SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Meski sebelumnya ada imbauan kepada masyarakat agar tidak memanfaatkan air Sungai Cisadane Tangerang secara langsung pasca ikan mati usai insiden kebakaran pabrik pestisida di Tangsel namun hal itu tidak menghalangi masyarakat di Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang untuk melakukan ritual keramas bareng.
Ritual keramas bareng merupakan tradisi yang digelar masyarakat sekitar Sungai Cisadane, khususnya jelang bulan Ramadan. Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang juga sudah memberikan jaminan soal standar baku mutu air sungai terbesar di Kota Tangerang itu tetap aman.
Suasana bantaran Kali Cisadane tepat di depan Kampung Bekelir, Kecamatan Tangerang, Selasa (17/2/2026), tampak berbeda sejak siang hari. Ratusan warga, dari anak-anak hingga orang tua, memadati tepian sungai. Mereka bukan hendak berwisata, melainkan mengikuti tradisi keramas bareng untuk menyambut bulan suci Ramadan.
Air sungai Cisadane yang mengalir menjadi saksi kebersamaan sekitar 500 warga RW 02, Kelurahan Babakan, yang turun bersama-sama. Dengan membawa sabun dan perlengkapan mandi seadanya, warga berjejer di tepian sungai, sebagian turun perlahan ke air, sebagian lagi saling menyapa dan bersalaman. Tradisi ini bukan hal baru.
Ketua RW 02 Babakan, Cucu Sudrajat, mengatakan kegiatan tersebut telah berlangsung selama dua dekade terakhir. “Jadi kegiatan keramas bareng di wilayah RW 02 itu merupakan tradisi adat kebiasaan yang dilakukan sejak kira-kira tahun 2005. Tahun ini adalah tahun ke tahun kami melakukan tradisi dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan,” ujar Cucu saat diwawancarai Wartawan SatelitNews.Com, di lokasi.
Menurut dia, tradisi ini berawal dari aktivitas warga yang terpusat di Musala Al-Ijtihad yang letaknya berdampingan langsung dengan Kali Cisadane. Dari situlah, kegiatan bersih diri menjelang Ramadan berkembang menjadi agenda tahunan. “Karena waktu itu riwayatnya di sini ada musala, namanya Musala Al-Ijtihad. Jadi setiap warga melakukan kegiatan terpusat karena musala itu pas berada di samping Kali Cisadane. Jadi sebuah tradisi kita lakukan sejak turun-temurun hingga saat ini,” katanya.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Gelar Uji Emisi Kendaraan Gratis 8–9 September
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang, Supendi, menegaskan tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun di bantaran Cisadane dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat. “Umumnya Kecamatan Tangerang, ini sudah puluhan tahun dilaksanakan di bantaran Kali Cisadane. Dan ini merupakan cagar budaya tak benda yang terus-menerus digalakkan oleh masyarakat,” ujar Supendi.
Ia menyebut, meski generasi leluhur telah berganti, semangat menjaga tradisi tak pernah surut. Warga tetap konsisten melaksanakan keramas bareng sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut Ramadan. “Percaya atau tidak percaya, mensucikan diri ini menjadi kewajiban buat masyarakat khususnya umat Islam menjelang bulan suci Ramadan. Sehingga selain mandi keramas bareng, ini juga ajang silaturahmi antarwarga. Di sinilah tumbuh kebersamaan, saling memaafkan, dan mensucikan diri untuk menuju yang lebih suci lagi di bulan Ramadan,” jelasnya.
Supendi menambahkan, pihaknya tengah mengajukan tradisi tersebut agar diakui sebagai cagar budaya tak benda tingkat daerah. “Oh iya, ini salah satu nilai kebudayaan. Memang saya akan ajukan untuk menjadi cagar budaya tak benda,” katanya.
Peserta kegiatan tak hanya berasal dari RW 02. Warga dari lingkungan lain di Kelurahan Babakan bahkan dari wilayah lain di Kecamatan Tangerang juga turut ambil bagian. “Bisa ikut. Dan memang pada kenyataannya banyak dari lingkungan lain yang ikut serta melaksanakan keramas bareng ini,” ujar Cucu.
