SATELITNEWS.COM, LEBAK – Bisnis tour dan travel wisata di Kabupaten Lebak hingga awal 2026 masih menunjukkan tren lesu. Bahkan, momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) belum mampu mendongkrak kunjungan wisatawan luar daerah yang menggunakan jasa agen tour dan travel lokal.
Ketua DPC Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Kabupaten Lebak, Agus Solehan, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satu persoalan utama adalah maraknya akomodasi wisata dan agen perjalanan ilegal yang tidak terdaftar secara resmi.
“Periode Nataru kemarin belum berdampak signifikan terhadap peningkatan bisnis tour dan travel lokal. Salah satu persoalan seriusnya adalah banyaknya akomodasi dan agen wisata ilegal yang tidak terdaftar,” ujar Agus, Rabu (7/1/2026). Menurutnya, praktik usaha wisata ilegal tidak hanya merugikan pelaku usaha resmi yang tergabung dalam ASITA, tetapi juga berpotensi mencederai citra pariwisata Kabupaten Lebak.
Pasalnya, akomodasi yang tidak terdaftar umumnya mengabaikan standar layanan, kenyamanan, hingga aspek keselamatan wisatawan. “Selain itu, mereka juga tidak berkontribusi terhadap pendapatan daerah karena tidak membayar pajak. Ini jelas merugikan daerah,” tegasnya.
Faktor lain yang turut memengaruhi lesunya bisnis tour dan travel, lanjut Agus, adalah kecenderungan calon wisatawan yang menunda perjalanan wisata. Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya daya beli masyarakat, yang diperparah dengan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
“Walaupun di destinasi wisata terlihat ramai, belum tentu itu wisatawan luar daerah yang menggunakan jasa agen. Secara umum, tahun ini memang terjadi penurunan dan hampir dirasakan di semua daerah,” jelasnya.
Baca Juga: Kios Sawarna Terbengkalai, Begini Respons DPRD Lebak
Meski demikian, Agus menilai potensi bisnis tour dan travel di Kabupaten Lebak masih sangat besar. Keberagaman destinasi wisata alam dan budaya menjadi modal utama yang perlu terus dikembangkan secara berkelanjutan.
ASITA Lebak pun telah menjalin kerja sama dengan ASITA Jawa Barat melalui paket wisata jangka panjang (long trip), khususnya untuk destinasi Baduy dan Sawarna. “Kami sudah memiliki MoU dengan ASITA Jawa Barat untuk paket wisata Baduy dan Sawarna. Dua destinasi ini kini sudah berkembang pesat dari sisi sarana dan prasarana, meskipun masih ada beberapa aspek yang perlu terus ditingkatkan,” ungkapnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Yosep M. Holis, mengakui masih adanya tantangan dalam penataan dan pengawasan usaha pariwisata, termasuk akomodasi dan agen wisata yang belum mengantongi legalitas resmi.
Disbudpar, kata Yosep, terus mendorong pelaku usaha pariwisata untuk mengurus legalitas usaha, sekaligus memperkuat pengawasan bersama instansi terkait guna menekan praktik wisata ilegal yang merugikan pelaku usaha resmi dan daerah. “Kami berkomitmen untuk terus melakukan promosi wisata, meningkatkan kualitas destinasi, serta memperkuat sinergi dengan pelaku usaha lokal agar geliat pariwisata Lebak dapat berdampak langsung terhadap sektor tour dan travel,” ujarnya. (mulyana)
























