SATELITNEWS.COM, SERANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, menghitung ada 415 desa atau kelurahan yang berpotensi mengalami krisis air selama musim kemarau ini. Hal itu terjadi, karena sumber air yang dimiliki masyarakat mengalami kekeringan akibat tidak turun hujan.
Berdasarkan data pemetaan yang dilakukan BPBD Banten, terdapat 415 titik rawan kekeringan yang tersebar di Kabupaten Pandeglang sebanyak 111 titik, Kabupaten Lebak 109 titik, Kabupaten Tangerang 101 titik, Kabupaten Serang 64 titik, Kota Tangerang Selatan 14 titik, Kota Serang 12 titik, dan Kota Cilegon empat titik. Sementara Kota Tangerang, tidak masuk dalam wilayah yang dipetakan berpotensi mengalami kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Banten, Lutfi Mujahidin mengatakan, ada ratusan lokasi di Banten yang rentan kesulitan mendapatkan pasokan air bersih selama musim kemarau. Terkait hal itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk menyiapkan personel, serta peralatan penanggulangan bencana.
“Koordinasi juga dilakukan bersama kepolisian dan sejumlah instansi lainnya, guna mendukung distribusi air bersih apabila masyarakat mulai terdampak kekeringan,” katanya, Selasa (14/7/2026).
Lutfi mengaku, kapasitas armada tangki air yang dimiliki BPBD Provinsi Banten masih sangat terbatas, dan kesulitan menjangkau semua daerah yang mengalami krisis air bersih.
Saat ini, kata dia, BPBD Provinsi Banten hanya memiliki empat unit mobil tangki, sedangkan BPBD kabupaten dan kota secara keseluruhan memiliki sekitar 150 unit armada yang dapat dimanfaatkan untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat.
Baca Juga: Tagana dan BSR Salurkan Bantuan Air Bersih Ke Ponpes Raudhatul Alfalah Pandeglang
“Satu bulan ke depan, kita membackup pengiriman air bersih di wilayah Pandeglang melalui kolaborasi dengan BPBD Kabupaten Pandeglang,” ujarnya.
Lutfi mengingatkan kepada masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan menghemat penggunaan air, serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Jangan buang puntung rokok sembarangan, jangan membakar sampah tanpa pengawasan, kemudian hindari pembakaran lahan. Kalau memang terpaksa dilakukan, pastikan benar-benar ditunggu sampai api padam,” ujarnya lagi.
Selain krisis air bersih dan kekeringan lahan pertanian, BPBD juga memprediksi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
Berdasarkan hasil pemetaan, potensi kebakaran lahan paling besar berada di wilayah Banten Selatan, sedangkan kebakaran permukiman diperkirakan lebih banyak terjadi di kawasan Tangerang Raya.
“Kalau kebakaran itu kebanyakan lahan, ada di wilayah Banten Selatan. Untuk wilayah perkotaan, kebakaran permukiman itu diprediksi terjadi di Tangerang Raya,” pungkasnya.
Baca Juga: 85 KK Warga Cirarab Alami Krisis Air Bersih, BPBD Kabupaten Tangerang Salurkan Bantuan
Dia mengaku, musim kemarau juga dapat menyebabkan lahan pertanian di Banten mengalami kekeringan.
Oleh karena itu, penanganan kekeringan akan dilakukan bersama Dinas Pertanian yang telah menyiapkan sejumlah pompa air atau alkon, untuk membantu kebutuhan irigasi lahan persawahan.
“Kita juga sudah membahas bersama dengan Dinas Pertanian, agar bisa dilakukan mitigasi untuk mencegah para petani mengalami kerugian atau gagal panen,” tuturnya.
Terpisah, Pembina Forum Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pandeglang, Ade Mulyana mengatakan, hingga saat ini sudah ada tiga kecamatan di Pandeglang yang mengalami krisis air bersih.
Ketiga lokasi itu yakni Kecamatan Sindangresmi, Patia, dan Kecamatan Angsana. Ditiga lokasi itu, lebih dari dua ribu warga kesulitan mendapatkan pasokan air bersih, dan terpaksa menunggu bantuan air.
“Di Pandeglang ada tiga lokasi, sejak kemarin kita terus kirimkan bantuan air bersih, lima ribu liter untuk satu lokasi. Setiap hari kita pindah ke lokasi-lokasi kekeringan,” imbuhnya. (adib)




























