SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Rencana penebangan pohon untuk pembangunan turap (tanggul) kali di kawasan Perumahan Villa Pamulang Mas, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menuai penolakan dari warga.
Mereka khawatir langkah tersebut justru memperburuk kondisi lingkungan dan tidak menjadi solusi efektif terhadap banjir yang telah terjadi selama bertahun-tahun.
Bendahara RW 08, Heri Pratikto (63) menjelaskan bahwa kekhawatiran utama warga adalah dampak penebangan pohon terhadap risiko banjir dan suhu lingkungan. Menurutnya, sosialisasi terkait proyek ini sebenarnya telah berlangsung sejak sekitar tiga bulan lalu, namun hingga kini belum ditemukan kesepakatan.
“Jadi awalnya warga keberatan dipotong pohon pohon dampaknya banjir, kekhawatiran itu. Masih dibicarakan untuk menemukan opsi-opsi,” uujarnya saat ditemui, Rabu (15/4/2026).
Salah satu alternatif yang diusulkan warga adalah mengoptimalkan fungsi kali yang berada di dekat lokasi. Kali tersebut memiliki lebar sekitar tiga meter, namun sudah tidak berfungsi maksimal selama kurang lebih 10 tahun.
“Dari warga minta di sebelah itu ada kali juga berukuran 3 meter kalau bisa itu difungsikan saja. Tapi kan belum ketemu pembicaraan berikutnya masih menunggu,” sebutnya.
Baca Juga: Musim Kemarau, Ribuan Kepala Keluarga di Tangsel Berpotensi Alami Krisis Air Bersih
Menurut Heri, sepuluh tahun lalu kali tersebut memang dibangun untuk mengatasi masalah banjir saat itu. Kini, kali tak lagi maksimal mengatasi banjir di jaman sekarang sehingga, kata dia, perlu adanya inovasi yang dilakukan.
“Dari Griya Jakarta masuk ke Perumahan Puri terbelah dua lalu masuk sini, disana kurang dalam, itu diminta untuk dikeruk. Kali ini kalau sudah banjir banget baru terisi air 30 sentimeter, kalau bisa dikeruk,” paparnya.
Banjir sendiri disebut telah menjadi persoalan lama di kawasan tersebut, bahkan berlangsung lebih dari satu dekade. Di titik tertentu, genangan air bisa mencapai 50 sentimeter dan masuk ke dalam rumah warga. Kejadian terbaru bahkan terjadi setelah Lebaran lalu.
Warga juga menilai pembangunan turap justru berpotensi menghambat aliran air jika tidak direncanakan dengan matang. Hingga kini, belum ada solusi yang benar-benar disepakati kedua pihak. Pertemuan lanjutan antara warga dan pihak terkait pun masih menunggu jadwal.
“Banjir sudah lama 10 tahun lebih, di jalan depan pos itu bisa 50 sentimeter, sampai masuk ke dalam rumah, yang terbaru kemarin setelah lebaran. Itu justru kalau dikasih tanggul, nanti aliran kali tidak bisa masuk kali terhadang,” paparnya.
Penolakan paling kuat datang dari warga RT 02, di mana sekitar 70 kepala keluarga (KK) menyatakan keberatan terhadap rencana penebangan pohon. Selain alasan lingkungan, warga juga khawatir kawasan menjadi lebih panas jika pepohonan hilang.
Baca Juga: Seragam Sekolah Gratis di Tangsel Hanya Untuk Siswa Jalur Afirmasi
“Kalau bisa pohon tidak usah dipotong, terus kali sebelah sana difungsikan. Gimana kalau dia buat konstruksinya tanpa menebang pohon, kan tidak bisa. Tapi sebetulnya harus ada opsi yang perlu dibicarakan lagi. Warga keberatan ada penebangan pohon, kita kan paling berdampak, sudah gitu nanti dipotong menjadi panas,” jelasnya.
Sementara, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan mengatakan bahwa pemerintah telah memantau situasi tersebut dan membuka ruang dialog dengan warga.
“Saya sudah monitor, kitakan kembalikan secara teknis kepada warga kalau dari dinas tekait pasti ada perhitungan masalah turap, tanggul, tinggal nanti dikembalikan kepada warga ini mau dilakukan atau tidak,” paparnya.
Ia menegaskan, jika warga menolak, maka akan ada konsekuensi terkait penanganan banjir yang belum optimal. Pemerintah juga siap mencari alternatif solusi lain. Menurut Pilar, pembuatan tanggul masih menjadi solusi paling efektif saat ini.
“Kalau memang tidak mau dilakukan ya kita sampaikan kepada warga ada konsekuensi ada terkait banjir sambil kita cari solusi lain. Tapi memang solusi yang paling efektif saat ini ya peninggian tanggul,” ungkapnya.
Namun demikian, opsi relokasi pohon juga bisa dipertimbangkan apabila tersedia lahan pengganti untuk penanaman kembali. Ia juga mengingatkan bahwa penanganan banjir membutuhkan langkah cepat, mengingat curah hujan tinggi bisa terjadi sewaktu-waktu.
“Bisa juga dilakukan relokasi pohon kalau misalkan ada lahan lain yang bisa ditanami ya kita lakukan penanaman nanti saya minta. Tapi kembali lagi pada warga, kita juga kan tidak bisa memaksakan dengan kondisi banjir ternyata kita harus ada pelebaran, pembangunan turap,” sebutnya.
“Walaupun memang harus ada pohon yang harus kita relokasi ya kita kita sampaikan mau atau tidak, kalau tidak ya berarti coba kita cari solusi lain,” lanjutnya.
Hingga saat ini, proses dialog antara warga dan pemerintah masih berlangsung untuk mencari solusi terbaik yang dapat mengakomodasi kepentingan lingkungan sekaligus mengatasi banjir.
“Tapi kalau tidak, kita kan harus kejar kejaran dengan waktu masalah banjir ini kita tidak tau besok atau lusa hujan lebat akan terjadi,” pungkasnya. (eko)




























