SATELITNEWS.ID, SERPONG—Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel membatalkan rencana kegiatan belajar mengajar tatap muka. Para guru diminta tidak terlalu fokus pada target kurikulum.
Kepala Dindikbud Kota Tangsel, Taryono mengatakan, saat ini pembelajaran tatap muka ditunda karena kondisi Covid-19 di daerah masih terus bertambah. Dengan begitu, maka pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh baik daring maupun luring.
“Kita tahu banyak keluhan masyarakat juga karna sudah lamanya PJJ (pembelajaran jarak jauh). Terkait kebosanan orang tua mendampingi anak-anaknya, kebutuhan anak-anak belajar secara online,” ujarnya saat dihubungi kemarin.
Karena itu, sambung Taryono, pihaknya meminta guru harus berinovasi dalam memberikan pembelajaran jarak jauhnya. Namun, tetap menyenangkan bagi anak-anak.
“Yang penting bagaimana komunikasi yang menyenangkan. Jangan terlalu fokus pada target kurikulum. Sekarang ini kan malah diberlakukan kurikulum darurat, jadi tidak sepenuhnya dilaksanakan kurikulum 2013, tapi kurikulum darurat dimana hanya materi-materi esensil yang disampaikan di dalam PJJ,” ungkapnya.
Taryono menjelaskan, menciptakan kesenangan yang dimaksud tersebut adalah bagaimana seorang guru bisa menyajikan pembelajaran yang menyenangkan yang tidak menimbulkan kebosanan bagi anak-anak.
Baca Juga: Kemensos Buka Rekrutmen 3.053 PPPK Guru Sekolah Rakyat, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Dia menyampaikan, penundaan pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri (4 Menteri).
Selain itu, penundaan itu juga mengacu pada Surat Edaran Gubernur Banten bernomor 420/2451-Huk/2020 Tentang Penundaan Sekolah Tatap Muka di Provinsi Banten. “Di Provinsi Banten ada edaran dari gubernur, semua dilaksanakan PJJ,” ucapnya.
Dia menuturkan, siswa di Tangsel secara umum 80 persen bisa melaksanakan pembelajaran daring secara efektif. Kemudian 20 persennya dilakukan luring karena terkendala infrastruktur.
Sampai sekarang ini, kata dia, di Tangsel masih ada satu keluarga yang hanya memiliki satu HP. Karena itu, 20 persen itu dilaksanakan secara luring.
“Guru akan datang secara bergantian atau home visit. Guru-guru secara bergiliran anak-anaknya dikunjungi. Anak per anak, jadi person to person, bukan anak-anak dikumpulkan di tempat tertentu itu enggak boleh karena rawan tidak dilaksanakannya prokes,” jelasnya.
Menurut Taryono, PJJ masih efektif dalam KBM. Sebab, dalam PJJ saat guru mengajar meskipun secara daring masih bisa mengukur tingkat kehadiran siswanya.
Baca Juga: Guru Bimbel di Ciputat Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan Anak
“Efektivitas capaian kurikulum katakanlah mencapai target. Anak itu datang hadir tepat waktu atau tidak, berapa banyak yang terlambat, itu kan bagian-bagian dari efektivitas belajar. Itu kami sudah rekap semua berdasarkan informasi dan laporan dari sekolah, 80 persen lah efektif,” pungkasnya. (irm/bnn)
