SATELITNEWS.COM, LEBAK – Menjelang perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, kebutuhan bambu untuk tiang bendera dan umbul-umbul mulai mengalami peningkatan. Kondisi itu terlihat dari mulai ramainya pesanan di sejumlah lapak pengepul bambu di Kabupaten Lebak.
Namun, peningkatan permintaan tersebut belum menjadi kabar baik bagi seluruh pengepul. Penjualan justru mengalami penyusutan dibandingkan tahun sebelumnya lantaran sebagian pembeli dalam jumlah besar memilih mengambil bambu langsung dari petani.
Salah satu pengepul bambu di Jalan Raya By Pass, Kampung Selahaur, Kelurahan Cijoro Lebak, Kecamatan Rangkasbitung, terlihat dipenuhi ribuan batang bambu berbagai ukuran dan jenis. Bambu-bambu tersebut sebagian disiapkan untuk memenuhi pesanan kebutuhan perayaan kemerdekaan.
Pedagang bambu asal Kecamatan Sajira, Surdana (38), mengatakan aktivitas pemesanan mulai meningkat sejak memasuki Agustus. Meski demikian, geliat pasar tahun ini belum mampu menyamai kondisi pada periode yang sama tahun lalu. “Memang sekarang mulai ramai pesanan. Alhamdulillah ada peningkatan karena kebutuhan untuk bendera. Tapi kalau dibandingkan tahun lalu, jumlahnya masih jauh berkurang,” kata Surdana.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada minimnya kebutuhan bambu, melainkan berubahnya jalur pembelian. Pembeli yang memiliki modal besar dari wilayah Jakarta dan Tangerang kini dapat langsung mendatangi petani untuk mendapatkan bambu dalam jumlah banyak.
Kemudahan akses tersebut salah satunya dipengaruhi kondisi jalan menuju kawasan pengambilan bambu yang lebih kering selama musim kemarau. Kendaraan berukuran besar yang sebelumnya kesulitan masuk kini lebih leluasa menjangkau lokasi petani. “Sekarang karena kemarau, jalannya lebih mudah. Mobil besar bisa masuk sampai ke lokasi bambu. Akhirnya banyak pembeli yang langsung mengambil ke petani,” ujarnya.
Baca Juga: Angka Kemiskinan di Banten Turun, Pemerintah Diminta Tak Terlena
Perubahan pola distribusi itu cukup terasa bagi usaha pengepul. Surdana mengungkapkan, jika sebelumnya dirinya mampu mengirim sekitar 10 ribu batang bambu ke luar daerah, kini jumlahnya tinggal separuh. “Dulu bisa sekitar 10 ribu batang untuk dikirim keluar daerah. Sekarang paling sekitar 5 ribu batang. Pembeli yang modalnya besar lebih memilih langsung ke petani,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat pasar yang biasanya menjadi ruang bagi pengepul lokal ikut menyempit. Bambu yang berhasil dikumpulkan kini lebih banyak dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Lebak dan sekitarnya. “Kalau tahun kemarin masih banyak yang dikirim ke luar daerah. Sekarang lebih banyak terserap di dalam daerah. Karena pembeli besar sudah mengambil langsung dari petani,” katanya.
Meski demikian, kebutuhan bambu sebagai penyangga bendera tetap memberikan tambahan aktivitas bagi pedagang. Dalam sehari, Surdana mengaku rata-rata mampu menjual sekitar 300 batang bambu khusus untuk kebutuhan tiang bendera.
Pesanan tersebut datang dari sejumlah wilayah, di antaranya Ona, Tigaraksa, hingga kawasan sekitar Polres Lebak. Untuk harga, bambu tiang bendera dibanderol berbeda berdasarkan jumlah pembelian. Konsumen yang membeli secara eceran dikenakan harga sekitar Rp10 ribu per batang. Sedangkan pembelian dalam jumlah besar bisa mendapatkan harga Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per batang.
“Kalau beli satuan atau eceran sekitar Rp10 ribu. Kalau jumlahnya banyak, harganya sekitar Rp6 ribu sampai Rp7 ribu per batang,” jelas Surdana. Penurunan penjualan juga terlihat dari catatan dagang miliknya. Pada Agustus 2025, Surdana masih mampu menjual sekitar 4.700 batang bambu untuk kebutuhan tiang bendera.
Sementara memasuki awal Agustus 2026, jumlah yang telah terjual baru berada di angka sekitar 1.850 batang. Meski demikian, angka tersebut masih berpeluang meningkat lantaran sejumlah pesanan belum seluruhnya diselesaikan. “Masih ada beberapa pesanan yang sedang kami kerjakan. Mudah-mudahan nanti jumlahnya terus bertambah sampai pertengahan Agustus,” harapnya.
Baca Juga: Pemkot Cilegon Tagih Utang Tipping Fee, Pemkab Serang Belum Pastikan Waktu Pembayaran
Untuk menjaga ketersediaan stok, Surdana mengambil bambu dari sejumlah sentra di Kabupaten Lebak. Di antaranya Kecamatan Cileles, Sajira, Citeras dan Cilawang. Jenis bambu yang diperdagangkan pun beragam, mulai dari bambu apus, haur, betung hingga bambu hitam.
Dari beberapa jenis tersebut, bambu apus menjadi salah satu komoditas yang paling banyak dicari karena dapat digunakan untuk berbagai keperluan. “Bambu apus paling banyak dicari. Selain untuk tiang, bisa juga digunakan untuk bahan bangunan, cerucuk, gedek dan kebutuhan lainnya. Kalau bambu hitam biasanya lebih banyak untuk kerajinan,” pungkasnya.(mulyana)

















