SATELITNEWS.COM, LEBAK–Suara takbir yang dahulu menggema pada malam menjelang Idulfitri masih tersimpan dalam ingatan warga. Masjid Al-Muzahidin di Kampung Somang, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, pernah menjadi tempat warga berkumpul, bersilaturahmi, dan merayakan kebersamaan. Kini, setelah kampung itu ditinggalkan penghuninya, kenangan tersebut menjadi bagian dari masa lalu yang tak mudah dilupakan.
Kenangan yang kini tinggal cerita itu dirasakan Maman warga sekitar, masjid yang kembali menampakkan wujudnya akibat menyusutnya debit air Waduk Karian itu bukan sekadar bangunan lama yang muncul setelah bertahun-tahun terendam. Di balik dindingnya tersimpan cerita tentang kehidupan warga yang dahulu begitu dekat, tetapi kini telah berpencar ke tempat masing-masing.
Sehari-hari bekerja sebagai kuli gali pasir di dalam air, Maman menyaksikan perubahan kawasan tersebut. Kampung yang dahulu menjadi tempat tinggal masyarakat kini menyisakan bangunan-bangunan yang tak lagi dihuni. Masjid yang pernah ramai oleh jemaah pun sempat tersembunyi di bawah genangan. “Kenangan banyak. Kalau takbiran, sekampung kumpul untuk silaturahmi Lebaran. Kalau sekarang sudah pada pindah, tinggal kenanganlah,” tutur Maman, Kamis (29/10/2026).
Kalimat itu menggambarkan perubahan yang dialami Kampung Somang. Bukan hanya bangunan yang berubah, melainkan juga kehidupan sosial masyarakat yang dahulu menjadikan masjid sebagai salah satu pusat kebersamaan.
Menyusutnya debit air Waduk Karian akibat kondisi kemarau membuat kawasan yang sebelumnya terendam kembali terlihat. Masjid Al-Muzahidin menjadi salah satu bangunan yang kini dapat disaksikan secara langsung.
Pantauan SatelitNews.Com di lokasi menunjukkan, air Sungai Ciberang mulai memperlihatkan alirannya kembali seperti dahulu. Ilalang tumbuh di sekitar kawasan masjid, sedangkan sejumlah bangunan bekas permukiman warga tampak menyisakan rangka. Rumah-rumah tersebut tak lagi ditempati setelah warga meninggalkan kawasan itu.
Baca Juga: Waduk Karian Lebak Semakin Mengering, Jejak Permukiman Lama Jadi Magnet Wisata
Di dalam Masjid Al-Muzahidin, lumpur masih memenuhi sebagian ruangan. Bekas ketinggian air terlihat mencapai sekitar tiga hingga empat meter, menjadi penanda seberapa tinggi genangan pernah merendam bangunan tersebut.
Di antara dinding yang terdampak air, tulisan huruf Al-Qur’an masih menempel dan terlihat cukup jelas. Pemandangan itu menjadi bagian dari kondisi masjid yang telah melewati perjalanan panjang, dari tempat ibadah yang ramai hingga bangunan yang sempat terendam. Menurut Maman, masjid tersebut dapat kembali terlihat ketika musim kemarau membuat air menyusut. “Kalau tenggelamnya ada tiga tahunan, sampai ada kemarau dan muncul lagi,” ujarnya.
Kemunculan masjid ini pun menarik perhatian masyarakat. Maman mengatakan, pada pekan sebelumnya, sejumlah orang datang untuk melihat langsung bangunan yang kembali terlihat dan mengabadikan momen tersebut melalui foto. “Minggu kemarin ramai, karena ini musim kemarau. Mereka datang untuk foto-foto,” katanya.
Namun, bagi Maman, perhatian pengunjung terhadap bangunan tua itu tentu berbeda dengan kenangan yang dimilikinya. Orang-orang mungkin datang untuk melihat masjid yang muncul dari genangan, sedangkan dirinya menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat yang dahulu berpusat di sekitarnya.
