SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Kota Tangerang merupakan kota yang memiliki segudang program dalam rangka penanganan dan pemulihan pandemi Covid-19. Bantuan sosial dalam berbagai bentuk, internet sekolah, ketahanan pangan, aturan protokol kesehatan, penyediaan rumah isolasi, relaksasi pajak, adalah beberapa program yang sudah digelontorkan. Selain ikhtiar tersebut di atas, Pemkot Tangerang mewajibkan para aparaturnya untuk melakukan istighosah setiap pagi menjelang kerja. Berikut wawancara Satelit News dengan Walikota Tangerang Arief Wismansyah.
Tanya
Kota Tangerang merupakan salah satu daerah yang dua kali menjadi zona merah Covid-19. Sejauh mana Pemkot Tangerang mengatasi masalah ini?
Jawab
Ketika pertama kali kasus terjadi di pertengahan Maret, kita langsung bangun aplikasi Sirona (usir corona), kemudian kita bangun Sigacor (siaga corona). Kita bikin sampai ke kelompok masyarakat hingga tingkat RW. Ketika kasus naik, kita bikin sampai tingkat RT.
Tanya
Baca Juga: Imbas Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Pemkot Tangerang Terapkan PJJ Mulai Hari Ini
Apakah efektif dengan membangun aplikasi tersebut?
Jawab
Karena dalam mengambil keputusan itu harus diputuskan dengan data yang valid dan akurat, maka semua data harus disinkronkan. Di aplikasi Sirona itu data puskesmas, rumah sakit, ketersediaan alat medis dan lain sebagainya ada di situ. sedangkan kaitan kebutuhan dan kondisi masyarakat adanya di Sigacor. Dari situ kita mengembangkan program yang ada.
Tanya
Strategi apa yang dilakukan Pemkot Tangerang untuk menangani Covid-19
Jawab
Baca Juga: Gedong Tinggi Ciledug Dibongkar, Pemkot Tangerang Kaji Sisa Bangunan untuk Rekonstruksi
Penanganan Covid-19 sebenarnya kuncinya ada tiga, preventif, promotif dan kuratif. Pencegahan, sosialisasi dan penyembuhan. Dari tiga program itu, kita belajar. Jadi dulu kita pernah dapat bahan dari Kemendagri bagaimana Wuhan menangani kasus Covid-19. Jadi yang terpenting dalam memutus rantai Covid-19 itu salah satunya close contact manajemen dan yang kedua sinkronisasi atau kekompakan, semua berperan serta.
Tanya
Dampak apa yang dirasakan, khususnya para pegawai di Pemkot Tangerang
Jawab
Kita semua terdampak, termasuk di Pemkot. Semua kegiatan dipangkas, bedanya kita masih terima gaji. Jadi saya berpikiran, pandemi ini harusnya membuat ASN di daerah mengabdi kepada negara. ASN harus berada di garda terdepan. Makanya kita bikin program operasi aman bersama. Ketika pas zona merah, aman bersamanya intens. Semua pegawai dibagi per OPD, dibagi per wilayah untuk memastikan kondisi wilayahnya. Dulu ketika pertama Covid-19, ada ceck point, setelah itu tidak ada lagi. Tapi sekarang programnya tetap ada, namun di wilayah-wilayah. Kita harus terus membangun budaya baru di masa pandemi.
Tanya
Apa upaya lain yang dilakukan
Jawab
Konsepnya sederhananya, TMS, terstruktur, massif dan sistematis. Kebijakannya dari atas sampai ke bawah serentak, harus banyak dan harus sistematis. Dan sekarang kita sharing di grup mana yang masih merah, mana orange, mana merah, mana hijau. Jadi ada gengsi juga dari camat. Kalau kecamatannya merah, mereka dorong lagi apa itu masalahnya, kenapa bisa begitu hingga ditemukan akar dan solusinya.
Tanya
Di daerah lain ada kebijakan rumah isolasi, bagaimana di Kota Tangerang
Jawab
Rumah isolasi di Kota Tangerang terus bertambah, tidak hanya mengandalkan satu tempat. Maksudnya, kita akan tambah kalau ada yang sudah penuh. Sebelumnya kita siapkan Puskesmas, kemudian rumah isolasi di Jurumudi Baru, rumah sakit. Masih kurang juga, kita tambah di Hotel Kryad. Penyediaan rumah isolasi ini dimaksudkan agar pasien terpapar corona dititipin ke kita agar tak memaparkan ke yang lain.
Tanya
Seperti apa sinergi dengan intansi atau lembaga lain
Jawab
Kita libatin TNI Polri. Kita anggarkan dana hibahnya, supaya mereka semangat ke bawah. Kita juga libatkan beberapa organisasi, seperti KNPI, Karang Taruna dan lainnya.
Tanya
Pandemi ini berdampak pada kehidupan ekonomi. Upaya apa yang dilakukan
Jawab
Krisis kesehatan pasti dampaknya ke ekonomi. Tapi yang kita antisipasi adalah krisis sosial. Sekarang orang gak makan karena gak punya kerjaan. Makanya kita masukin datanya. Pokoknya semua yang terdampak kita masukin. Itu semua datanya ada di aplikasi sidata.
Lalu Di kampung Sigacor, kita bikin kebijakan jangan sampai gak makan. Kita beri 3 kwintal beras per RW tiap dua minggu sekali. Nama programnya lumbung pangan. Maksudnya, selain menerima bantuan dari pusat atau provinsi, kita backup juga bilamana di salah satu keluarga ada yang kekurangan. Jadi tinggal ambil di RW. Selain pemerintah bantu, warga juga bisa sedekah bareng.
Kita juga membuat kebijakan kelonggaran untuk usaha ekonomi. Karena sebagaimana yang kita dapatkan di lapangan, ternyata keramaian bukan di pusat perbelanjaan, kios atau toko. Tapi di tempat-tempat kuliner. Makanya hanya tempat kuliner yang tidak kita longgarin jam operasionalnya.
Dan untuk UMKM kita juga memberikan bantuan lewat aplikasi Tangerang BISA (bantuan insentif startup anda). Kemudian ada internet gratis buat siswa yang sudah kita bikin di 500 RW se-Kota Tangerang.
Tanya
Mengenai penanganan Covid-19, terobosan apa yang membedakan dengan daerah lain
Jawab
Saya tidak tahu kalau di daerah lain. Yang pasti kalau di Kota Tangerang, kita konsepnya bukan lagi tenaga kesehatan yang berada di garis terdepan, tapi masyarakatlah yang harus berada di depan. Karena yang terpapar kan masyarakat, makanya masyarakatnya kita dorong untuk terus bersosialisasi 3M plus dua. Mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, meningkatkan imun dan menjaga gaya hidup (makanan).
Program lainnya kita bikin istighosah setiap pagi untuk para ASN. Karena kita mikirnya kita usaha secara duniawi sudah, terus kita ketemu kyai-kyai. Akhirnya kita bikin istighosah. Jadi urusannya itu hablumminannas dan hablumminallah. Makanya kan sekarang sebagian ASN ada yang WFH, terus taunya dia kerja bagimana? Itu setiap pagi setengah delapan, absennya ya zoom meeting. Yang non muslim juga kita bikin aplikasi. Jadi semua kita udah dicoba di Kota Tangerang. Yang penting setiap masalah itu adalah ikhtiarnya. (dm)
























