SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Kenaikan harga bahan pangan mulai menekan usaha pedagang kecil di Kota Tangerang. Harga berbagai komoditas sayuran dan bahan pokok yang meningkat dalam beberapa hari terakhir membuat pembeli mengurangi belanja, sedangkan pedagang harus menerima penurunan omzet demi mempertahankan pelanggan.
Tekanan itu dirasakan Erni, pedagang sayuran di Pasar Anyar, Kota Tangerang. Sejumlah komoditas yang dijualnya mengalami kenaikan harga hampir bersamaan. Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual di tengah kemampuan belanja konsumen yang semakin terbatas.
Harga cabai rawit merah, misalnya, naik dari Rp 60.000 menjadi Rp 90.000 per kilogram. Cabai rawit hijau meningkat dari Rp 50.000 menjadi Rp 70.000 per kilogram. Adapun cabai keriting mengalami kenaikan dari Rp 40.000 menjadi Rp 75.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah komoditas lain. Harga tomat dan mentimun meningkat sekitar Rp 5.000 hingga mencapai Rp 18.000 per kilogram. Harga lemon dan jeruk nipis naik sekitar Rp 10.000, sementara sawi putih, sawi hijau, dan kubis mengalami kenaikan sekitar Rp 5.000.
Erni mengatakan, kenaikan harga tersebut mulai dirasakan sejak tiga hingga empat hari sebelum ia menyampaikan keluhannya pada Senin (26/10/2026). Menurut informasi yang diterimanya, terbatasnya pasokan berkaitan dengan kemarau panjang yang menyebabkan gagal panen di sejumlah daerah penghasil. “Semuanya naik dari 3-4 hari yang lalu. Katanya sih pemasoknya kurang karena kemarau panjang, banyak gagal panen,” ucap Erni di lapak dagangannya.
Bagi pedagang kecil, kenaikan harga komoditas tidak serta-merta dapat diimbangi dengan peningkatan harga jual tanpa konsekuensi. Ketika harga sayuran naik, pembeli cenderung mengurangi jumlah belanja agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali.
Baca Juga: Jelang Iduladha, Harga Cabai dan Bawang di Lebak Melonjak
Perubahan itu terlihat dari kebiasaan pelanggan Erni. Jika sebelumnya mereka membeli sayuran sebanyak satu kilogram, kini sebagian pelanggan hanya membeli setengah kilogram. Penurunan jumlah pembelian tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan hariannya. Erni memperkirakan omzetnya merosot lebih dari 20 persen akibat kenaikan harga yang terjadi hampir bersamaan. “Jadi kalau begini, omzet menurun drastis sekitar lebih 20 persen. Tepok jidat kalau begini terus,” keluhnya.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kenaikan harga pangan tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya biaya belanja masyarakat. Pedagang kecil juga menghadapi tekanan karena harus menjual barang dengan harga lebih tinggi ketika kemampuan konsumen untuk membeli justru melemah.
Di satu sisi, pedagang perlu menyesuaikan harga untuk menutup biaya pembelian barang dari pemasok. Di sisi lain, kenaikan harga berisiko membuat pelanggan mengurangi belanja atau beralih ke pedagang lain. Akibatnya, kenaikan harga yang semestinya diikuti penyesuaian pendapatan tidak selalu menghasilkan keuntungan yang lebih besar,
Tekanan serupa dialami Darmi, pedagang Warteg 234 di Kecamatan Tangerang. Kenaikan harga bahan pokok membuat biaya produksi makanan yang dijualnya semakin besar. Namun, ia tidak leluasa menaikkan harga menu karena khawatir kehilangan pelanggan.
Salah satu beban terbesar berasal dari kenaikan harga beras. Darmi mengatakan, harga beras untuk kemasan 50 kilogram yang sebelumnya Rp 600.000 kini mencapai Rp 750.000. Dengan demikian, ia harus mengeluarkan tambahan Rp 150.000 untuk jumlah beras yang sama.
Harga minyak goreng yang biasa dibelinya Rp 14.000 juga meningkat menjadi Rp 19.000. Kenaikan tersebut belum termasuk sejumlah bumbu masakan, seperti bawang putih, kemiri, dan serai, yang menurutnya turut mengalami kenaikan harga.
