SATELITNEWS.COM, BEKASI—Sekitar 3,5 juta kendaraan diprediksi oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk akan keluar dari Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) melalui jalan tol selama periode arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret, puncak arus balik diproyeksi berlangsung 24 Maret 2026.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan pergerakan kendaraan diperkirakan mulai meningkat sejak Jumat, 13 Maret 2026, seiring panjangnya periode libur Lebaran yang memberi kesempatan masyarakat melakukan perjalanan lebih awal.
“Puncak arus mudik kami perkirakan terjadi pada 18 Maret. Namun pergerakan kendaraan sudah mulai terlihat sejak Jumat (13/3) karena periode libur yang cukup panjang. Untuk arus balik diproyeksikan terjadi pada 24 Maret,” ujar Rivan dalam media briefing di Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC), Jatiasih, Bekasi, Selasa (10/3/2026).
Dari total proyeksi 3,5 juta kendaraan tersebut, sekitar 28 persen diperkirakan menuju arah barat ke Merak. Kemudian, sekitar 50 persen menuju arah timur melalui Tol Jakarta–Cikampek dan jaringan Trans Jawa. Sementara sekitar 20 persen menuju arah selatan ke wilayah Bogor dan sekitarnya.
Arus kendaraan menuju timur menjadi perhatian utama karena volumenya besar dan kembali terbagi. Sekitar 57 persen kendaraan diperkirakan melanjutkan perjalanan menuju jaringan Trans Jawa. Sedangkan sekitar 42 persen menuju Cileunyi melalui Tol Cipularang.
Pertemuan volume kendaraan tersebut kerap memicu kepadatan di KM 66 Tol Jakarta–Cikampek, yang menjadi titik temu arus dari berbagai arah. “Kepadatan biasanya terjadi di Kilometer 66 karena adanya pertemuan volume kendaraan yang sangat besar, terutama yang menuju Trans Jawa,” kata Irvan.
Selain memproyeksikan puncak arus mudik, Jasa Marga juga mencatat adanya pergeseran pola perjalanan masyarakat pada musim mudik tahun ini. Berdasarkan pemantauan hingga H-19 Lebaran, volume kendaraan sudah menunjukkan peningkatan dibandingkan kondisi normal.
Pada periode H-26 hingga H-20, lalu lintas kendaraan tercatat meningkat sekitar 3,26 persen dibandingkan lalu lintas harian biasa dan naik 4,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terjadi pada kendaraan golongan satu maupun non-golongan satu.
“Tren ini menunjukkan pergerakan sudah dimulai lebih awal. Tidak hanya pada H-10, tetapi sejak H-20 sudah terlihat adanya peningkatan arus,” ujar Rivan.
Untuk mendukung kelancaran arus kendaraan selama periode Angkutan Lebaran 2026, Jasa Marga juga menyiapkan empat jalan tol yang akan dioperasikan secara fungsional.
Tol fungsional pertama adalah Yogyakarta–Purwomartani yang disiapkan untuk mengurangi potensi kepadatan di kawasan Prambanan. Dengan jalur ini, kendaraan dari Yogyakarta menuju Solo dapat masuk melalui Purwomartani sehingga tidak terjadi perpotongan arus di Prambanan.
Berikutnya adalah Tol Yogyakarta–Bawen Seksi 6 yang menghubungkan Bawen hingga Ambarawa sepanjang sekitar enam kilometer. Jalan ini diharapkan dapat mengurai kemacetan di jalur Bawen hingga kawasan Pasar Ambarawa.
Jasa Marga juga menyiapkan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan yang menghubungkan Sadang hingga Setu. Ruas ini direncanakan beroperasi secara fungsional setelah 15 Maret 2026 dan difokuskan untuk melayani arus balik dari arah Bandung serta Tol Cipularang guna mengurangi kepadatan di KM 66 Tol Jakarta–Cikampek.
Selain itu, Tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi) sepanjang sekitar 49–50 kilometer juga disiapkan secara fungsional untuk mempercepat perjalanan dari Surabaya menuju Situbondo maupun Besuki. Pada jalur ini disiapkan rest area fungsional, kamera pemantau lalu lintas untuk traffic counting, serta SPBU modular.
Di sisi lain, Jasa Marga juga melakukan identifikasi berbagai faktor yang berpotensi memicu kecelakaan selama periode mudik sebagai bagian dari strategi mitigasi keselamatan pengguna jalan.
Tak hanya itu, berbagai teknologi dimanfaatkan untuk memantau kondisi lalu lintas secara real time melalui pusat kendali di JMTC. Salah satunya adalah radar pemantau kendaraan yang tersebar di lebih dari 283 titik, tidak hanya di ruas tol tetapi juga di jalan arteri, yang memungkinkan pengelola memantau pergerakan kendaraan bahkan sebelum memasuki jalan tol.
Sejumlah kamera pengawas dilengkapi teknologi Intelligent Traffic Analysis yang mampu menghitung jumlah kendaraan berdasarkan golongannya secara otomatis. Jasa Marga juga memasang sensor ketinggian air di sejumlah titik untuk mengantisipasi potensi banjir di jalan tol. (rmg/xan)