SATELITNEWS.COM, JAKARTA–Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga barang dan jasa secara umum naik 0,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan terbesar berasal dari kelompok transportasi yang mengalami inflasi 2,29 persen dan menyumbang 0,28 persen terhadap inflasi nasional. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan bensin menjadi penyumbang terbesar dalam kelompok transportasi dengan kontribusi inflasi 0,21 persen. Tarif angkutan udara menyumbang 0,05 persen, sedangkan pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.
“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain bensin, tarif angkutan udara dan pelumas/oli mesin,” ujar Ateng, dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Tekanan harga BBM terjadi setelah Pertamina melakukan penyesuaian harga sebanyak dua kali sepanjang Juni 2026. Pada 1 Juni 2026, harga Pertamax Turbo naik mayoritas sekitar Rp850 atau 4 persen. Pada saat yang sama, harga Dexlite dan Pertamina Dex turun masing-masing sekitar Rp3.100 dan Rp3.150.
Kemudian pada 10 Juni 2026, harga Pertamax kembali naik mayoritas sekitar Rp4.050 atau sekitar 32 persen.
Baca Juga: Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, BPS Kerahkan 2.400 Petugas di Kabupaten Tangerang
Ateng menjelaskan perubahan harga tersebut ikut tercermin dalam inflasi Juni karena BBM merupakan komponen yang banyak digunakan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari kendaraan pribadi hingga berbagai kegiatan ekonomi.
Selain transportasi, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga memberikan tekanan terhadap inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan sumbangan 0,06 persen terhadap inflasi nasional.
Sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan harga, antara lain bawang merah yang memberikan pengaruh terbesar, disusul bawang putih, beras, wortel, ikan segar, minyak goreng, cabai merah, daging sapi, dan cabai rawit.
Namun, tidak semua harga pangan bergerak naik. Beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga sehingga membantu menahan inflasi. Daging ayam ras tercatat turun dengan dampak menekan inflasi sebesar 0,06 persen. Harga telur ayam ras juga turun, disusul sawi hijau dan ketimun.
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2026 naik menjadi 111,89 dari 111,40 pada Mei 2026. Jika dilihat berdasarkan penyebabnya, kenaikan harga yang diatur pemerintah menjadi faktor terbesar dengan sumbangan 0,27 persen.
Dari sisi wilayah, seluruh provinsi mengalami kenaikan harga. Maluku Utara mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,45 persen, sementara Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan inflasi terendah, masing-masing sebesar 0,23 persen.
Baca Juga: Pertamina Pastikan Stok Pertalite Aman dan Distribusi Berjalan Normal
Secara tahunan, inflasi Juni 2026 mencapai 3,34 persen dibandingkan Juni tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mencatat inflasi 4,67 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami kenaikan dengan tingkat inflasi 10,10 persen.
Di sisi lain, BPS mencatat aktivitas perdagangan Indonesia meningkat. Nilai impor sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$111,33 miliar atau naik 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan impor berasal dari minyak dan gas sebesar US$17,45 miliar serta barang di luar migas sebesar US$93,88 miliar.
China masih menjadi sumber utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai US$39,27 miliar atau sekitar 41,83 persen. Barang yang banyak masuk dari China antara lain mesin dan peralatan mekanis senilai US$8,73 miliar, mesin dan perlengkapan elektronik US$8,43 miliar, serta produk plastik US$2,33 miliar.
Jepang menjadi sumber impor terbesar kedua dengan nilai US$5,17 miliar, disusul Australia sebesar US$5,02 miliar. Ketiga negara tersebut secara bersama menyumbang 52,69 persen dari total impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026. (rmg/xan)




