Masjid Al-Muzahidin memiliki sejarah panjang. Bangunan tersebut pertama kali didirikan pada 1920 atas prakarsa ulama Kampung Somang, Abah Mustopa, dengan bantuan Kiai Haji Moch Nuur bin KH. Syafii dari Kampung Bondol. Seiring berjalannya waktu, masjid itu mengalami beberapa kali perbaikan. Renovasi pertama dilaksanakan pada 1974, dipimpin tokoh masyarakat KH. Armaja dengan KH. Muhaemin sebagai sesepuh masjid.
Perbaikan kembali dilakukan pada 2015. Saat itu, pengelolaan masjid berada di bawah Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang dipimpin H. Upen, dengan KH. Armaja sebagai tokoh masyarakat dan KH. Muhaemin sebagai sesepuh Masjid Al-Muzahidin.
Baca Juga: Air Bendungan Karian Surut, Kampung Somang di Lebak “Hidup Lagi”
Tiga tahapan pembangunan dan perbaikan tersebut menjadi bagian dari perjalanan masjid yang telah berdiri selama lebih dari satu abad. Masjid itu tidak hanya digunakan untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat masyarakat menjalin hubungan sosial dan mempererat kebersamaan. Maman mengatakan, jemaah yang menggunakan masjid tersebut berasal dari sejumlah wilayah sekitar, termasuk Sukadaya dan Sukarame. “Masjid itu dibangun tiga kali dan digunakan warga Sukadaya dan Sukarame,” ungkapnya.
Ia juga mengenang ramainya masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Menurut Maman, kehidupan warga dahulu ditandai dengan aktivitas keagamaan dan kebersamaan yang terjalin di lingkungan kampung. “Alhamdulillah banyak. Sekampung ini ada dua desa dan dua masjid. Satu desanya maksimal ada 1.700 KK,” tuturnya.
Di antara berbagai kenangan yang tersimpan, malam takbiran menjadi salah satu momen yang paling membekas bagi Maman. Dahulu, menjelang Lebaran, warga berkumpul di masjid. Kebersamaan itu menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi sebelum merayakan Idulfitri. Masjid Al-Muzahidin menjadi bagian dari tradisi tersebut, tempat masyarakat bertemu dan menghidupkan suasana malam kemenangan.
Kini, keadaan telah berubah. Warga yang dahulu tinggal berdekatan sudah berpindah, sementara rumah-rumah yang pernah menjadi tempat mereka menjalani kehidupan sehari-hari tak lagi ramai seperti dahulu. Tak ada lagi suasana kampung yang sama seperti ketika warga berkumpul menyambut Lebaran. Yang tersisa adalah bangunan-bangunan lama, masjid yang kembali terlihat saat air surut, dan kenangan yang masih melekat pada orang-orang yang pernah tinggal di sana.
Bagi Maman, kemunculan kembali Masjid Al-Muzahidin seolah membuka lembaran lama yang selama ini tersembunyi di bawah genangan. Bangunan itu mengingatkannya pada masa ketika warga masih berkumpul, saling mengenal, dan merayakan Lebaran bersama-sama.
Masjid yang dibangun pada 1920 itu kini menjadi saksi perjalanan waktu. Dindingnya menyimpan jejak genangan, sementara kisah tentang malam takbiran mengingatkan bahwa di tempat tersebut pernah tumbuh kehidupan masyarakat yang begitu erat.
Air mungkin kembali surut dan bangunan masjid kembali terlihat. Namun, kehidupan Kampung Somang yang dahulu ramai tidak serta-merta kembali seperti semula. Bagi Maman, ada hal yang tak bisa dipulihkan hanya dengan surutnya air: kebersamaan warga yang kini telah berpencar. Malam takbiran yang dahulu mempertemukan mereka tetap hidup dalam ingatan, menjadi kenangan tentang kampung halaman yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.(mulyana)

















