SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Layanan transportasi umum baru di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tengah disiapkan. Sebuah perusahaan transportasi berencana menguji coba layanan bus dengan trayek Pondok Cabe hingga Alam Sutera. Rencana tersebut dibahas Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Tangsel dan pihak perusahaan transportasi pada Rabu (19/8) lalu.
Trayek Pondok Cabe-Alam Sutera dipilih karena dinilai memiliki potensi penumpang, terutama masyarakat yang membutuhkan akses menuju kawasan BSD hingga Stasiun Rawa Buntu. Pilar mengatakan, trayek tersebut sebenarnya telah masuk dalam 33 jaringan trayek yang tercantum dalam Rencana Umum Trayek Jalan (RUTJ) Tangsel yang disahkan pada 2025.
“Tidak ada salahnya mereka untuk ikut berpartisipasi mau mengajukan izin penggunaan salah satu trayek di Tangsel yaitu Pondok Cabe sampai Alam Sutera. Itu memang trayek yang sudah masuk ke dalam 33 RUTJ Rencana Umum Trayek Jalan Tangsel yang tahun 2025 yang baru kita sahkan,” ujarnya, Kamis (20/8).
Menurut dia, ketertarikan perusahaan untuk membuka layanan di Tangsel menjadi peluang untuk menghidupkan kembali sejumlah trayek yang telah dirancang pemerintah. Namun, perusahaan tetap harus memenuhi berbagai persyaratan administrasi dan teknis sebelum layanan tersebut beroperasi.
Di sisi lain, kata Pilar, pemerintah tidak ingin kehadiran layanan baru justru menimbulkan persoalan dengan angkutan umum yang sudah lebih dulu beroperasi yang masuk dalam rute tersebut. Untuk itu, sekitar 200 angkot yang selama ini melayani masyarakat Tangsel harus dilakukan titik temu agar tidak ada yang dirugikan.
“Kita akan melakukan sosialisasi bersama dengan teman-teman angkutan umum yang sudah eksis karena angkot sendiri kan sebenarnya yang selama ini sudah beroperasi ada 200 angkot ya itu kan kita sebut pahlawan transportasi,” katanya.
Baca Juga: Buntut Tewasnya 2 Pelajar di Alam Sutera, Fraksi PSI DPRD Tangsel Desak Polisi Tindak Tegas
“Nanti ada beberapa hal yang harus dipenuhi, kerja samalah ibaratnya dengan angkot ini. Pemilik angkutan umum nanti ada win-win solution seperti apa sudah ada tuh aturannya di Dinas Perhubungan,” lanjutnya.
Sebelum uji coba dimulai, Pemkot Tangsel akan melakukan sosialisasi kepada pihak-pihak yang berada di sepanjang jalur. Mulai dari kelurahan, kecamatan, sekolah, pengembang perumahan, pengurus RW hingga pengusaha angkutan umum.
Langkah itu dinilai penting agar keberadaan layanan baru tersebut tidak membuat penumpang maupun pengemudi angkot kebingungan ketika berada di jalur yang sama. Setelah proses sosialisasi dan perizinan rampung, layanan tersebut akan masuk tahap uji coba. Namun, bus besar yang direncanakan tidak langsung digunakan.
Untuk tahap awal, perusahaan akan menggunakan dua hingga tiga unit kendaraan jenis HiAce. Kendaraan itu akan digunakan untuk melihat respons masyarakat, menentukan waktu operasional serta memetakan titik-titik pemberhentian yang paling banyak diminati.
Pilar menyebut uji coba direncanakan berlangsung sekitar tiga bulan. Setelah pola perjalanan dan kebutuhan penumpang diketahui, layanan baru akan diarahkan menggunakan bus berukuran lebih besar atau bus 3/4.
Pilar juga berharap layanan tersebut memiliki waktu tunggu yang tidak terlalu lama. Ia mendorong agar ke depan interval kedatangan kendaraan dapat berada di kisaran 15 hingga maksimal 20 menit.
Baca Juga: Dua Pelaku Penusukan Calon Penumpang Bus di Kota Serang Ditangkap
“Saya juga minta supaya waktunya juga bisa continue terus mungkin 15 menit menunggu atau 20 menit paling maksimal yang mereka menyanggupi,” sambung Pilar.
Apabila layanan tersebut nantinya membutuhkan dukungan pemerintah berupa subsidi, dirinya mengaku akan mempertimbangkannya.
“Sistemnya subsidi itu nanti dilihat kemampuan daya beli masyarakatnya kalau ternyata oke, demandnya tinggi dengan angka sekian ribu gitu ya, gak perlu subsidi ya sudah tapi kita bisa bisa alokasikan. Tapi kalau misalkan ternyata butuh subsidi, nanti kami sampaikan ke Pak Wali supaya nanti mungkin ada kebijakan apakah dengan subsidi seperti apa,” ungkapnya.
Direktur Utama Jempol Trans, Jimi Wijaya mengatakan pihaknya masih menunggu proses koordinasi dengan Dishub Tangsel sebelum memulai uji coba. Menurut Jimi, perusahaannya telah memiliki pengalaman menjalankan layanan shuttle di sejumlah lokasi.
Untuk tahap awal, Jimi memastikan dua hingga tiga unit HiAce akan disiapkan. Jumlah tersebut masih dapat berubah berdasarkan hasil evaluasi selama masa uji coba. Ia mengatakan, salah satu alasan memilih trayek Pondok Cabe-Alam Sutera adalah potensi pergerakan masyarakat menuju kawasan BSD dan Stasiun Rawa Buntu.
“Ya karena kan dari penumpang juga banyak dari feeder-feeder warga lah, kan masih se Tangsel kan yang dari Pondok Cabe ke Rawa buntu itu kan banyak juga, jadi kita ya untuk mensosialisasikan warga-wargalah,” sebutnya.
Jimi belum dapat memastikan titik pemberhentian maupun tarif yang akan diterapkan. Keduanya masih dibahas bersama Dishub Tangsel berdasarkan kondisi di lapangan dan potensi permintaan penumpang. Untuk tarif, ia memperkirakan kisaran awal berada di Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Namun angka tersebut belum final.
“Kisaran 20-25, tapi enggak tahu nanti kan Ya kita perlu diskusilah, kalau belum ngomong banyak saya enggak berani juga,” katanya.
Ia berharap layanan tersebut mampu menarik sedikitnya 200 hingga 300 penumpang per hari agar secara bisnis dapat menutup biaya operasional. (eko)

















