan terakhir hingga 6 Desember 2025.
“Jumlah titik kerusakan ini terus kami update seiring terbukanya akses jalan serta pendataan dan pengecekan yang terus berjalan,” ujar Diana dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI.
Sumatera Barat tercatat menjadi provinsi dengan kerusakan paling besar, yakni 914 titik, yang didominasi longsor (203 titik), banjir (119 titik), dan jembatan tergerus (56 titik). Aceh menyusul dengan 477 titik kerusakan, terutama banjir tanggul kritis (143 titik), longsor (46 titik), dan banjir tanggul jebol (36 titik).
Adapun Sumatera Utara mencatat 275 titik kerusakan, didominasi longsor (113 titik), jalan tergenang (17 titik), dan jalan putus (13 titik).
Total kerusakan itu meliputi 72 ruas jalan nasional sepanjang 2.058 km, 31 jembatan nasional sepanjang 2.537 meter. Selain itu, 108 ruas jalan daerah dan 48 jembatan daerah di tiga provinsi.
Sejumlah akses jalan nasional masih belum bisa dilalui. Di Aceh, ruas Meureudu–batas Pidie Jaya, Bireuen–batas Aceh Utara, Bireuen–Bener Meriah–Aceh Tengah, serta Gayo Lues–Aceh Tenggara masih terputus.
Di Sumatera Utara, jalur Tarutung–Sibolga, Tarutung–Sipirok, dan Sibolga–Batang Toru–Singkuang belum tersambung. Sementara di Sumatera Barat, ruas Sicincin–batas Kota Padang Panjang masih belum dapat dilewati.
“Kami tetap berupaya untuk bisa menembus bersama-sama dengan TNI dan Polri,” ucap Diana.
Upaya pemulihan konektivitas disebut dilakukan paralel. Progres penanganan darurat mencapai 48,34 persen di Aceh, 76,44 persen di Sumut, dan 31,47 persen di Sumbar.
Seluruh jalan tol di tiga provinsi kini kembali berfungsi, kecuali Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi yang ditargetkan pulih sebelum 16 Desember 2025.
“Kementerian PU bersama stakeholder terkait sedang melakukan penanganan tanggap darurat. Progresnya masih kami susun dan akan kami laporkan secara detail,” kata dia.
Kementerian PUPR juga menerjunkan 310 personel, 298 unit alat berat, serta 121 unit alat pendukung dalam operasi tanggap darurat.
Sementara itu, BNPB dalam pembaruan data pukul 10.48 WIB, Senin (8/12), mencatat lebih dari 850 ribu warga mengungsi dan total 5.000 orang luka-luka akibat banjir dan longsor yang melanda 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Selain menelan korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan kerusakan 156 ribu rumah, 435 jembatan, 1.200 fasilitas umum, serta 534 sekolah.
BNPB memperkirakan jumlah korban dapat berubah seiring proses evakuasi dan pembersihan area terdampak yang masih berlangsung. Rincian korban di masing-masing provinsi adalah sebagai berikut:
Di Aceh korban meningal dunia mencapai 386 orang, korban hilang 101 orang dan korban luka sebanyak 4.300 orang. Di Sumatera Utara, korban meninggal tercatat 330 orang, hilang 78 orang dan luka 647 orang. Sedangkan di Sumatera Barat, sebanyak 234 orang korban meninggal dunia, 95 hilang dan 112 orang luka-luka.
Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal Suharyanto melaporkan perkiraan total anggaran untuk pemulihan segala kerusakan akibat banjir Sumatera mencapai Rp 51,82 triliun.
Angka ini dilaporkan Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto saat rapat terbatas penanganan dan pemulihan bencana di Pos Pendamping Nasional Penanganan Bencana Alam Aceh di Pangkalan TNI AU Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pada Minggu (7/12/2025) malam.
Suharyanto mengatakan anggaran untuk memulihkan kondisi di Aceh seperti semula membutuhkan Rp 25,41 triliun. Sumatera Utara membutuhkan anggaran Rp 12,88 triliun untuk rehabilitas dan rekonstruksi fasilitas bangunan atau prasarana di sana. Sedangkan Sumatera Barat membutuhkan anggaran pemulihan dan perbaikan sebesar Rp 13,52 triliun. (rmg/xan)