SATELITNEWS.COM, LEBAK–Momen halalbihalal yang seharusnya menjadi ajang saling memaafkan dan mempererat soliditas, justru diwarnai polemik di kalangan elite Kabupaten Lebak. Peristiwa yang terjadi di Pendopo Pemkab Lebak itu memicu sorotan publik, khususnya setelah muncul pernyataan yang dinilai tidak pantas disampaikan dalam forum resmi.
Ketua DPD Partai Golkar Lebak yang juga anggota DPR RI, Adde Rosi Khoerunnisa, menyayangkan insiden tersebut. Menurutnya, halalbihalal semestinya dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Harusnya momen halalbihalal menjadi ruang untuk saling memaafkan dan memaksimalkan kebaikan dalam diri, khususnya bagi para pejabat dan penyelenggara pemerintahan agar bisa memberikan pelayanan publik yang lebih baik,” ujarnya melalui sambungan teleponnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menegaskan, masyarakat Lebak membutuhkan para pemimpin yang bekerja secara total. Bukan justru terjebak pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat. “Lebak butuh pejabat yang all out dalam bekerja, bukan dalam hal-hal yang tidak ada faedahnya,” tegasnya.
Adde juga berharap hubungan dan koordinasi antar pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun daerah, tetap berjalan dengan baik demi kepentingan masyarakat. “Saya harap semua baik-baik saja, dan koordinasi dengan pusat, provinsi, serta para anggota dewan dapil Lebak bisa terus berjalan dengan baik,” katanya.
Ia optimistis persoalan tersebut dapat segera diselesaikan, mengingat para pihak yang terlibat merupakan tokoh berpengalaman yang memiliki komitmen membangun daerah. “Saya yakin ini akan segera beres. Mereka adalah tokoh masyarakat yang berpengalaman dan punya komitmen tinggi untuk membangun Lebak. Kepentingan masyarakat jauh lebih penting dan lebih mendesak dibanding persoalan lain,” imbuhnya.
Baca Juga: 2 Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Dadap Tangerang, 419 Butir Tramadol-Hexymer Disita
Senada, akademisi FISIP Universitas Setia Budhi Rangkasbitung, Agus Sutisna, menilai peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang ironis dan patut disesalkan. “Ironis, karena acara halal bihalal yang mestinya menjadi ruang muhasabah, saling mawas diri, memperkuat soliditas birokrasi, justru diwarnai insiden yang sama sekali tidak pantas,” ujarnya. Agus menyarankan agar kedua belah pihak menahan diri dan melakukan refleksi.
“Pertama, saat ini mereka perlu cooling down, sambil masing-masing melakukan mawas diri. Bahwa setiap pemimpin punya kelebihan dan kekurangan. Soliditas keduanya justru akan menutup kekurangan itu dan memperkuat kelebihan,” jelasnya. Ia juga mendorong agar setelah situasi mereda, dilakukan langkah islah atau rekonsiliasi secara tulus.
“Kedua, setelah suasana sejuk, segera lakukan islah, saling memaafkan dengan hati tulus dan pikiran jernih. Mereka mengemban amanah masyarakat Lebak untuk menghadirkan perubahan, bukan mengedepankan ego atau ambisi pribadi,” katanya. Lebih lanjut, Agus menekankan pentingnya memperbaiki hubungan kepemimpinan agar tidak berdampak luas terhadap pemerintahan dan masyarakat.
“Ketiga, segera rekatkan kembali hubungan kepemimpinan dengan duduk bersama membahas persoalan yang menjadi pemicu konflik. Jangan dibiarkan melebar dan jangan memberi ruang pihak eksternal memperkeruh keadaan. Ini menyangkut reputasi dan kepentingan daerah,” tegasnya.
Diketahui, polemik ini bermula saat acara halal bihalal di Pendopo Pemkab Lebak. Dalam sambutannya, Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya, melontarkan pernyataan yang menyinggung latar belakang Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah.
Di hadapan tamu undangan, Hasbi menyebut, “Uyuhan mantan napi jadi wakil bupati geh bersyukur,” yang dinilai sebagai sindiran terhadap masa lalu Amir Hamzah. Pernyataan tersebut sontak memicu reaksi dan menjadi perhatian publik hingga saat ini. Situasi yang sempat memanas itu pun menambah catatan tersendiri dalam dinamika hubungan pimpinan daerah di Kabupaten Lebak. (mulyana)
Baca Juga: Kekeringan Meluas, Warga 11 Desa di Lebak Kesulitan Air

















