SATELITNEWS. COM, JAKARTA—Aktivitas masyarakat yang kembali ramai, dari berbelanja hingga bepergian, menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi tumbuh 5,11 persen, didongkrak terutama oleh konsumsi rumah tangga.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa pertumbuhan masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).
Konsumsi rumah tangga menyumbang 2,62 persen, sementara PMTB 1,58 persen, sehingga keduanya memberi kontribusi lebih dari 80 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional.
“Mobilitas masyarakat yang meningkat membuat pengeluaran untuk makan dan minum, transportasi, komunikasi, serta barang modal ikut naik,” ujar Amalia, dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025, di kantor BPS, Jakarta, Kamis (05/02/2026).
Sepanjang 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen, terutama pengeluaran restoran dan hotel yang naik 6,38 persen seiring meningkatnya kegiatan wisata domestik di akhir tahun.
PMTB tumbuh 5,09 persen, dengan subkomponen mesin dan perlengkapan melonjak 17,99 persen, sejalan dengan meningkatnya impor barang modal dan produksi industri mesin dalam negeri.
Ekspor Indonesia naik 7,03 persen, didorong peningkatan nilai ekspor barang nonmigas dan jasa, sementara impor masih kontraksi 20,54 persen, sehingga net ekspor menyumbang 0,74 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi distribusi, konsumsi rumah tangga tetap mendominasi dengan 53,88 persen dari total PDB, disusul PMTB 28,77 persen dan ekspor 22,85 persen. Net ekspor sendiri memberikan kontribusi tambahan, menunjukkan peran perdagangan luar negeri dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Sektor ekonomi yang paling berperan adalah industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Lima sektor utama ini menyumbang hampir 64 persen total PDB nasional.
Industri pengolahan tumbuh 5,30 persen dengan kontribusi 19,07 persen, didorong permintaan domestik dan ekspor. Sub-sektor makanan & minuman naik 6,39 persen, logam dasar 15,71 persen, dan kimia, farmasi, serta obat tradisional 8,35 persen, menunjukkan keberlanjutan produksi barang konsumsi dan industri.
Perdagangan mencatat pertumbuhan 5,49 persen, pertanian 5,33 persen, dan konstruksi 3,81 persen, masing-masing berkontribusi signifikan terhadap PDB.
Selain itu, sektor jasa lainnya tumbuh 9,93 persen, jasa perusahaan 9,10 persen, dan transportasi serta pergudangan 8,78 persen, sejalan dengan meningkatnya aktivitas wisata, perjalanan, dan pengiriman barang. Sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,35 persen, terdorong meningkatnya lalu lintas data dan penetrasi internet.
Secara kuartalan, pertumbuhan tercatat 4,87 persen kuartal I, 5,12 persen kuartal II, 5,04 persen kuartal III, dan 5,39 persen kuartal IV.
Pertumbuhan kuartal IV secara qtq mencapai 0,86 persen, dengan wilayah Jawa dan Sulawesi tumbuh lebih cepat dibanding rata-rata nasional.
Angka ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi terasa di hampir semua wilayah, meskipun laju pertumbuhan tiap kuartal sedikit berbeda karena dinamika konsumsi, produksi, dan ekspor.
Bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk bekerja pada November 2025 mencapai 147,91 juta orang, naik 1,37 juta dibanding Agustus 2025.
Tingkat pengangguran terbuka turun 0,11 persen menjadi 4,74 persen. Dengan demikian, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,35 juta orang pada November 2025. Angka tersebut turun sekitar 109 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.
Sementara tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat menjadi 70,95 persen, lebih tinggi dibanding Agustus (70,59 persen). Jumlah pekerja penuh mencapai 100,49 juta orang, bertambah 1,85 juta orang, sedangkan pekerja paruh waktu tercatat 35,8 juta orang dan setengah pengangguran 11,55 juta orang, keduanya mengalami penurunan.
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, diikuti perdagangan dan industri pengolahan.
Hampir seluruh sektor mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja, kecuali aktivitas jasa lainnya serta pengadaan listrik dan gas. Kenaikan tertinggi dalam periode Agustus–November 2025 terjadi pada akomodasi dan makanan minuman (+0,381 juta orang), industri pengolahan (+196 ribu orang), dan perdagangan (+168 ribu orang).
Berdasarkan status pekerjaan, 38,81 persen penduduk bekerja berstatus buruh, karyawan, atau pegawai, dengan penambahan terbesar 625 ribu orang, sementara pekerja berstatus usaha sendiri mengalami penurunan 0,68 juta orang, mencerminkan pergeseran struktur pekerjaan di masyarakat.
Di sisi lain, BPS mencatat tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2025 berada di angka 8,25 persen dari total penduduk. Angka ini turun 0,22 persen poin dibandingkan 8,47 persen pada Maret 2025. Penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin dari 23,85 juta orang pada Maret menjadi 23,36 juta orang pada September 2025.(rmg/xan)