SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Rupiah ditutup di level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Rabu (28/10/2026), ketika dolar Amerika Serikat (AS) mendekati Rp 18.200. Pada 4 Juni 2026, rupiah untuk pertama kalinya menembus level Rp 18.000 per dolar AS dan mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah saat itu.
Bank Indonesia (BI) menyoroti ketidakpastian konflik Timur Tengah, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS, serta kekhawatiran investor terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai faktor yang menekan rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 18.184 per dolar AS, melemah 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada perdagangan intrahari, rupiah sempat menyentuh Rp 18.188 per dolar AS, menjadi titik terlemahnya hari itu.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah.
“Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$ 115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026).
Ekspektasi kenaikan suku bunga AS turut menekan rupiah melalui perubahan sentimen pelaku pasar. Erwin mengatakan, memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang.
Baca Juga: Hakim: Buktikan Asal Emas 74 Kg
“Sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan mata uang dolar AS. Sehingga memicu arus keluar dana dari pasar negara emerging markets,” ujar Erwin.
Dari dalam negeri, BI menyoroti kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.
“Pada saat yang sama terjadi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan,” ucapnya.
Meski demikian, BI menyatakan pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.
“Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026,” ujar Erwin.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI melanjutkan langkah stabilisasi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Baca Juga: Sanksi Super Ringan untuk Ronaldo
“Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya,” kata Erwin.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup menguat. IHSG naik 16,18 poin atau 0,31 persen ke level 5.282,31.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di level 5.249,07 sebelum tertekan sepanjang sesi pertama. Indeks bergerak fluktuatif dan sempat menyentuh kisaran 5.170 menjelang tengah hari.
Tekanan jual mereda pada sesi kedua. IHSG berbalik menguat, melewati level penutupan sebelumnya, dan bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks ditutup di dekat level tertinggi hariannya.
Aktivitas perdagangan mencapai 302,18 juta lot dengan nilai transaksi Rp 14,48 triliun. Perkembangan pasar hari itu juga diwarnai keputusan suku bunga bank sentral AS, The Fed, aksi demonstrasi mahasiswa, serta laporan mengenai melemahnya minat dalam lelang. (rmg/xan)

















