SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Polemik terkait dugaan pemaksaan penandatanganan surat pengunduran diri terhadap siswa kelas XII berinisial DAH di SMAN 14 Kota Tangerang memunculkan fakta baru.
Kepolisian Sektor (Polsek) Batuceper menegaskan persoalan yang melibatkan siswa SMAN 14 Kota Tangerang, DAH, murni berkaitan dengan dugaan perundungan (bullying), bukan keterlibatan geng motor. Fakta tersebut diungkapkan Bhabinkamtibmas Polsek Batuceper Aiptu Fajar.
“Kalau kaitannya dengan DAH, enggak ada urusannya. Dia itu pembulian,” ujar Fajar saat dikonfirmasi via telepon, Jumat (7/8).
Dia menyatakan terkait kasus perundungan, Fajar menyebut pihak sekolah telah mengantongi bukti berupa foto dan keterangan saksi.
Ia menyebut proses pengumpulan bukti dilakukan sebelum hasil pendalaman disampaikan pada 24 Juli 2026.
“Ya ada foto, ada juga keterangan saksi,” katanya.
Baca Juga: Cegah Bullying di Sekolah, Dindik Lebak Andalkan Program Pagi Menyapa
Fajar juga menyebut terdapat 23 siswa dari 25 siswa yang disebut menjadi korban dan bersedia memberikan keterangan.
“Murni pembulian. Ada bukti dan ada saksi. Dua puluh tiga orang dari 25,” ujarnya.
Fajar menambahkan tuduhan geng motor tidak dapat dikaitkan dengan DAH karena tidak memiliki bukti pendukung. Meski pernah ada siswa SMAN 14 yang diamankan terkait geng motor namun tidak otomatis membuktikan keterlibatan DAH. Penelusuran terkait dugaan geng motor di lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab pihak sekolah.
“Saya belum punya bukti untuk menduga atau menuduh bahwa grup itu geng motor. Itu PR dari sekolah untuk mencarinya,” tegas Fajar.
Fajar mengonfirmasi dirinya hadir saat proses mediasi awal, namun menegaskan keputusan penandatanganan pengunduran diri sepenuhnya menjadi ranah internal sekolah.
Sebelumnya diberitakan, dugaan pemaksaan penandatanganan surat pengunduran diri terhadap siswa kelas XII berinisial DAH di SMAN 14 Kota Tangerang memicu kontroversi di media sosial TikTok.
Baca Juga: Mulai Tahun 2027, Kenaikan Kelas Tak Lagi Otomatis
Kasus ini bermula dari pemanggilan orang tua siswa, Sartono, ke sekolah pada Jumat (24/7/2026), yang berujung pada dikeluarkannya sang anak atas tuduhan keterlibatan dalam aksi perundungan, pemalakan, hingga keterlibatan geng motor.
Orang tua DAH, Sartono, mengaku merasa tertekan saat menandatangani dokumen pengunduran diri di hadapan pihak sekolah, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas karena diancam kasus tersebut akan dibawa ke ranah hukum jika tidak segera diselesaikan. Sartono mempertanyakan keputusan sekolah lantaran hingga kini tidak pernah diperlihatkan bukti fisik atas tuduhan terhadap anaknya.
Di sisi lain, DAH secara tegas membantah seluruh tuduhan perundungan, pemalakan, maupun posisinya sebagai ketua kelompok. Ia menjelaskan bahwa dirinya hanya bertindak sebagai salah satu pembuat grup percakapan kegiatan futsal, sedangkan pengumpulan uang di antara siswa dilakukan secara sukarela tanpa ada pemaksaan untuk membeli jajanan bersama.
Pihak SMAN 14 Kota Tangerang melalui Wakil Kepala Sekolah, Suhenda, membantah adanya unsur pemaksaan dalam proses pengunduran diri DAH maupun niat untuk menghentikan hak pendidikannya.
Langkah pengembalian siswa kepada orang tua diambil berdasarkan pendalaman internal demi melindungi lebih dari seribu siswa dari keberadaan kelompok luar bernama “Bad Boy” yang disinyalir melakukan intimidasi, pengancaman, dan perekrutan paksa.
Pihak sekolah mengklaim memiliki bukti tertulis berupa keterangan puluhan siswa kelas X hingga XII yang mengarah pada kepemimpinan DAH, serta kesaksian langsung guru yang melihat aktivitas berkumpul dan merokok.
Sekolah menyatakan siap membantu proses kepindahan DAH ke sekolah baru dengan menerbitkan surat keterangan tanpa catatan buruk agar yang bersangkutan tetap dapat menyelesaikan pendidikannya. (ari)





