Meski berlangsung meriah, panitia tetap memperhatikan aspek keamanan. Apalagi, kondisi Kali Cisadane kini tak sebersih dulu. “Kalau dulu Kali Cisadane itu masih bening, arusnya juga terlihat. Namun dari tahun ke tahun bertambah kotor. Nah, sebagai antisipasi kita berkomunikasi dengan Tagana, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Budaya dan Pariwisata, juga aparat penegak hukum,” kata Cucu.
Ia menyebut, tim SAR juga disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan, terutama karena banyak anak-anak yang ikut serta. Beberapa waktu lalu, sempat terjadi kasus dugaan pencemaran bahan kimia di aliran Cisadane. Isu itu sempat menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terlebih menjelang tradisi keramas bareng.
Baca Juga: Air Sungai Cisadane Menghitam dan Bau, Ini Langkah DLH Kota Tangerang
Menanggapi hal tersebut, Supendi menegaskan warga tetap memiliki kepercayaan kuat terhadap sungai yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. “Pencemaran sudah lewat kemarin. Warga sini tetap percaya bahwa Air Sadane ini adalah sumber kehidupan,” ujarnya.
Senada, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Wawan Fauzi, memastikan kualitas air telah kembali memenuhi baku mutu. “Sebenarnya yang kita lihat secara online itu hari kedua kejadian sudah memenuhi baku mutu,” kata Wawan saat dikonfirmasi wartawan satelitnews lewat telepon seluler.
Menurut dia, berbagai upaya dilakukan untuk mempercepat normalisasi kualitas air, termasuk kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup serta komunitas peduli sungai. “Kita bersama NGO yang peduli Cisadane menyebar eco enzyme. Sampai dengan hari ini kita dengan Kementerian Lingkungan Hidup juga melakukan susur sungai,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pemantauan, kondisi air di sekitar Kampung Bekelir telah masuk batas normal. “Insyaallah aman,” katanya singkat. Tak hanya orang tua, kalangan pemuda juga terlibat aktif dalam penyelenggaraan kegiatan. Gery, salah satu pemuda Babakan, menyebut tradisi ini sudah berlangsung bahkan sejak era 1990-an secara informal. “Syukur alhamdulillah warga masih antusias sama acara yang sudah kita kemas. Acara ini memang setiap tahun sudah kita selenggarakan,” ujar Gery.
Terkait isu pencemaran, ia mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas terkait dan bersyukur respons pemerintah cukup cepat. “Alhamdulillah pemerintah cepat tanggap. Kita juga sudah komunikasi soal air. Terakhir dapat berita air juga steril. Kemarin sudah dikasih penawar racun dari BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup,” katanya.
Gery berharap kekompakan pemuda babakan, tetap terjaga agar tradisi ini terus berlanjut. “Harapannya kita selaku Pemuda tetap kompak, makin solid, makin banyak disukai orang,” ujarnya. Di tengah semarak tradisi, terselip harapan besar warga terhadap kondisi sungai. Bagi mereka, Cisadane bukan sekadar aliran air, melainkan ruang hidup yang menyatukan.
“Harapan yang paling ini ya, Kali Cisadane-nya itu walaupun agak sulit, tapi mudah-mudahan bisa bersih kembali. Itu harapan kami, karena Kali Cisadane ini sangat bermanfaat bagi kehidupan di wilayah RW 02,” tutur Cucu. Tradisi keramas bareng di Babakan kini bukan hanya ritual menyambut Ramadan. Ia telah menjelma menjadi simbol identitas, solidaritas, dan doa kolektif agar sungai tetap menjadi sumber kehidupan.
Di tepian Cisadane, menjelang azan dan datangnya bulan puasa, warga Babakan meneguhkan niat: membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan menjaga warisan budaya yang telah berusia ratusan tahun dari satu generasi ke generasi berikutnya. (ari)
























