SATELITNEWS.ID, CIBEBER—Sebanyak enam orang penambang emas ilegal (Peti) di Blok Cikatumburi, Desa Citorek Sabrang, Kecamatan Cibeber, tertimbun longsor Minggu (6/12) lalu sekitar pukul 03.00 WIB. Empat orang telah berhasil ditemukan meninggal dunia, sedangkan dua orang masih dalam pencarian petugas gabungan.
Informasi yang dihimpun, enam orang penambang emas menuju Blok Cikatumburi sejak Sabtu (5/12). Mereka akan membuat lubang penambangan emas di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Pada Minggu dini hari sekira pukul 02.00 WIB, Dadang Usup, warga Citorek masih bisa berkomunikasi dengan salah satu penambang. Namun, ketika dihubungi lagi pukul 03.00 WIB, telepon seluler penambang sudah tidak aktif.
Pagi hari, masyarakat bersama pemerintah desa dan forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkopimcam) kemudian melakukan pencarian ke lokasi tambang di Blok Cikatumburi. Di sana, terjadi longsoran yang menimbun gubuk di tepi tebing. Setelah dilakukan pencarian, pada Selasa (8/12) masyarakat berhasil menemukan tiga jenazah di lokasi longsor.
Dua hari kemudian, tim search and rescue (SAR) berhasil menemukan satu orang penambang dalam kondisi meninggal dunia. Empat orang yang telah ditemukan, yakni Hana (42), Oyan (30), Astura (45), dan Yanto (30). Sementara itu, dua orang yang belum ditemukan, yaitu Rudi (37) dan Mahmudin (45).
Sampai saat ini Minggu (13/12), dua orang korban yakni Mahmudin san Rudi masih dalam pencarian petugas. Bahkan, proses pencarian korban terkendala medan dan cuaca ekstrem. Tim search and rescue (SAR) bersama masyarakat memperluas areal pencarian dengan menyusuri sungai Cimadur.
Kepala Desa Citorek Sabrang, Kecamatan Cibeber, Jaro Asid menyatakan, proses pencarian dilanjutkan tim SAR bersama masyarakat setempat. Mereka memperluas areal pencarian dengan menyusuri Sungai Cimadur. Karena, dua korban yang masih hilang diduga terseret longsor dan terbawa arus sungai Cimadur. Apalagi, pada Senin (7/12) lalu, ditemukan potongan tangan di hilir sungai Cimadur di Desa Bayah Timur, Kecamatan Bayah.
Baca Juga: Tertimbun Longsoran Tanah, 1 Pekerja asal Pandeglang Tewas dan 1 Kritis
“Operasi SAR terhadap dua korban hilang terus dilakukan. Sejak beberapa hari lalu, proses pencarian terkendala medan dan hujan,” kata Jaro Asid, saat dihubungi melalui telepon selulernya, kemarin.
Menurutnya, hasil sidik jari dan forensik Polres Lebak, potongan tangan yang ditemukan di muara sungai Cimadur di Bayah, merupakan tangan korban longsor atas nama Mahmudin. Tubuh korban longsor di kawasan TNGHS ini masih belum ditemukan. Karena itu, tim SAR bersama masyarakat terus berupaya untuk mencari dua korban tersebut.
“Sudah dipastikan oleh ahli forensik bahwa potongan tangan tersebut merupakan tangan Mahmudin, korban longsor di Citorek. Karena itu, kita lakukan pencarian di sungai, karena ada indikasi tubuh korban terseret longsor,” ujarnya.
Asid mengungkapkan, enam warga asal Citorek sedang beristirahat dan berteduh ketika hujan mengguyur kawasan TNGHS. Tebing di dekat mereka berteduh longsor, sehingga membuat enam orang tersebut terseret dan sebagian tertimbun. Empat orang sudah ditemukan, sedangkan dua orang masih hilang. Tapi, potongan tangan salah satu korban hilang telah ditemukan jauh di wilayah Bayah.
“Harapannya, para korban yang hilang cepat ditemukan. Begitupun yang ditemukan dan sudah dimakamkan oleh pihak keluarga amat perbuatannya bisa diterima disisi tuhan,” terangnya.
Sementara dihubungi terpisah, Kasatreskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma menyatakan, penemuan potongan tangan di tepi sungai Cimadur pada Senin lalu terungkap. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap sidik jari potongan tangan tersebut alamatnya di Cibeber. “Setelah kita kroscek, 70 persen identitasnya berasal dari Kecamatan Cibeber,” kata David Adhi Kusuma.
Baca Juga: Bocah yang Hanyut di Kali Angke Ciledug Ditemukan Radius 11 Km dari Titik Lokasi
Mantan Kasatresnarkoba Polres Pandeglang ini menambahkan, diduga potongan tangan yang ditemukan di Cimadur merupakan korban longsor di Cikatumburi. Setelah ditelusuri, potongan tangan itu berjenis kelamin laki-laki dan diduga atas nama Mahmudin.
Namun untuk memastikan identitas pemilik lengan tersebut, pihak kepolisian berencana akan memanggil keluarga korban untuk mengambil sampel DNA. Tujuannya mencocokan DNA lengan yang ditemukan di Cimadur dengan keluarga korban. “Kita akan uji sampel, karena enggak serta merta hanya dengan sidik jari saja. Yang jelas, potongan lengan tersebut bukan kasus pembunuhan,” tegasnya. “Sudah, sudah dimakamkan sama keluarganya,” terangnya. (mulyana/dm)
























