SATELITNEWS.COM, SERANG – Di tengah kesibukan warga menjalani aktivitas sehari-hari, ada sesuatu yang kerap luput dari perhatian, yaitu mata air yang menghidupi kampung.
Air mengalir dari sumber-sumber alami, digunakan untuk kebutuhan masyarakat, tetapi keberadaannya tidak selalu diiringi kesadaran untuk menjaganya
Persoalan inilah yang kemudian diangkat ke atas panggung pentas, oleh seorang seniman melalui pertunjukan teater bertajuk SIRAH CAI yang digelar pada Sabtu (12/9/2026).
Bukan dengan ceramah panjang atau kampanye lingkungan yang penuh slogan, pesan tersebut disampaikan melalui seni pertunjukan.
Di Amben Mang Dani, Cijero dan Cibikang, Kampung Tapen, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, teater karya sekaligus sutradara Giri Mustika Roekmana, menjadi ruang refleksi bagi masyarakat, tentang pentingnya menjaga mata air dan kebersihan lingkungan.
Giri Mustika Roekmana merupakan Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang, Banten yang tidak ingin karya seni berhenti sebagai tontonan.
Baca Juga: Jadi Laksamana Malahayati, Marcella Zalianty Rasakan Bedanya Teater dan Film
Pertunjukan yang mengangkat tema mata air atau sirah cai tersebut, merupakan kegiatan yang didukung melalui DAK Dana Indonesiana dan LPDP Tahun 2025 Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dalam kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Perorangan.
Baginya, seni harus mampu menyentuh persoalan nyata yang ada di tengah masyarakat.
“Tujuan kegiatan pertunjukan teater yang mengangkat tema Sirah Cai atau mata air yang ada di Kampung Tapen, Cadasari, Pandeglang adalah membangun kesadaran warga dalam menjaga mata air dan lingkungan bersih,” ujar Giri kepada Satelit News, Senin (14/9/2026).
Pertunjukan SIRAH CAI, lahir dari kegelisahan terhadap pentingnya keberadaan mata air bagi kehidupan masyarakat. Mata air bukan sekadar tempat air keluar dari tanah.
Ia adalah sumber kehidupan, bagian dari ekosistem, sekaligus warisan alam yang keberadaannya harus dijaga lintas generasi.
Namun, tanpa kepedulian bersama, sumber-sumber air tersebut berpotensi mengalami kerusakan akibat sampah, pencemaran, dan minimnya perhatian terhadap lingkungan sekitar. Karena itu, pesan yang dibawa SIRAH CAI tidak berhenti pada panggung pertunjukan.
Baca Juga: Menggugat Kerusakan Alam Lewat Pementasan Deteriorasi Ala Mahasiswa Lebak
Sebelum pentas dimulai, masyarakat Kampung Tapen diajak melakukan kerja bakti membersihkan sejumlah mata air yang berada di lingkungan mereka.
Langkah ini menjadi simbol penting, bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh warga.
Masyarakat dilibatkan sejak awal, agar pesan yang disampaikan melalui pertunjukan memiliki pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Konsep pertunjukan dirancang dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Sebelum pertunjukan, masyarakat turut melakukan kerja bakti membersihkan sejumlah mata air yang berada di lingkungan Kampung Tapen,” ujar Giri.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi lokal perlahan menghadapi ancaman lain yang dilupakan oleh generasi penerus.
SIRAH CAI mencoba menjawab persoalan tersebut, dengan menghadirkan berbagai kesenian tradisional dan kreativitas anak muda.
Selain pertunjukan teater, kegiatan ini menampilkan Maca Syech, pembacaan puisi berbahasa Sunda, pantomim, hingga kabaret yang dimainkan para pemuda Kampung Tapen. Panggung tersebut menjadi tempat bertemunya masa lalu dan masa kini.
Tradisi yang mulai jarang ditampilkan kembali hadir berdampingan dengan ekspresi seni generasi muda. Keduanya menyatu dalam satu pesan, kebudayaan dan lingkungan sama-sama membutuhkan kepedulian agar tidak hilang.
Sementara, Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Banten Kang Yanuar, menilai kegiatan SIRAH CAI memiliki nilai penting, karena menggabungkan seni pertunjukan, lingkungan, dan kearifan lokal masyarakat.
“Kegiatan yang cukup baik, terutama mengangkat tema lingkungan serta mengangkat kembali kearifan lokal yang hampir punah seperti Maca Syech dan kuliner lokal seperti Jojorong, Surabi, dan lainnya,” katanya, dalam sambutan.
Pertunjukan SIRAH CAI menjadi ruang pertemuan antara seni, masyarakat, lingkungan, dan tradisi lokal.
Melalui pendekatan kreatif dan partisipatif, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan, tetapi dapat menjadi pemantik kesadaran bersama untuk merawat mata air, lingkungan, serta kebudayaan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat Kampung Tapen. (sidik)
