Baca Juga: Harga Cabai di Pasar Kota Tangerang Naik Cukup Signifikan, Ini Penyebabnya
“Saya ngerasa keberatan lah, kalau apa-apa naik. Bahan pokoknya itu, kan, beras naik, dulu 50 kg Rp 600 ribu sekarang Rp 750 ribu, terus minyak yang biasa Rp 14 ribu sekarang Rp 19 ribu. Belum lagi bahan-bahan bumbu, kayak bawang putih, kemiri, serai, semuanya pada naik,” gerutu Darmi.
Bagi usaha warung makan, kenaikan harga bahan baku menjadi persoalan yang tidak mudah diselesaikan. Berbeda dengan pedagang bahan mentah yang dapat menyesuaikan harga jual mengikuti harga pasokan, pedagang makanan harus mempertimbangkan daya beli pelanggan sekaligus menjaga kualitas hidangan.
Darmi memilih tidak mengurangi takaran bumbu dalam masakannya meskipun langkah tersebut berpotensi menekan biaya produksi. Ia khawatir perubahan takaran akan memengaruhi cita rasa makanan dan membuat pelanggan kecewa.
Keputusan itu membuatnya harus menerima keuntungan yang lebih kecil. Ia memilih mengurangi pendapatan daripada menurunkan kualitas makanan yang selama ini menjadi bagian dari usahanya mempertahankan pelanggan.
Menurut Darmi, mempertahankan pelanggan menjadi hal penting agar warungnya tetap dapat beroperasi di tengah meningkatnya biaya belanja bahan baku. Sebab, jika harga makanan dinaikkan terlalu tinggi, pelanggan berpotensi mengurangi pembelian. “Jadi, paling ngurangin keuntungan saya, dari biasa dapat Rp 300 ribu sekarang Rp 200 ribu per hari,” tandas Darmi.
Penurunan pendapatan tersebut mencapai sekitar sepertiga dari keuntungan harian yang biasa diperolehnya, dari Rp 300.000 menjadi Rp 200.000. Selisih Rp 100.000 per hari itu menunjukkan besarnya tekanan biaya yang harus ditanggung ketika harga bahan baku meningkat, sementara harga jual makanan sulit disesuaikan.
Keluhan pedagang sayuran dan warung makan tersebut menunjukkan bahwa gejolak harga pangan dapat merambat ke berbagai lapisan kegiatan ekonomi. Rumah tangga harus mengatur ulang pengeluaran, sedangkan pelaku usaha kecil menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga, mengurangi keuntungan, atau mempertaruhkan jumlah pelanggan.
Bagi masyarakat berpenghasilan terbatas, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dapat mendorong perubahan pola belanja. Pembelian yang sebelumnya dilakukan dalam jumlah besar berkurang menjadi lebih sedikit. Perubahan itu kemudian berdampak pada perputaran barang dan pendapatan pedagang di pasar tradisional.
Para pedagang berharap pemerintah meningkatkan upaya untuk mengendalikan kenaikan harga bahan pangan dan menjaga ketersediaan pasokan di pasar. Mereka juga berharap persoalan yang membebani usaha kecil tidak dibiarkan berlarut-larut hingga semakin menekan pendapatan masyarakat.
Pengendalian harga menjadi penting bukan semata-mata untuk menjaga stabilitas angka inflasi, melainkan juga untuk memastikan masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan pokok dan pelaku usaha kecil dapat mempertahankan kegiatan ekonominya.
Bagi Erni dan Darmi, dampak kenaikan harga bukan sekadar angka dalam daftar harga komoditas. Kenaikan tersebut terasa langsung pada berkurangnya jumlah belanja pelanggan dan menyusutnya keuntungan harian. Ketika harga pangan terus meningkat tanpa diimbangi kemampuan beli masyarakat, pedagang kecil menghadapi risiko berlapis: biaya usaha bertambah, keuntungan berkurang, dan keberlangsungan usaha semakin bergantung pada kemampuan mereka menanggung kenaikan biaya. (ari)

















