SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Sekitar 126 ribu orang meninggal akibat tuberkulosis (TBC) setiap tahun di Indonesia. Di tengah peningkatan capaian pengobatan, pencegahan penularan masih menjadi tantangan besar. Penemuan kasus belum mencapai target, sementara pemberian terapi pencegahan TBC di rumah sakit masih rendah.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian khusus terhadap tingginya angka kematian akibat TBC dan memintanya memimpin upaya pemberantasan penyakit tersebut.
“Beliau (Presiden Prabowo) mendapatkan data ini ya, ada 126 ribu orang meninggal di Indonesia karena tuberkulosis. Lalu beliau memanggil saya, ‘Tolong, kan kamu ahli paru. Selain tugasmu di Kemenkes sebagai Wamenkes, banyak yang lain, tambah salah satu tugas pokokmu pemberantasan TBC’,” kata Benjamin dalam kegiatan Hospital Leadership for TB Elimination di Balai Kota Jakarta, Rabu (28/10).
Benjamin menyebut proporsi kasus TBC Indonesia terhadap kasus global meningkat dari sekitar 7 persen pada 2010 menjadi 10 persen pada 2024. Meski demikian, capaian pengobatan menunjukkan perbaikan. Pasien TBC yang mendapatkan pengobatan meningkat dari 46 persen pada 2021 menjadi sekitar 80 persen pada tahun lalu.
Namun, pengobatan pasien yang telah ditemukan belum cukup untuk memutus rantai penularan. Benjamin menyebut cakupan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) pada 2022 baru sekitar 1 persen. Karena itu, penanganan TBC perlu disertai pemeriksaan orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien dan pemberian terapi pencegahan bagi mereka yang memenuhi indikasi.
Secara nasional, Indonesia masih menempati posisi kedua dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India. Dalam laporan 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan India menyumbang sekitar 25 persen kasus TBC global pada 2024, sedangkan Indonesia sekitar 10 persen.
Baca Juga: Luhut Usulkan Redefinisi Kerugian Negara, Yusril Ungkap Alasannya
WHO memperkirakan Indonesia memiliki sekitar 1,09 juta kasus TBC pada 2023. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan estimasi kasus di Indonesia mulai menurun pada 2026.
“Tapi di tahun 2026 angka TBC di Indonesia sudah mulai menurun jadi 1.080.000 orang. Kelihatannya ada penurunan sekitar 10.000,” kata Dante pada Rabu (30/9/2026) lalu.
Dante mengaitkan penurunan tersebut dengan upaya penemuan dan pengobatan kasus secara masif di berbagai provinsi. Meski demikian, WHO mencatat masih ada kasus yang belum terdeteksi dan kesenjangan pengobatan, sehingga penemuan kasus serta keberlanjutan pengobatan tetap menjadi tantangan pengendalian TBC di Indonesia.
Angka berbeda disampaikan Kemenko PMK. Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas dan Ketahanan Kesehatan Kemenko PMK, Nancy Dian Anggraeni, pada Kamis (15/10/2026) menyebut penemuan kasus TB di Indonesia mencapai 617.244 kasus per 2 Oktober 2026. Jumlah tersebut setara dengan 63,5 persen dari target tahunan sebanyak 972.000 kasus.
Di Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan sebanyak 44.636 kasus TBC telah ditemukan. Jumlah tersebut baru sekitar 65 persen dari target penemuan kasus yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Ani tidak merinci periode pencatatan angka tersebut.
Rumah sakit menjadi sumber penemuan 64 persen kasus TBC di Jakarta. Namun, tingkat keberhasilan pengobatan di rumah sakit baru mencapai 71 persen. Investigasi kontak untuk menelusuri orang-orang yang berisiko tertular baru mencapai 40 persen, sedangkan pemberian TPT hanya 6 persen.
Baca Juga: Operasi Patuh Serentak Dimulai, Sasar 11 Jenis Pelanggaran
“Ini kemudian yang menyebabkan masih besarnya potensi penularan penyakit TBC di masyarakat,” ujar Ani.
Secara keseluruhan, tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Jakarta mencapai 76 persen dan capaian investigasi kontak mencapai 68 persen. Ani mengatakan capaian investigasi kontak meningkat dibandingkan sebelumnya, yang biasanya berkisar 20 persen. Peningkatan ini antara lain didukung integrasi penelusuran kasus TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis dari Kementerian Kesehatan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku sedih karena kasus TBC di Ibu Kota masih tinggi meskipun upaya penanganannya menunjukkan perbaikan.
“Terus terang saya tadi menyimak apa yang disampaikan oleh dr Benjamin dan antara gembira tapi sedih. Gembiranya ada perbaikan, peningkatan yang ada, tetapi sedihnya bahwa kok di Jakarta masih begitu-begitu gitu,” kata Pramono.
Pramono berharap target eliminasi TBC Jakarta pada 2030 tercapai dan kebijakan penanggulangannya tidak berubah setiap kali terjadi pergantian pemimpin. Dia menilai Jakarta memiliki infrastruktur kesehatan yang memadai untuk mendukung target tersebut, dengan 197 rumah sakit, termasuk 31 rumah sakit umum daerah, serta 44 puskesmas dan 292 puskesmas pembantu. (rmg/xan)

















