SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Presiden Prabowo Subianto menyebut perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selama ini menjadi sumber praktik korupsi. Ia menegaskan pemerintah akan menertibkan BUMN yang dinilai tidak sehat, tidak efisien, dan terus membebani negara.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Minggu (12/7/2026). “BUMN-BUMN itu akan kita tertibkan. Selama ini BUMN-BUMN itu sumber korupsi,” ujar Prabowo.
Prabowo tidak menyebut perusahaan mana saja yang akan menjadi sasaran penertiban. Namun, ia mengatakan pemerintah tengah melakukan konsolidasi terhadap lebih dari seribu entitas BUMN dengan nilai yang menurutnya mencapai sekitar 1 triliun dolar AS.
“Seribu BUMN lebih kita jadikan satu konsolidasi, nilainya adalah 1 triliun dolar AS. Kita sekarang adalah dana kedaulatan mungkin kelima atau keenam terbesar di dunia,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo kembali memperingatkan para pelaku korupsi agar menghentikan praktik mengambil keuntungan dari kekayaan negara. Ia meminta pihak-pihak yang telah menikmati hasil korupsi mengembalikan aset yang berasal dari uang rakyat.
“Saya peringatkan lagi, sekali lagi, untuk sekian kali lagi saya bicara dari dulu. Hei para koruptor sadar diri. Hentikan praktik-praktik kau, hentikan. Rakyat tidak bodoh. Hentikan. Kembalikan kekayaan rakyat, kembalikan dengan baik,” tegasnya.
Baca Juga: 74,2 Persen Publik Percaya Pemerintahan Prabowo
Prabowo mengatakan Indonesia merupakan bangsa yang pemaaf. Namun, menurut dia, masyarakat tetap membutuhkan keadilan atas praktik korupsi yang merugikan negara. Ia menilai uang yang hilang akibat korupsi seharusnya dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita bangsa pemaaf. Tapi rakyat butuh keadilan, butuh kesejahteraan, butuh sekolah yang baik. Guru-guru butuh gaji yang baik. Dokter, perawat butuh gaji yang baik. Tentara dan polisi butuh gaji yang baik supaya mereka tidak memeras dari rakyat. Pegawai negeri butuh gaji baik supaya mereka tidak korupsi. Percayalah, mari kita bersatu semua unsur,” ujar Prabowo.
Pernyataan Prabowo mengenai penertiban BUMN itu melanjutkan langkah yang sebelumnya ia ungkap pada Jumat (10/7/2026). Saat meresmikan lima bendungan yang berpusat di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Prabowo menyebut pemerintah telah menutup ratusan BUMN yang dinilai tidak beres.
Ia mengatakan 240 BUMN telah ditutup dan menargetkan jumlah perusahaan negara yang dihentikan mencapai 800 entitas hingga akhir 2026.
“Sampai hari ini, kita sudah tutup 240 BUMN yang tidak beres. Akhir Juli ini akan 250 BUMN kita tutup. Desember 31, 2026 akan tutup jumlahnya 800 BUMN yang tidak efisien, yang tidak pernah untung, yang merugi terus, kita tutup,” ujar Prabowo.
Menurut dia, penutupan dilakukan terhadap perusahaan yang tidak efisien, tidak pernah mencatat keuntungan, dan terus mengalami kerugian. Langkah tersebut, kata Prabowo, telah menghasilkan penghematan anggaran yang mendekati Rp70 triliun, terutama dari pengurangan biaya operasional dan struktur pengelolaan.
Baca Juga: Prabowo Patok Defisit APBN, Optimistis Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen
Prabowo mengaku terkejut mengetahui jumlah BUMN di Indonesia setelah menjabat sebagai presiden. “Saya tidak pernah tahu bahwa BUMN kita begitu banyak. Perkiraan saya dari dulu BUMN kita ya 300, maksimal 400. Begitu saya dilantik jadi Presiden, baru saya diberi tahu BUMN kita 1.077,” ucapnya.
Ia juga menyoroti keberadaan anak perusahaan, cucu perusahaan, hingga cicit perusahaan BUMN yang menurutnya dapat menjadi celah penyimpangan. “Jangan-jangan ada lagi anak perusahaan, ada lagi cucu perusahaan, ada lagi cicit perusahaan, dan itu adalah cara mereka sembunyikan uang negara, sembunyikan uang rakyat. Ini kita tertibkan,” katanya.
Prabowo mengatakan pemerintah ingin memastikan aset negara dikelola secara lebih baik. Ia juga menyebut sejumlah BUMN yang sebelumnya mengalami kerugian mulai menunjukkan perbaikan, terutama setelah Indonesia memiliki Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Salah satunya adalah Garuda Indonesia yang, menurut dia, sebelumnya menghadapi persoalan keuangan hingga terancam dijual. Namun, setelah dilakukan pembenahan, maskapai tersebut disebut mulai bangkit. “Garuda tadinya mau dijual, saya larang. Sekarang sudah mulai bangkit. Bulan depan sudah mulai untung dari sekian puluh tahun rugi,” kata Prabowo. (rmg/xan)




























